November 28, 2021
Tradisi

“Usadha” Bermanfaat Bagi Kehidupan Sehari-hari

Dulu, para leluhur mamanfaatkan rempah-rempah sebagai cara untuk menjaga kesehatan juga berfungsi untuk pengobatan. Hal ini mereka percayai berdasarkan usadha Bali yang memang kaya manfaat. Bahan dari alam, seperti daun, bunga, babakan (kulit luar pohon) hingga bebungkilan menjadi bahan obat- obatan yang manjur. Lantas, sadarkah masyarakat krama Bali menjaga kelestarian aneka tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi kesehatan?

Itulah yang menjadi topik perbincangan menarik dalam Widyatula (seminar) serangkaian Bulan Bahasa Bali ke-3, pada Selasa 23 Februari 2021. Semibar yang mengambil tema “Usadhikanda: Kawigunan Usadha Bali Sajeroning Kauripan Sadina-Dina” berlangsung secara Dalam Jaringan (Daring). Pesertanya, melibatkan para praktisi, media , mahasiswa dan umum.

Usadha

Sementara, hadir sebagai narasumber Drs. Ida Bagus Bajra, M.Si” dengan materi Usadha Bali, Ida Bagus Putra Manik Aryana, S.S., M.Si membawakan materi Warga Sanak Catur Bebungkilan Ajengan Bali Maguna Usadha dan I Putu Suweka Oka Sugiharta, M.Pd., Cht dengan materi Upon-Upon Usada Bali ring Pambiaran. Widyatula ini berlangsung tiga jam dimoderatori Luh Yesi Candrika, seorang penyuluh bahasa Bali.

IB Manik Aryana yang juga Dosen Undiksa membeberkan khasiat umbi umbian atau bebungkilan, seperti jahe, kencur digunakan bisa untuk mengobati cacingan, kunyit untuk antiseptik dan kejang kejang dan sebagainya. Rempah-rempah begitu banyak memiliki kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan. Berdasarkan catatan usadha kita luar biasa. Namun tak sedikit yang kecolongan , karena pengetahuan dan teknologi, kita dikalahkan negara maju. Justru rempah-rempah dimanfaatkan dunia farmasi luar negeri menjadi produk mahal. “Ingat penjajahan dilakukan bangsa asing ke nusantara, karena mereka mencari rempah-rempah kita, yang dijadikan bahan obat,” ucapnya memgingatkan.

Setelah dilakukan peracikan menjadi bahan obat bagi dunia kesehatan, lantas dijual mahal di apotek. Ia kemudian mencontohkan khasiat daun kelor yang sekarang sudah beredar dalam bentuk tablet. “Bahanya dari alam kita, lantas dikemas menjadi obat, lalu kita beli kembali di apotek dengan harga yang mahal,” katanya serius

IB Manik Aryana kemudian memberikan catatan kenapa kasus Covid terus meningkat. Diawal berita Covid di Bali justru sangat minim, padahal banyak wisatawan dari China berlibur ke Bali. Ia menduga saat ini banyak orang semakin stres, semakin cemas, akibat situasi pandemi, banyak berita yang masuk, sehingga imun bisa menjai turun, kondisi ini berakibat fatal. “Orang banyak stres, cemas ketakutan berlebihan, sehingga imun menurun, ini berbahaya banyak kasus Covid berujung kematian,” ujarnya.

Demikian halnya, Ida Bagus Bajra yang akademisi Universitas Indonesiia (Unhi ) Denpasar ini mengungkapkan, dalam Usadha Bali banyak menyinggung soal berbagai tumbuh-tumbuhan berkhasiat yang menyembuhkan berbagai penyakit. Ia juga membeberkan bagaimana seorang balian mempraktekan Usadha Bali. “Balian itu ada istilah balian pengiwa, balian kepicain, balian usadha ada juga balian campuran. Namun, seorang balian harus mengetahui kondisi pasien yang akan disembuhkan, bukan asal pengobatan saja,” ujarnya.

Menurutnya, sebelum balian mengobati, mereka harus memgetahui empat hal, yaitu bagaimana ciri-ciri orang yang sakit, mengetahui sumber penyakit, nama penyakit dan menganalisa dengan baik. “Seorang balian jangan asal mengobati, nanti berakibat fatal jangan gegabah menilai penyakit pasien. Jadi harus memahami Asta Roga Pariksa, delapan hal menilai kondisi badan seseorang yang sedang sakit, sehingga seorang balian tidak gagal dalam mengobati, ” jelas IB Bajra.

Konsep hidup, lanjut Ida Bagus Bajra, adalah hidup perlu makan, sakit perlu obat. “Apapun penyakitnya pasti ada obatnya, dalam usadha sudah menerangkan jenis penyakit, apakah dengan memberi boreh (lulur), uap, tutuh, simbuh dan sebagainya. Begitupula secara niskala, seseorang yang sakit sudah dibawa sejak kelahiran, jenis penyakitnya ada, harus dilakukan penyembuhan secara teknik tertentu, ” paparnya.

Dalam Usadha banyak jenis penyakit yang bisa diobati, misalnya penyakit kecing manis dan hepatitis, itu tidak memiliki keturunan. “Pada intinya bila diobati dengan tepat, semua penyakit secara bertahap bisa sembuh normal,” tegasnya.

Sedangkan Oka Sugiharta, Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa mempertanyakan apakah Usadha sudah mengalami kepunahan? Hal ini memurutnya, melihat fenomena kelestarian alam yang semakin terancam. “Alam yang rusak akan mengancam berbagai aneka tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat hidup disana. Kalau tunbuhan sudah punah, maka obat pun tiada,” terangnya.

Oka Sugiharta mencontohkan, seorang pendeta di zaman dahulu, seperti Mpu Kuturan, Rsi Markandya yang memberlakukan hutan dengan hati-hati. Kalau masuk hutan tidak sembarangan, karena para pandita sadar dan sangat menghargai hutan, memiliki fungsi penting dalam kehidupan umat manusia. “Disana tumbuh berbagai tanaman langka yang berguna bagi dunia pengobatan. Lantas bagaimana dengan kondisi hutan kita saat ini, apakah masih lestari,” tanyanya kembali.

Karena itu, dalam widyatula ini ada banyak pengetahuan pentingnya pelestarian tentang pengobatan usadha yang diungkap. Termasuk dalam Widyatula dalam rangkaian Bulan Bahasan Bali ini, mengangkat enam topik yakni Kalimosaddha, Widyosadha, Sastra Panaweng Gering, Usadhi Pranawa, Usadhikanda dan Dharma Usadha. Hal itu sesuai dengan tema Bulan Bahasa Bali tahun ini yaitu “Wana Kerthi: Sabdaning Taru Mahottama” yang bermakna Bulan Bahasa Bali sebagai Altar Pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali Tertaut Jelajah Pemaknaan Hutan sebagai Prana Kehidupan. [B/*]

Related Posts