November 30, 2021
Kreasi

Teater Selem Putih dengan “Cut Cat Cit”

Kelihaian para pemain Teater Selem Putih dalam pentas drama pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III, benar-benar terbukti. Teater dari Bali Utara itu seakan menghipnotis para penonton dengan acting, dialog dan penciptaan suasana dalm setiap adegan. Pengunjung festival baik yang menyaksikan secara langsung ataupun melalui You Tube Dinas Provinsi Bali seakan hanyut dalam suasana pentas yang berlangsung pada Senin, 25 Oktober 2021 malam. Mereka tampil secara bebas, mengekpresikan tema drama yang dibingkai dengan judul “Cut Cat Cit”.

Dengan kemampuannya brakting, para pemain drama itu mampu menyulap Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar Provinsi Bali sebagai tempat pentasnya menjadi beda. Penataan panggung, lighting dan pendukung drama itu begitu lihai dalam memainkian perannya. Drama yang disutradarai Putu Satria Kusuma itu mengangkat kisah burung Jalak Bali bernama Cut Cat Cit yang berasal dari Bali Selatan. Perdebatan sekawanan burung hutan yang tidak memunyai rumah lagi karena hutan telah gundul menjadi protes pertunjukan drama berdurasai sekitar 2 jam itu.

Dikisahkan, orang tua itu melepas burung yang dipeliharanya dalam sangkar. Dulu, burung yang diberi nama Cut Cat Cit itu ditangkap di hutan Bali Barat. Kini, ia merasa bersalah telah mengambil kebebasan burung itu dari rumah alamnya. Ia merasa burung itu tidak bisa bersuara bagus dan berkembang biak secara alami serta memakan apa yang seharusnya dimakan agar ekosistem alam seimbang. Burung itu pun dikeluarkan dari sarangnya. Burung senang. Terbang bebas. Dengan kemampuan bermain drama, Putu Satria yang juga memerankan orang tua terkadang memberikan kritik dengan kata-kata ataupun adegan.

Teater Selem Putih

Tapi, kemudian burung itu kembali menemui orang tua itu. Burung bertanya dimana dia dulu ditangkap. Ia ingin hidup disana. Burung mengaku tak bisa hidup di pohon di jalan jalan karena pohon itu sudah ada burung. Lagipula hidup di kota sudah banyak polusi. Orangtua itu menunjuk hutan asalnya. Burung kembali terbang tapi kembali menemui orang tua. Ia mengaku. Pohon pohon hutan sudah banyak dicuri. Ia kehilangan pohonnya, tempat keluarganya tinggal. Ia bertanya haruskah ia pindah ke negara lain yang masih memelihara hutannya dengan baik.

Dengan nada halus, namun berisi, orangtua itu menjelaskan. Memang masih ada pencurian hutan. Tapi kesadaran mulai ditumbuhkan agar hutan dijaga karena sumber air dan kehidupan aneka satwa. Burung sedih dan terbang tanpa arah. Ikut ngumpul sesama burung. Mereka saling menyapa. Bercerita nasibnya dan nasib hutan yang masih dicuri dan dibuangi sampah plastik.

Dalam kesedihannya burung Cut Cat Cit bertemu burung betina. Mereka jatuh cinta. Kawin dan hidup di hutan pinggir kota. Burung betina bertelur dan mengeraminya. Burung jantan memberi oleh-oleh makanan berupa ulat. Suatu kali si jantan tidak pulang. Si betina mencari. Burung jantan tertembak mati. Si betina sedih. Burung jantan mengatakan ada manusia membawa senapa angin menembaknya. Bukan untuk dimakan. Tapi hanya sebagai hobi. Betina sedih. Ia tak bisa hidup tanpa suami. Ia ingin ikut mati bersama suaminya. Ia pun terbang. Menemui manusia yg menembak itu.

Burung betina marah dan minta ditembak agar ia mati bersama jantannya. Si penembak ketakutan. Lalu lari. Datang arwah burung jantan. Ia minta terimalah hidup ini walau kejam. Berusaha menjadi yang terbaik mengisi hidup. Ia minta agar telurnya dierami dengan baik. Berikan cinta. Diharapkan kelak jika semua telur menetas jadi burung yang bersuara merdu agar kehidupan makin indah. Agar kesadaran manusia melestarikan alam dan hutan makin terbuka. [B/*]

Related Posts