May 15, 2021
Kreasi

Bali Puisi Musik Tampil di Antida Sound Garden

Di halaman rumahnya, Antida Sound Garden menghadirkan perpaduan antara Puisi dan Musik, Jumat 6 Maret 2020. Group band yang menamakan diri, Bali Puisi Musik ini memang sering kali melakukan sinergi puisi dengan musik. Melalui sinergi ini mereka berharap puisi yang tadinya dinikmati kalangan terbatas dan tertentu (sastrawan, pecinta sastra, pengamat sastra) dapat menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas.

Sinergi mengandaikan “persenyawaan” antara kedua genre seni untuk lebih berdaya “gedor” untuk mencapai tujuan di atas. “Dalam sinergi puisi maupun musik bukan sub-ordinat satu atas yang lain. Tapi, ibarat proses kimia menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling menguatkan,” ungkap Tan Lioe Ie, pentolan Bali Puisi Musik.



Dari segi tema puisi yang dibawakan Bali Puisi Musik, beragam ada renungan tentang perjalanan hidup manusia, ada tentang “kerinduan” pada “kekasih” yang dapat ditafsirkan bersifat horisontal dan vertikal, sebagaimana sifat puisi yang ambigu, ada kritik sosial, ada kepedulian terhadap lingkungan, ada persaudaraan dalam perbedaan dalam satu kemanusiaan, dan ada tentang pentingnya kasih sayang. Ini bisa dilihat pada puisi Malam di Pantai Candidasa, Siapakah Kau, Exorcism, Malam Cahaya Lampion, Alam Kanak-Kanak, Co Kong Tik.

Semua puisi yang disebutkan ini adalah karya Tan Lioe Ie, penyair yang sekaligus vokalis Bali Puisi Musik, yang diaransemen musiknya oleh Yande Subawa (gitaris) dan dibawakan bersama Made “Dek Ong” Swandayana (Keyboardist), Putu Indrawan(Bassist) Nyoman “Kabe” Gariyasa(Drummer).

Group band ini tampil memukau di halaman Antida Sound Garden dengan membawakan lima buah lagu yang sebelumnya diisi oleh Tan Lioe Ie yang membawakan beberapa puisi dengan menggunakan teknik akustik yang juga tampil dengan membawa enam lagu. “Bali Puisi Musik membawakan dua komposisi baru yaitu ‘Blues Untuk Boni’ karya WS. Redra, dan juga ‘Tuhan Butuh Malaikat Baru’ Karya saya sendiri. Puisi ini saya tuliskan mengingat manusia di bumi ini mulai kehilangan baru ruh kebajikannya. Ego berdasarkan premodialisme semakin mencuat, potensi konflik meninggi. Dan itu tidak elok, sehingga dibutuhkan lebih banyak lagi manusia yang lebih berhati malaikat,” tambahynya.

Bukan cuma Tan Lioe Ie dan Bali Puisi Musik saja yang mengisi panggung Antida Sound Garden, dimeriahkan pula oleh Ayu Winastri seorang penulis cerpen kenamaan Bali. Ada Mira MM. Astra, seorang penyair yang telah merilis sebuah buku Antologi puisi tunggalnya berjudul Pinara Pitu. Acara yang berlangsung selama tiga jam itu dibalut apik oleh Moch Satrio Welang, seorang MC yang juga mencintai sastra, puisi dan cerpen, yang sempat menggagas buku Antologi Puisi bersama yang berjudul “Keranda Emas”. (B/Pranita)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *