Dari Lokakarya PKB XLV, “Gending Rare” akan Tetap Lestari

 Dari Lokakarya PKB XLV, “Gending Rare” akan Tetap Lestari

Lokakarya Gending Rare serangkain PKB XLV./Foto: dok.balihbalihan

Anak-anak setingkat TK dan SD menyanyi dan bermain dengan suka cita di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Jumat 30 Juni 2023. Dengan olah vocal yang tak terlalu sempurna, mereka membawakan “sekar rare’ (lagu anak-anak di Bali).

Tingkah polah anak-anak yang lugu itu, mampu menciptakan suasana Kriyaloka (Lokakarya) Gending Rare serangkain Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV menjadi lebih kreatif. Itu karena kemampuan Ni Ketut Suryatini yang mampu masuk ke dalam dunia anak saat tampil sebagai narasumber.

Puluhan anak laki dan perempuan itu menyanyikan gendeng rare “Juru Pencar” dan “Peteng Bulan”. Karena gending rare tersebut tanpa permainan, maka Suryatini yang dosen seni pertunjukan ISI Denpasar itu mengajak anak-anak menyanyi diberengi dengan ekspresi.

Untuk memberikan suasana, lagu-lagu itu diiringi dengan permainan kulkul. Lalu, untuk gending rare “Juru Pencar” dibuatkan sebuah permainan, sebagian anak bertugas menjadi juru pencar (nelayan), dan sebagian lagi menjadi ikan.

Acara ini juga penuh kreativitas dan tanpa batas. Anak-anak yang matembang sekar rare (menyanyi), bukan hanya anak-anak diatas panggung, tetapi juga melibatkan penonton. Penonton yang kebanyakan para orang tua mereka ikut menghidupkan suasana.

Baca Juga:  Menulis Aksara Bali di Ruang Publik Gunakan "Pasang Jajar Palas". Lebih Cepat Melihat dan Lebih Mudah Membacanya

Mereka menyanyi bersama-sama yang hanya diiringi musik sederhana berupa kulkul dengan teknik pukulan yang sangat sederhana. “Akhir-akhir ini sekar rare atau gending tradisional ini tidak akan hilang, karena sudah dikemas sebagai lagu dengan bentuk yang lain,” kata Suryatini.

Selain itu, di sekolah-sekolah juga ada satu kurikulum yang memasukan permainan dan gending rare, sehingga semakin ramai penikmat anak-anak mempelajari gending-gending rare. Apalagi, Pemerintah Provinsi Bali mengkemas sekar rare dalam bentuk dolanan yang disajikan dalam parade gong kebyar, sebuah seni pertunjukan yang sumbernya dari permainan tradisional dan sekar rare. “Sebelumnya, memang agak kurang minat anak-anak belajar sekar rare,” ungkapnya.

Gendeng rare dikemas sebagai lagu pop yang diiringi musik modern, sehingga anak-anak tertarik untuk melakukanya. Anak-anak mulai mencintai sekar rare. “Inilah upaya pemerintah untuk menggalakan sekar rare, sehingga anak-anak kembali mengajak kita bermain permainan  tradisional serta menyanyikan sekar rare,” tegas seniwati yang kreatif ini.

Lokakarya Gending Rare serangkain PKB XLV./Foto: dok.balihbalihan

Menurutnya, gending rare ini bukan lagu biasa, karena gending ini dapat membentuk karakter. Didalamnya, mengandung berbagai nilai, seperti budi pekerti, disiplin dan gotong-royong. Makna yang ada didalamnya sangat kental dengan kreativitas tinggi.

“Kreativitas leluhur kita terdahulu itu sangat besar. Hal itu, kini diwariskan kepada kita yang bertugas untuk melestarikan. Gending rare itu nyanyian untuk anak-anak sangat penting untuk membentuk karakter,” jelasnya.

Dalam lokakarya ini, pihaknya sengaja mengambil materi gending Juru Pencar, karena semua orang mesti menjaga laut dan tak boleh membuang sampah ke laut. Ini juga sesuai dengan tema PKB “Segara Kerthi.

