November 26, 2021
Ulasan

I Wayan Gede Arnawa, Beri Bekal Hidup Anak-anak di Jaman Now

Lingkungan seni memberikan andil bersar terhadap tumbuhnya generasi-generasi baru yang akan melanjutkan kelangsungan seni yang ada di lingkungan itu sendiri. Hidup dan bergaul dengan para seniman, dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Sebut saja, I Wayan Gede Arnawa, seniman karawitan yang di Banjar Bindu, Desa Mekar Bhuana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Desa kelahirannya itu merupakan daerah seni yang memiliki Drama Gong Putra Jenggala dengan tokoh I Wayan Lodra dan I Gst Putu Mungkreg (Gangsar). Desa Adat Bindu juga terkenal dengan kesenian Janger dan gamelan gong kebyar yang biasa tampil dalam ngayah, acara pemerintahan dan pariwisata.

Semua kegiatan itu, memberinya inspirasi untuk mencintai kesenian Bali. Karena itu, sejak kecil ia sudah biasa memainkan gamelan hingga menjadikannya hobi. Namun, ia tidak ingin menjadikan hobi itu sebagai pekerjaan utama. melainkan sebagai jalan untuk dapat bersosialisasi, disamping untuk melestarikan kesenian warisah leluhur yang adi luhung. “Saya memang senang dan biasa memainkan, tetapi sebagai anak petani, saya bercita-cita sebagai pekerja kantoran, Pegawai negeri Sipil (PNS), sehingga dapat memperbaiki ekonomi keluarga,” papar penuh semangat.

I Wayan Gede Arnawa

Sosok seniman karawitan yang akrab disapa Yande Arnawa memang piawai memainkan berbagai jenis gamelan Bali. Sejak kelas III SD, ia sudah biasa ikut memainkan gamelan bersama penabuh tua. Awalnya hanya milu-milu tuwung (hanya ikut-ikutan) saja, namun itu dapat memberinya pengalaman yang menarik. Semua kejadian indah itu terekam, sehingga tertarik untuk bisa memainkan gamelan. Sebagai anak-anak desa, ia bersama anak-anak lainnya kemudian belajar megamel yang dilatih oleh para penabuh senior di desa asri itu. “Saya beryukurnya, para penabuh tua itu mau membagi pengalamannya,” ucapnya senang.

Pria kelahiran Badung, 20 Juli 1970 itu memiliki keinginan besar untuk bisa memainkan bilah-bilah gamelan dari kerawang itu. Ia bersama teman-teman tidak memiliki jadwal latihan yang pasti untuk berlatih. Mereka hanya berlatih, ketika sekeha gong banjar itu ngayah atau pentas. Artinya, Yande ngayah sambil belajar. Kalaupun ada latihan serius, itu karena akan ada kegiatan di banjar. Semangat anak-nak Banjar Bindu itu memang diajungi jempul, sehingga sempat membentuk sekaa gong anak-anak yang sering ngayah megamel.

Saat anak-anak dulu, ia memang sibuk dengan urusan seni, namun tetap memiliki tanggung jawab sebagai siswa. Waktu belajarnya yang pasti. Walau tidak menjadi yang terbaik, paling tidak bisa mengikuti teman. Masa anak-anaknya juga tak terlewatkan. Ia bersama teman-temanya bermain di sawah sambiol membantu orang tua. Aktivitas sawah biasa dilakukannya, sehingga istilah petani dalam mengolah tanah sawahnya masih diingatnya dengan baik. “Saya bersama teman-teman biasa melakukan permainan tradisional di sawah,” akunya.

Walau sebagai siswa yang berpenampilan rapi dan bersih, namun ia selalu membantu orang tua yang selalu dekat dengan lumpur. Setelah datang dari sekolah, sebagai anak desa yang kurang mampu ia dituntut memiliki tanggung jawab untuk bisa meringankan beban orang tua. Tidak ada rasa malu, untuk memilihara itik dan sapi. Sambil nganggon (mengembalakan) sapi, itu mereka mengisinya dengan bermain. Memang, anak-anak di jaman itu lebih banyak bermain di sawah, bukan di rumah melulu.

