June 30, 2022
Kreasi

Sanggar Eximo Creative Dance Class Garap Fragmentari “Lipia Semaya”

Luka lara dalam hati, berbeda sekali ucapan dengan prilakunya. Tidak sama sekali mempunyai rasa persaudaraan karena dikuasai oleh angkara murka. Hanya mementingkan keuntungan diri sendiri, sehingga saudara pun dijadikan korbannya. Kalau sudah lipia (lupa) apapun yang disepakati atau yang sudah menjadi pedoman itu dilanggar, demi untuk kepentingan diri sendiri. Itulah inti pesan yang ingin disampaikan oleh Sanggar Eximo Creative Dance Class dalam sesolahan sastra (perhelaran) yang ditampilkan secara Ambaralaya (virtual) di YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Senin 15 Pebruari 2021 Pukul 19.00.

Eximo Creative Dance Class

Garapan berbentuk Fragmentari ini mengangkat judul “Lipia Semaya” (ingkar janji). Jangan ingkar janji dalam menjalani kehidupan. Kesanggupan, kesediaan dan kesepakatan yang pernah diucapkan diabaikan bahkan dilanggar begitu saja. “Kami ingin mengingatkan kepada semua orang, jangan pernah “Lipia Semaya” kepada orang lain, saudara terlebih pada diri sendiri,” ungkap Art Director dan Koreografer, Agung Putra Dalem.

Garapan berdurasi 39 menit 58 detik ini mengangkat kisah dua saudara yang bernama Sumantri dan Sukasrana. Walau bersaudara, namun masing-masing memiliki perbedaan yang sangat menjolok. Sumantri merupakan sosok yang berparas tampan dan rupawan, tetapi memiliki sifat yang angkuh dan licik. Sedangkan Sukasrana sosok raksasa kerdil, pendek, tetapi memiliki sifat baik hati dan penyayang. Suasana dalam setiap pemvabakan sangat pas karena didukung musik yang ditata apik oleh Komposer Pasek Wijaya.

Eximo Creative Dance Class

Meski berbentuk fragmentari, tetapi pengarap tidak memaparkan kisah secara detail, namun mengolah cerita itu dalam bentuk-bentuk gerak yang ritmis. Terkadang pula menyajikan simbol-simbol yang dapat mendukung garapan seni tersebut. “Karena ini fragmentari, maka kami lebih banyak mengungkap ceitera itu melalui gerak-gerak tari. Kami juga memakai property untuk memberikan gambaran kepada penonton. Pemilihan busana juga sangat penting, untuk membedakan antara tokoh satu dengan lainnya, disamping untuk memberikan karakter,” kata Agung Putra Dalem.

Eximo Creative Dance Class

Eximo yang merupakan sanggar tari, sehingga lebih mengungkapkan cerita itu melalui seni tari. Tari yang mengadopsi gerak-gerak tari yang sudah ada, namun dikembangkan lagi sesuai dengan kebutuhan garapan. Sebagai bentuk fragementari, tidak banyak mengandung unsur dialog langsung antara penari, namun semua elemen seni pertunjukan itu ada, seperti seni tari, karawitan sebagai iringan untuk memperkuat suasana, dan seni pedalangan yang mempertegas maksud yang ingin disampaikan. “Kami ingin menampilkan pragmentari yang mencangkup musik, drama tari, teater, pewayangan, sehingga ada dialog juga,” paparnya.

Eximo Creative Dance Class

Dalam pemilihan latar, untuk mendukung suasana, garapan Fragementari yang didukung sebanyak 40 orang penari beserta crew itu mengambil lokasi di beberapa tempat, seperti Kali Unda Klungkung, Pura Penataran Klungkung, dan Banjar Pande Mas Kamasan Klungkung. Lokasi itu bukan menjadi tempelan saja, tetapi seakan menyatu dengan garapan itu. “Kami memilih lokasi di Kali Unda karena ingin mencari seting hutan yang ada sungainya. Sedangkan Seting Jaba Pura Penataran untuk lokasi Kerajaan Arjunasastra, sehingga mampu menampilkan kesan agung,” ungkapnya.

Sementara untuk lokasi di Banjar Pande Kamasan dipilih untuk seting panggung yang awalnya menjadi planing dadakan, karena setiap akan take video out door cuaca selalu tidak mendukung atau hujan lebat dan angin. “Walau begitu, hasilnya justru lebih menarik. Tempat ini dapat mendukung setiap adegan dalam setiap pembabakan. Jujur, pemilihan tempat ini juga sebagai upaya untuk mempertkenalkan dan lebih mempromosikan kalau daerah-daerah yang ada di Klungkung ini sangat menarik dan biasa dijadikan sebagai tujuan wisata,” ucapnya. [B/*]

Related Posts