November 26, 2021
Agenda

“Blind In Paradise” Performance Art I Gede Made Surya Darma Eksplor Covid-19

Jika ada waktu, kunjungilah pameran seni rupa bertajuk “Sip Setiap Saat” di Santrian Gallery Sanur. Pameran yang menampilkan beragam karya itu, pasti beda dengan lainnya. Sebab, selain memamerkan beragam karya seni itu, para perupa yang tampil juga menyajikan performance art yang merespon karya yang dipajang itu. Sebut saja, I Gede Made Surya Darma. Perupa lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini akan menampilkan performance art berjudul ” Blind In Paradise”. “Saya akan tampil merespons situasi pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini,” katanya disela-sela kegiatan latihan di rumahnya, Banjar Senganan Kawan Kelod, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Selasa 5 Januari 2021.

Blind In Paradise

Surya Darma bakal tampil pada tanggal, 6 Januari 2021 pukul 16.00 Wita bertempat di kolam renang Griya Santrian Hotel Sanur. Dalam performance art kali ini, ia akan menyajikan seni pertunjukan yang sangat menarik. Ide, konsep juga pendukungnya sudah dipersiapkan secara matang. “Dalam performance ini, saya akan berkalaborasikan dengan Kamau Abayomi DJ dari California America, I Putu Purwwangsa Nagara (Wawan Bracuk ) dalang dari Sanggar Seni Kembang Bali, D Jimmy Tedjalaksana (musician dan Founder Virama Music Studio) dan I Kadek Dedy Sumantra Yasa musisi dan juga perupa,” imbuhnya.

Blind In Paradise

Penampilan pria yang sudah biasa melukis sejak kecil itu bakal menampilkan kembali karya performance art yang pernah ia buat di Museum Nasional Bangalore, India pada tanggal 11 sampai 25 November 2011 silam. Karya seni itu disajikan dalam sebuah Festival Performance art International “Dawn-Dusk Live Art 2011”. “Kali ini, saya menyajikan kolaborasi dengan lukisan saya yang berjudul “Pedanda Baka”. Lukisan terinspirasi dari cerita Tantri ini telah dipajang bersama karya seni pulukis lainnya. Kolaborasi ini karenakan adanya kedekatan konsep,” ungkap seniman yang sudah menggelar performance art di China (Xian, Beijing, Cheng Du), Jepang (Tokyo, Yokohama, Nagano), Malaysia, Philippine (Makati), Myanmar, Berlin (Christian Hosp art Gallery) dan Bangalore India.

Blind In Paradise

Putra Ni Ketut Lepus dan I Ketut Suaastika (almarhum) ini mengaku, memilih kolam renang sebagai tempat performance art karena “kejadiannya” sama-sama di dalam air. Ia akan menutupi kolam renang dengan berbagai macam bunga, sebagai simbol dari paradise itu sendiri atau keindahan kehidupan duniawi. Sedangkan lukisan Pedanda Baka dibiarkan mengambang di antara taburan bunga di dalam kolam renang tersebut. “Itu mengandung makna, bahwa kearifan lokal atau cerita rakyat, seperti Pedanda Baka mengandung pesan moral yang bisa dijadikan sesuluh hidup,” ungkapnya.

Blind In Paradise

Surya Darma juga akan menebar print di atas kertas mengenai sejarah virus yang melanda dunia dan dampak yang ditimbulkan, merekonstruksi sejarah virus, sebagai perenungan untuk selalu waspada. Sejarah virus ini akan diprint per tahun satu lembar kertas kemudian dibiarkan mengambang di kolam renang. “Saya akan melantunkan tembang Alas Arum yang biasa dinyanyikan seorang dalang sebelum pementasan cerita pewayangan. Saya ingin memaknai itu sebagai simbol bahwa Tuhan dalam menciptakan alam, diawali getaran atau alunan suara indah yaitu AUM atau OM,” papar ujar pelukis yang sempat berpameran di sejumlah negara seperti Jepang, Jerman, India, Myanmar, Filipina dan Malaysia itu.

Blind In Paradise

Surya Darma mencoba merefleksikan proses penciptaan alam itu dengan melantunkan tembang dan direspons alunan suara gender, gitar, DJ, musik Didgeridoo dan jimbe. Selanjutnya Surya Darma menaburkan bunga ke dalam kolam renang, sebagai simbol makrokosmos. Lukisan Pedanda Baka yang diambangkan di air itu sebagai simbol tatwa dari kearifan cerita Tantri itu sendiri. Ia akan mengambang di permukaan air dengan tebaran bunga dan kertas yang diprint tentang sejarah virus melanda dunia. “Mata saya ditutup sebagai simbol bahwa tidak bisa jelas melihat mana yang benar mana yang salah. Seolah-olah buta dalam kegemerlapan kehidupan duniawi. Dengan adanya situasi dunia yang tidak menentu tersebutlah, saya ingin mengajak audience untuk memaknai kembali kearifan lokal dari cerita tradisional Pedanda Baka, maupun cerita rakyat lokal lainnya, sebagai sesuluh hidup pada era kekinian,” tutupnya. [B/*]

Related Posts