November 28, 2021
Tradisi

Semangat Remaja Putri Ikuti “Krialoka Pengenter Acara Mabasa Bali”

Remaja putri ini penuh semangat. Mereka mengenakan busana adat tampak menikmati dengan penuh bahagia. Apalagi, yang berbicara di depan mereka merupakan orang terpilih menjadi public pigur di dalam membawakan acara. Maka wajar, waktu 3 jam yang diberikan panitia masih saja terasa kurang. “Peserta Krialoka Pengenter Acara Mabasa Bali (workshop Master Ceremony /MC) ini sangat antusias,” kata Dosen Universitas PGRI Mahadewa Denpasar, Dr. Drs. I Nyoman Suwija, M.Hum sebagai narasumber krialoka serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2021 di bawah Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Selasa 16 Februari 2021.

 

Sebagai akademisi sekaligus praktisi bahasa, aksara dan sastra Bali, Dr Suwija menekankan menjadi MC terutama dalam acara resmi seorang MC mampu berbahasa Bali dengan baik dan benar. Apalagi, dipakai dalam situasi formal, acara adat Bali dan agama Hindu maka seorang MC itu mesti memakai Bahasa Bali alus, harus lebih banyak belajar tentang kebenaran bahasa Bali terkait anggah-ungguhing basa. “Peserta yang mendaftar sebanyak 60 orang akhirnya dibatasi menjadi 30 peserta dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat,” ucapnya.

Dalam kegiatan ini, pihaknya lebih banyak menekankan pada skill bahasa. Misalnya intonasi, irama, ucapan bahasa Bali, kosa kata bahasa Bali yang baik dan benar. Termasuk anggah ungguhing basa, serta laval, ucapan bahasa Bali yang benar. “Kami kemudian memberikan contoh naskah MC bahasa Bali yang sudah disusun bagus dengan aksara Bali yang baik dan benar, simpel, dan dapat digunakan dengan baik,” imbuhnya yang saat itu dimodoratori oleh Ayu Putri Suryaningrat SS., M.Hum dari Penyuluh Bahasa Bali.

Krialoka Pengenter Acara Mabasa Bali

Dr. Suwija juga menyinggung tentang tetikes, bagaimana penampilan seorang pembawa acara, karena sudah menjadi public pigur yang memimpin jalannya acara, baik itu acara formal ataupun tidak formal. Seorang MC itu harus tampil sebaik mungkin, enak didengar bahasanya dan enak dipandang saat dia mengolah tubuhnya untuk tampil dihadapan para peserta acara. “Ternyata mereka yang hadir betul-betul yang mempunyai kemampuan. Rata- rata dari peserta itu sudah pernah menjadi MC, baik di sekolahnya, di kampusnya atau di tingkan sekea teruna. Sekarang tinggal diberi tambahan motivasi untuk berlatih. Kunci sebuah keterampilan itu, harus banyak berlatih,” bebernya.

Sementara itu, Praktisi Public Speaking Putu Suprapti Santy Sastra menyampaikan materi tentang teknik-teknik atau bagaimana practis untuk menjadi seorang MC, termasuk body language atau bahasa tubuh, suara, dan bagaimana persyaratan menjadi seorang MC atau pembawa acara yang profesional. “Kami senang, tanggapan dari para peserta sangat bagus dan antosias. Mereka mengikuti dengan baik. Artinya, keinginana anak-anak muda untuk belajar menjadi MC profesional sangat tinggi,” ucap wanita yang sudah menggeluti dunia MC sejak 1986 itu,

Dari sekian peserta itu, bahkan sudah yang menjadi MC, presenter, dan sudah biasa menjadi pembicara. Itu artinya, mereka mau mengasah dan menimba ilmu lagi, sehingga sebagai narasumber dirinya sangat senang. “Sangat luar biasa. Para peserta sangat antusias. Saya mendengar dari panitia, bahwa peserta sampai melampaui kuota, sehingga dibatasi. Kami ucapkan terima kasih kepada semua peserta dan panitia,” ucapnya.

Guru khusus mengajar MC, penyiar dan presenter sejak 2004 itu mengatakan, modal utama menjadi seorang MC itu adalah bakat, sehingga gampang untuk dipoles, dan langsung jadi. Tetapi, dari pengalaman-pengalamannya mengajar bukan hanya masalah bakat yang diperlukan, tetapi ketekunan untuk mau menjadi MC dijadikan profesi. “Perlu dilatih lagi, karena tidak mungkin akan setengah hari ini, para peserta itu langsung bisa menjadi seorang MC profesional,” imbuhnya.

Keuntungan menjadi seorang MC, kalau dia masih menjadi murid atau mahasiswa, maka akan menjadi nilai lebih (plus), selanjutnya akan menjadikan profesi yang profesional yang menjanjikan. Kalau dia menjadi seorang karyawati atau karyawan mereka akan mendapatkan poin lebih dari perusahaan, karena dianggap memiliki keterampilan yang lebih. Jadi jenjang karirnya akan lebih bagus dan lebih cepat naik. “Paling penting bukan hanya menjadi MC karena akan sangat mudah, tetapi untuk menjadi eksistensi kelanggengan menjadi seorang MC yang bisa diukur dari berapa lama menjadi seorang MC, itu yang sulit,” tandasnya. [B/*]

Related Posts