January 22, 2022
Kreasi

“Sang Kala Corona” Tontonan Wayang Inovatif Sebagai Tuntunan

Menyaksikan pertunjukan wayang satu ini, sungguh menghibur. Namun, dibalik itu terkandung nilai-nilai perndikan morel, etika dan edukasi. Tokoh-tokohnya boleh jadi seperti perunjukan wayang tradisional, seperti biasanya, tetapi kisah yang diangkat cukup unik, sehingga menjadi sajian seni yang sangat menarik. Tokoh dalam pewayangan dipadu dengan pigur dalam kehidupan keseharian, sehingga tontonan ini sekaligus menjadi tuntunan hidup khususnya dalam menjalani kehidpan di masa pandemi ini. Judul yang diangkat cukup menggelitik, yakni “Sang Kala Corona”. “Kami sengaja mengkemas menjadi Wayang Inovatif Sebagai Sarana Edukasi Pencegahan Penyebaran Covid-19,” ujar I Kadek Widnyana, SSP.M.Si.

“Sang Kala Corona” dipentaskan di Geria Sakti Telaga Dalem Kerobokan Kaja Badung, pada tanggal 2 Oktober 2021 sebagai bagian dari Desiminasi kepada masyarakat. Pertunjukan seni wayang ini mengundang respon yang sanfat positif. Dalam penggarapan Wayang Inovatif ini, I Kadek Widnyana, SSP., M.Si yang selaku penggarap sekaligus Ketua Desiminasi, didukung oleh Ni Komang Sekar Marhaeni, SP.,M.Si sebagai anggota dengan Tim Lapangan, yaitu I Made Pasek Ari Dwipayana dan I Putu Gede Budi Danaswara. Sementara penata iringan I Wayan Ardana, S.Sn., dan Ida Bagus Gede Jaya Dwija Putra. Sedangkan pendukung dari Mahasiswa Pedalangan, Tari, dan TV Film ISI Denpasar, dan Sekaa Wayang Calonarang Geriya Sakti Telaga, Banjar Jambe Kerobokan.

Kadek Widnyana yang merupakan Dosen Seni Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar memang memiliki cara unik untuk mengedukasi masyarakat dalam menjalani hidup di masa pandemic. Melalui kelihaiannya memainkan wayang, ia mengarap pertunjukan seni Wayang Inovatif. Penyajiannya tak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan, khususnya dalam melakukan pencegahan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Apalagi, tokoh punakawan yang lugas menjelaskan berbagai hal dalam menjalani tatanan kehidupan era baru ini. “Fenomena Covid-19 yang menjadi kinerja berat pemerintah saat ini, menggugah saya sekaligus memberi ide untuk ikut membantu program pemerintah dalam memerangi bahaya Covid-19,” paparnya.

Sang Kala Corona

Sebab sebagai seorang seniman, maka semua itu dilakukan melalui pertunjukan wayang inovatif, yaitu mengapresiasi dan mengimplementasikan himbauan pemerintah dengan kreativitas seni pewayangan. “Melalui seni pertunjukan wayang inovatif yang berjudul “Sang Kala Corona”, saya ikut berpartisipasi mensosialisasikan program dan himbauan pemerintah tentang pencegahan dan penyebaran Covid-19 untuk memutus mata rantai penularannya,” papar seniman dalang yang piawai menari ini.

Virus Corona digambarkan seorang tokoh Raksasa yang menyeramkan, memiliki mulut lebar, mata besar dan tubuh yang sebesar gunung. Raksasa itu selalu mengintai masyarakat yang tidak taak terhadap Prokes. Jika masyarakat lengah terhadap prokes, raksasa langsung memakan dengan taringnya yang tajam. Dalam penyajian wayang ini, tidak hanya memainkan boneka dua dimensi, tetapi juga memadukan dengan tokoh dokter, kepala desa yang diperankan oleh para seniman. Maka itu, dalam pertunjukan ada tokoh Kepala Desa, istri dan 2 abdinya yang sedang berdiskusi tentang Virus Corona. Ada pula tokoh dokter dari intansi pemerintah.

Seni pertunjukan wayang kulit merupakan kesenian adiluhung, di dalamnya banyak memiliki nilai tuntunan dan tontonan. Fungsi wayang kulit sangatlah kompleks dan selalu eksis dalam situasi/zaman apapun. Salah satu fungsinya adalah memberikan tuntunan melalui tontonan dalam pembentukan karakter manusia sekaligus meng-komunikasikan nilai-nilai pendidikan universal yang tersirat dalam narasi pertunjukannya.

Sang Kala Corona

Widnyana menegaskan, pertunjukan Wayang Inovatif Sang Kala Corona diharapkan dapat mengedukasi masyarakat untuk melaksanakan semua himbauan pemerintah dan mampu memilah-milah keabsahan berita yang muncul di media sosial. Karena itu, dalam proses karya pedalangan ini, ia memotivasi diri dengan fenomena yang ada di masyarakat untuk mendapatkan ide atau gagasan baru yang original. “Dengan begitu, unsur-unsur yang pembentuk karya ini dapat menyatu dalam satu kesatuan yang harmonis,” ucapnya.

Dalam mewujudkan Wayang Inovatif “Sang Kala Corona” ini, Widnyana mempertimbangkan aspek-aspek keutuhan, kesederhanaan, kerumitan, dan kesungguhan untuk memenuhi tujuan estetis. Aktivitas penciptaan diterapkan melalui proses dengan meminjam pendapatnya Alma M. Hawkin yang menggunakan tiga tahapan atau metode yaitu: eksplorasi, improvisasi, dan forming. “Tujuan karya ini pada dasarnya selain untuk mengekspresikan sebuah gagasan baru untuk menambah keragaman jenis wayang Kulit Bali, juga sebagai bentuk kreativitas dan apresiasi penggarap terhadap fenomena sosial sebagai sebuah kegiatan positif,” bebernya. [B/*]

Related Posts