Nah di sela-sela kegemarannya bermain, Yande juga selalu meluangkan waktunya untuk berkesenian. Bahklan, khusus untuk memainkan gamelan ia seakan memiliki waktu lebih. Demikian pula di sekolahnya, ia selalu memiliki waktu untuk memainkan gamelan. Ia aktif megamel ketika menjadi siswa Sekolah Dasar (SD) dan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pandawa Mambal. Berbekal dari pengalaman itu, ia kemudian mengasah talenta itu hingga bersekolah di SMKI (KOKAR). Aktivitas berkeseniannya semakin menjadi. Ngayah dan pentas bersama sekolah dan lainnya semakin sering dilakukannya, sehingga ilmu berkeseniannya terus bertambah.

Setelah tamat, lalu melanjutkan ke STSI (ISI sekarang). Ia kemudian tamat STSI pada tahun 1990, lalu ngonor di Dinas Kebudayaan, Kabupaten Badung mulai tahun 1998, dan diangkat menjadi PNS sejak tahun 2007 “Saya tegaskan lagi, melakukan hobi itu dengan serius, sehingga menjadi professional. Nah, seni itu kemudian menjadi kendaraan untuk bisa mewujudkan cita-cita bekerja di kantoran,” bebernya senang.

Artinya, ia tidak langsung diterima menjadi pegawai honor begitu saja, namun melalui prose panjang. Itu karena memiliki kemampuan khususnya dalam menggarap seni karawitan. Awalnya, rajin membantu para penggarap senior dalam menuangkan karya baru kepada para penabuh duta Kabupaten Badung dalam ajang PKB. Lama-lama diberikan kesempatan menggarap sendiri sejak tahun 1994, sehingga banyak karya yang sudah lahir darinya.”Saya lupa menghitungnya. Yang pasti, tak hanya menggarap untuk gamelan gong kebyar saja, tetapi juga jenis gamelan lain, seperti Angklung, Semarandhana dan Bleganjur,” ujarnya.

Setiap garapan itu temanya berbeda-beda yang disesuaikan dengan tema event yang diikuti. Idenya bisa dari alam, kehidupan masyarakat ataupun trend-trend yang ada di jaman ini. “Kalau pentas di Bali, sudah tak terhitung. Demikian pula di luar daerah Bali. Tetapi, kalau di luar negeri itu masih tercatat di memori, seperti pentas di India ketika menjadi mahasiswa. Sedangkan ketika pentas di Amerika, Eropa, Jepang, China dan Thailand ketika sudah menjadi pegawai di Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung,” paparnya.

Sekarang ini, suami dari Ni Nyoman Sariningsih sibuk menularkan seni kepada anak-anak. Ia mencoba memberikan pengalaman yang pernah dialami saat anak-anak dulu, kepada generasi sekarang. Ia mengumpulkan anak-anak desa untuk belajar memainkan gamelan gender wayang. Anak-anak yang berjumlah puluhan itu lalu dikumpulkan lalu dibuatkan sebuah organisasi seni berupa Sanggar Seni Sri Kembang. Anak-anak sanggar ini melakukan latihan setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Ia tidak pernah membatasi asal mereka. Memang dominan diikuti oleh anak-anak dari Kabupaten Badung, tetapi ada pula dari Ubud, Denpasar dan Tabanan.

Alasan ayah dari Ni Putu Asri Karang dan I Made Ardana Karang ini melatih anak-anak sangat simpel. Ia tidak ingin berada pada tatanan teori saja dalam melestarikan seni budaya Bali. Ia harus berbuat, sehingga ada hasilnya. Ia ingin memberikan bekal hidup kepada anak-anak di jaman sekarang ini. Mesti nantinya tidak menjadi seniman, tetapi paling tidak bisa dimanfaatkan dimana mereka berada. “dan yang pasti, kegiatan seni ini juga mendukung Desa Bindu sebagai desa wisata,” tutupnya. [B/*]

Related Posts