November 30, 2021
Pernik

Nyoman Sujana Kenyem Berekplorasi dan Berpameran di Masa Pandemi

Perupa Nyoman Sujana Kenyem memiliki cara berekspresi unik dalam menyikapi masa pandemi yang tak kunjung berakhir ini. Ia menghasilkan karya seni rupa sebanyak 24 kanvas terbentang dalam waktu 24 jam. Karya itu ia kerjakan dalam project “Living Gallery 24 Hours Komaneka Fine Art Gallery” pada 9 September 2021. Cara berkarya yang kreatif dan sangat menarik itu, menjadi perhatian publik, utamanya seniman, penghobi seni dan para pecinta seni khususnya bidang seni kriya.

Semua karya itu diselesaikan di dalam gallery, bukan mendatangi objek seperti yang biasa ia lakukan sebelum pandemi. Hal itu sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam menerapkan PPKM untuk mencepah penularan Covid-19. Ide-ide dan tema ia selesaikan di dalam ruang pameran di Komaneka Fine Art Gallery Ubud. Ia mulai menggores pukul 10.00 Wita hingga pukul 24.00 Wita. Kemudian dilanjutkan keesokan harinya mulai pukul 05.00 Wita hingga pukul 15.00 Wita.

.

Semua hasil karya itu kemudian dipajang dan disajikan kepada para pecinta seni hingga 30 September 2021. “Berkarya di masa pandemi sama sebelum pandemi sebernarnya tidak ada perbedaannya, hanya saja di saat pandemi saya mengurangai ke luar ruangan. Untuk eksplor lebih banyak distudio,” papar seniman yang akrab disapa Kenyem ini.

Kenyem yang jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini membiarkan ladang-ladang merumuskan musimnya sendiri. Menata ulang skena dan komposisi. Kanvas-kanvas itu sebagai ladangnya, sehingga digarap, diolah, dicangkul, ditanam, dipupuk, dikasihi dengan sepenuh hati. Ia sangat menikmati proses dalam berkarya itu. Entah itu menjadi ‘bunga atau buah’ atau lainnya yang pada akhirnya menitip pada detak nadi semesta. Ia selalu dan sangat percaya kepada semesta sejak sejak dulu. “Idenya, seperti ladang kering yang sedang kena wabah,” ungkapnya.

Kenyem menginterprestasikan kanvas-kanvas itu sebagai ladang yang harus diolah menjadi sebuah karya disaat masa pandemi ini. Ia hanya bercerita dari apa yang ia dengar pagi itu, kemampuan perupa dalam menyerap, menimbang dengan rasa. Sekali lagi pertiwimba, pesan, pertanda dari pertiwi bunda semesta, seperti lapis-lapis warna dalam karya Kenyem yang ia anggap sederhana, dan semua itulah yang akan hadir dalam pameran kali ini.

Dalam berkarya, Kenyem seperti petani yang fokus menggarap lahan sawahnya. “Saya berkarya seperti orang mencocok tanam, mecangkul, menanam, memberi pupuk, sampai menghasilkan, seperti itulah proses saya menggarap karya dengan waktu 24 jam. Barangkali saja di kanvas-kanvas itu terselip doa, semoga semesta lekas pulih atau kita yang lebih harus lekas berbenah?” tanya Kenyem dengan suara datar. [B/*]

Related Posts