Ni Ketut Suryatini, Seniman Karawitan Buktikan Wanita juga Piawai Megamel

 Ni Ketut Suryatini, Seniman Karawitan Buktikan Wanita juga Piawai Megamel

Ni Ketut Suryatini, seniman karawitan yang memiliki segudang pengalama dan prestasi.

Penggiat seni, khususnya karawitan pasti tahu Ni Ketut Suryatini. Sosok seniman karawitan kelahiran 29 April ini memang memiliki pengalaman panjang dalam dunia seni itu. Ia dikenal sebagai seorang panabuh serta pencipta tabuh yang handal. Meski berlatar seorang wanita, namun kecintaan serta ketekunannya pada seni gamelan tradisional Bali mampu menorehkan berbagai prestasi. Penghargaan terbaru yang diterima Suryatini, yaitu Adi Sewaka Nugraha serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 tahun 2022 dari Pemerintah Provinsi Bali.

Dikutif dari Profil Penerima Adi Sewaka Nugraha Pemerintah Provinsi Bali Dinas Kebudayaan 2022, Suryatini sebagai seorang seniman karawitan perempuan yang memiliki kontribusi besar dalam pembentukan Gong Kebyar Puspa Sari, sebuah sekaa gong kebyar wanita pertama yang hadir di tahun 1975. Kelahiran sekaa gong kebyar wanita itu, akhirnya menginspirasi lahirnya sekaa-sekaa gong kebyar wanita lainnya. Semua itu berkat kegigihan Suryatini mengembangkan seni karawitan dalam lingkungan perempuan.

Istri I Wayan Teller ini dikenal banyak berkontribusi dalam lahirnya sekaa-sekaa karawitan wanita di Bali. Salah satunya yang masih lekat diingatanya, yakni sebagai penabuh gender wanita pertama yang mengiringi pementasan wayang kulit. Ia juga membentuk grup penabuh wanita “Asti Pertiwi ” di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada tahun 2006. Semua itu, tentu menjadi pemantik para wanita untuk berani tampil menabuh gamelan dalam rangka melestarikan seni budaya sejajar dengan laki-laki.

Dalam berkreativitas berkesenian, Suryatini telah melahirkan berbagai karya seni, salah satunya Cak Inovasi “Sekar Sandat”. Sekaa cak ini didukung oleh pemain wanita, yakni tabuh “Kumbang Atarung”. Disamping itu, ia juga aktif menggarap beragam karya dolanan yang disajikan dalam lomba ataupun parade gong kebyar, seperti; mececimpedan, mekedis-kedisan, bede, wayang-wayangan, menek gunung, mepade-padean, mesiap-siapan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Baca Juga:  Ekspresi Seni di Denpasar Festival Ke-14, Ebano Bali Sajikan Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung
Ni Ketut Suryatini
Ni Ketut Suryatini selalu memiliki waktu untuk menurunkan ilmu seni kepada generasi muda.

Selain sebagai seorang seniman, Ibu dari dua orang anak ini juga masih aktif sebagai dosen (pengajar) di ISI Denpasar. Pengalaman berkesenian, bahkan membawanya hingga di tingkat nasional dan internasional. Ia telah tampil dalam Festival Kesenian Indonesia di Surabaya dengan membawakan karya musik berjudul “Kalisengara”. Berbagai negara yang telah ia kunjungi guna berkesenian diantaranya: mengajar Cak di Wesleyan University (2000), mengiringi Tari di Peru (2013), Promosi seni budaya di Cina (2013), dan yang lain.

Kontribusinya dibidang seni selama ini telah memberinya banyak penghargaan. Suryatini telah menerima penghargaan Kerti Budaya dari Kabupaten Badung (2004), penghargaan sebagai seniman, pembina, dan pengamat di berbagai festival gong kebyar pada gelaran Pesta Kesenian Bali kurun waktu 2006-2019, penghargaan sebagai penabuh alat musik masal dalam rangka Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 68 tahun 2013, dan penghargaan sebagai pencipta karya seni di event RITECH EXPO dalam rangka Hakteknas ke 24 tahun 2019.

Apa yang telah dilakukan Suryatini selama ini, merupakan bukti bahwa pria dan wanita memiliki kedudukan yang setara di bidang seni, khususnya seni karawitan. Karena baginya melestarikan seni dan budaya Bali merupakan tugas dan tanggung jawab setiap orang. Suryatini terkenal sebagai seniman yang gigih teguh dalam membina, melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali tanpa mengenal lelah dan putus asa [B]

Artikel Terkait