Sedangkan gending “Peteng Bulan” diberikian agar anak-anak mengenalkan istilah-istilah bahas Bali yang diperkenalkan lewat lagu. “Disitu juga mengenalkan binatang katak, suara katak dan lainnya,” turunya.

Baca Juga:  Provinsi Hainan Tiongkok Tampilkan 12 Tari di PKB XLV

Sebelum itu, lokakarya diawali dengan pengenalan tokoh pewayanghan oleh I Ketut Sudiana, seorang dalang asal Sukawati. Walau agenda lokakarya ini gending rare, tetapi juga diselipkan pengenalan wayang pada anak-anak. Kisah lagu itu dibuat dalam bentuk cerita, lalu diperagakan dengan wayang, sehingga anak-anak mengetahui lebih cepat memahami isi gendeng rare itu.

“Saya menyampaikan tema-tema dan amanat cerita dalam gending rare itu. Misal lagu juru pencar, yang mengisyaratkan pencar itu tak hanya sebagai alat untuk menjaring ikan, tetap juga sebagai simbol menjaring hal-hal yang positif dalam kehidupan,” ungkapnya..

Sudiana mengusulkan, kegiatan ini jangan hanya satu kali saja, tetapi perlu ada banyak kedepannya. Disamping perbanyak permainannya, jadwal acaranya juga perlu ditambah lagi.

“Kalau ini hanya sekali, masih banyak anak-anak yang belum mengetahuinya. Kalau boleh, PKB depan diharapkan ada lebih banyak kegiatan seperti ini dengan narasumber lain, sehingga wilayahnya kiga lain serta suasana pun lain,” harapnya.

Sementara Tim Kurator Prof. Dr, I Wayan Rai, S.MA mengatakan, kegiatan ini sungguh menarik karena dilakukan oleh anak-anak dengan suka cita. Kegiatan ini dapat membangun pondasi yang maya dimulai sejak dini. Gending rare yang didalamnya tak hanya berisi permainan, tetapi juga berisi petuah, tutur, etika dan sebagainya.

“Sungguh luar biasa, anak-anak laki dan perempuan dari segala umur antosias mengikuti acara ini. Hal ini bagus dan perlu diteruskan, karena warisan budaya ini tak boleh hilang,” sebutnya.

Selain bermain, dan bernyanyi juga dapat belajar. Filosofinya bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Ini penting ditanamkan pada anak-anak kita. Dengan demikian, penguatan dari pemajuan kebudayaan kita sebagai dalam undang-undang No 5 tahun 2017 dan Pergub No 4 tahun 2020, maka sangat bagus. “Selain permainan seperti ini, perlu juga diciptakan tarian untuk anak-anak,” harapnya.

Sebut misalnya tarian bebek putih jambul, sehingga mereka bermain sambil menari. Contoh lain lagi, tari peteng bulan. Di sini inspirasinya, sehingga anak-anak tak lepas dan tercabut dari akarnya.

Kalau diajak bermain seperti ini, mereka akan mengurangi bermain hand pone. “Saya sangat senang dan terima kasih pada orang tua yang hadir. Ketika anak-anaknya menyanyi, ibu ibunya mengungat masa kecilmnya dulu. Intinya kegiatan ini luar biasa dan perlu diteruskan,” sebutnya.

Prof Rai lalu mengharapkan kegiatan ini bisa dipentaskan kembali. Namun, terpenting dilakukan penggalian terlebih dahulu. Bali sangat luas dan masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri. Setelah ganding rare juga permainan tergali, baru berpikir menampilkan kembali. Disini penting pentaskan dulu.

Sekarang ini, bagus menampilkan gending rare yang temanya sesuai laut. “Kita belajar dari pengalaman. Melihat antosiame masyarakat belajar ini, sehingga tahun depan bisa didorong untuk ditampilkan kembali,” pungkasnya. [B/puspa]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post