I Nyoman Geguh Garap dan Pentaskan Lebih dari 14 Judul Penyalonarangan

 I Nyoman Geguh Garap dan Pentaskan Lebih dari 14 Judul Penyalonarangan

Di kalangan seniman atau pecinta seni, nama I Nyoman Geguh atau yang akrab disapa Man Guh sudah tidak asing lagi. Ia merupakan salah satu sesepuh tari di Kota Denpasar. Dalam seni petunjukan, ia terkenal sebagai penari topeng dan calonarang. Kepiawaiannya menari serta memahami makna dan filosofi dari seni itu, maka ia didapuk menjadi seorang konsultan seni di Kota Denpasar. Diusianya semakin uzur, Man Guh masih aktif sebagai seorang penari Topeng Pajeg, dan aktif sebagai sutradara dan pemain dalam penyalonarangan.

Seniman tari kelahiran Banjar Kedaton, Denpasar, 31 Desember 1953 ini memiliki keturunan darah seni dari seniman dan merupakan salah satu sesepuh tari di Kota Denpasar. Ia memiliki kegemaran menari sejak tahun 1964. Ia pertama kali belajar menari dari kakak kandungnya yang bernama Gde Sukraka. Meskipun masih tetap menggeluti dunia seni tari, namun setelah dewasa, ia memilih sekolah jurusan lain atau yang tidak berkaitan dengan seni tari. Setelah tamat dari SLUA Saraswati tahun 1973, Geguh memilih untuk melanjutkan di Akademi Perhotelan.

Suami dari Ni Wayan Lasthi ini banyak mengabdi dalam bidang seni tradisi, klasik ataupun seni rakyat. Berbagai prestasi dalam bidang seni tari pun telah ia raih dan jalani. Saking aktifnya dalam dunia calonarang, hingga kini sudah menggarap dan mementaskan lebih dari 14 judul penyalonarangan. Beberapa garapannya tersebut dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), Kabupaten Badung, bahkan ke Kabupaten Karangasem.

Dikutif dari Profil Penerima Adi Sewaka Nugraha Pemerintah Provinsi Bali Dinas Kebudayaan 2022, lelaki yang tinggal di Banjar Kedaton, Desa Sumerta Kelod, Denpasar ini juga merupakan patih pandung se-Bali. Selain aktif dalam kegiatan seni tari, ayah dengan dua anak ini juga tercatat sebagai sesepuh di Sanggar Irinting Mas dan Sanggar Gita Bandana Praja Denpasar. Karena kesetiaannya dalam berkesenian khususnya seni tari, berbagai penghargaan pun telah ia peroleh. Tahun 2011, Man Guh menerima penghargaan Seni Kerti Budaya dibidang seni tari dari Pemerintah Kota Denpasar, dan menerima piagam penghargaan sebagai konsultan dalam PKB ke-XXXII Kota Denpasar tahun 2010.

Baca Juga:  I Ketut Gede Rudita Penabuh, Penari dan Pelawak

I Nyoman Geguh

Jauh sebelum itu, tahun 1975 ia pernah menjadi peserta dalam Pekan Seni Tabuh dan Tari Puri Pemecutan, juga menjadi penari dalam Festival Gong Kebyar Pria saat PKB tahun 1993. Tahun 1994 menjadi penari fragmen tari Festival Gong Kebyar Pria Wakil Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar dalam gelaran PKB ke-XVI tahun 1994. Tahun 1995, Geguh kembali terlibat sebagai penari fragmen pada PKB ke-XVII tahun 1995.

Menjadi juri dalam Lomba Cipta Karya Seni Pertunjukan tahun 2015 yang digelar Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, juri III dalam lomba tari klasik se-Kota Denpasar yang diselenggarakan Panitia Gelar Seni Kota Denpasar pada 9 November 2003. Juri dalam Renon Creative Festival tahun 2016. Ia juga menjadi pembina tari gong kebyar pria dewasa duta Kota Denpasar pada pelaksanaan PKB ke-XXVIII tahun 2002.

Selain menjadi seorang seniman, Geguh juga sempat menjadi narasumber dalam beberapa kegiatan yang berkaitan dengan seni seperti pada seminar bertajuk Pembinaan Umat Hindu Melalui Pagelaran Seni Budaya Kolaborasi Seminar Kerauhan dalam Pementasan Calonarang pada 13 Mei 2018 yang digelar Yayasan Gases Bali.

Kini, dirinya pun sudah memiliki seorang penerus dalam bidang seni tari. Anak keduanya sering tampil sebagai penari Kebyar Duduk, Tari Jauk, maupun Sidakarya. Atas pengabdian, kegigihan, dan keteguhan I Nyoman Geguh dalam membina, melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali tanpa mengenal lelah dan putus asa, Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi dengan memberikan tanda Penghargaan Adi Sewaka Nugraha serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 tahun 2022. [B/*]