‘Roots & Routes’: Menelusuri Akar, Membaca Perjalanan

 ‘Roots & Routes’: Menelusuri Akar, Membaca Perjalanan

Karya Shinta Ratnani dalam pameran ‘Roots & Routes’/Foto: ist

DI tengah perkembangan seni rupa kontemporer yang semakin cair dan melampaui batas medium, pameran “Roots & Routes” di Biji Senibudaya (Biji Art Space) menghadirkan ruang refleksi tentang identitas, memori, dan perjalanan manusia.

Berlangsung sejak 3 Mei hingga 2 Juni 2026, pameran ini mempertemukan tiga seniman: Djunaidi Kenyut, Shinta Retnani, dan Boel Vadag.

Alih-alih sekadar menampilkan karya visual, “Roots & Routes” membangun dialog mengenai bagaimana manusia membentuk dan membaca identitasnya.

Melalui pendekatan yang berbeda simbolik, dokumenter, dan puitik ketiga seniman menghadirkan pengalaman artistik yang bergerak di antara akar budaya, pengalaman personal, dan dinamika kehidupan kontemporer.

Dalam praktiknya, Djunaidi Kenyut menghadirkan karya-karya yang berangkat dari simbol kaktus, bentuk visual yang telah lama menjadi bagian penting dalam eksplorasi artistiknya.

Kaktus di sini tidak hadir sebagai ornamen semata, melainkan metafora tentang daya tahan manusia: tentang bagaimana seseorang bertahan di tengah situasi yang keras, asing, bahkan penuh ketidakpastian. Sosok Djunaidi juga tampil sebagai penggerak energi kolektif, membangun ruang kolaborasi yang terbuka dan dinamis.

Tiga seniman: Djunaidi Kenyut, Shinta Retnani, dan Boel Vadag gelar pameran “Roots & Routes” di Biji Senibudaya/Foto: ist

Berbeda dari pendekatan simbolik tersebut, Shinta Retnani membawa pengalaman dokumenter ke dalam ruang seni.

Berangkat dari perjalanan panjangnya merekam kehidupan berbagai komunitas di Indonesia mulai dari Orang Rimba di Sumatra, Korowai di Papua, hingga masyarakat Lamalera di Flores Shinta menghadirkan karya yang bersifat intim sekaligus reflektif.

Melalui fotografi, catatan harian, dan instalasi, ia memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk menyimpan pengalaman, membangun empati, dan membaca realitas sosial secara lebih personal.

Sementara itu, Boel Vadag bergerak melalui pendekatan yang lebih intuitif dan puitik.

Puisi menjadi titik awal dari proses kreatifnya sebelum diterjemahkan ke dalam bentuk visual yang spontan dan emosional. Dalam karya-karyanya, batas antara kesadaran dan intuisi terasa samar, menghadirkan pengalaman visual yang terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsir.

Ketiga pendekatan tersebut bertemu dalam karya kolaboratif berskala besar seperti “Roots Correspondencies” dan “In Between, The Seen and The Unseen.” Dalam karya-karya ini, identitas visual masing-masing seniman tidak lagi berdiri sendiri, melainkan melebur menjadi percakapan visual yang kompleks.

Kolaborasi di sini bukan hanya tentang menggabungkan gaya, tetapi tentang membangun ruang dialog di mana perbedaan justru melahirkan energi kreatif baru.

Secara konseptual, “Roots & Routes” mengangkat dua gagasan utama: akar dan perjalanan.

“Akar” dipahami bukan sebagai sesuatu yang statis atau romantik, melainkan sebagai ingatan yang terus bergerak dan membentuk kesadaran manusia. Sementara “rute” dimaknai sebagai perjalanan hidup sebuah proses pencarian, pilihan, dan persimpangan yang terus mengubah arah kehidupan seseorang.

Melalui pendekatan yang puitik dan reflektif, pameran ini tidak menawarkan narasi yang sepenuhnya linear.

Sebaliknya, karya-karya yang hadir justru menangkap ruang-ruang liminal: jeda, keraguan, fragmen ingatan, hingga kemungkinan masa depan yang belum sepenuhnya terbentuk.

Pengunjung diajak untuk tidak hanya melihat karya, tetapi juga memasuki pengalaman emosional dan mempertanyakan kembali posisi dirinya di antara akar dan perjalanan hidup yang dijalani.

Lebih jauh lagi, “Roots & Routes” juga memperlihatkan bagaimana seni rupa Indonesia hari ini semakin terbuka terhadap praktik lintas medium dan kolaborasi.

Baca Juga:  Alm. Wayan Sujana ”Jedur” Legenda Drama Gong Puspa Anom dari Banyuning

Pertemuan antara pendekatan dokumenter, simbolik, dan puitik dalam satu ruang memperlihatkan pergeseran penting dalam seni kontemporer dari narasi tunggal menuju keberagaman pengalaman dan cara pandang.

Sebagai penutup, pameran ini tidak hadir untuk memberikan jawaban yang pasti.

Sebaliknya, ia membuka kemungkinan-kemungkinan baru dan mengajak publik untuk merenungkan satu pertanyaan sederhana namun mendalam: sejauh mana manusia ditentukan oleh akarnya, dan sejauh mana ia dibentuk oleh perjalanan yang ditempuhnya?

Pameran ini juga menjadi bagian dari langkah yang lebih luas, di mana para seniman dijadwalkan melanjutkan perjalanan artistik mereka ke panggung internasional melalui partisipasi dalam pameran di Mongolia pada Juli 2026 mendatang. [B/I Gede Made Surya Darma]

Related post