Program Inovasi Seni Nusantara ISI Bali, untuk Antisifasi Bullying dan Kuatkan Kreativitas Anak
ISI Bali laksanakan program Inovasi Seni Nusantara bersama mitra Kupu-Kupu Learning Center/Foto: ist
SENANG dan penuh semangat. Anak-anak setingkat Sekolah Dasar (SD) dan SMP diajak menggambar bersama mengunakan media baju. Mereka menuangkan idenya dengan bebas dan menyenangkan.
Mulai dari membuat sket, kemudian mewarnai dengan warna-warna pilihan dan memikat. Anak-anak juga diajak melakukan daur ulang kertas, kemudian berproses untuk mengetahui bahwa kertas itu memang bersumber dari alam.
Itulah suasana kegiatan bertajuk Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bersama mitra, yakni Kupu-Kupu Learning Center, beberapa waktu lalu.
Anak-anak yang terlebat begitu antusias. Mereka tak hanya siap pratek melukis secara langsung, tetapi juga menyiapkan berbagai alat dan sarannya. Canda dan tawa, mewarnai kegiatan seni tersebut.
“Program Inovasi Seni Nusantara bertujuan untuk penguatan Emotional Engagement, dalam mengantisifasi bullying dan menguatkan kreativitas anak melalui Medium Inovasi Ekspresif (MIE),” kata Ketua PISN ISI Bali, Dr. I Nyoman Larry Julianto, S.Sn.,M.Ds, Selasa 11 November 2025.
Dalam melaksanakan program tersebut, Larry Julianto didampingi anggota, seperti Ida Bagus Hari Kayana Putra, S.Kom.,M.Sn; Prof. Dr. Ni Luh Sustiawati M.Pd; dan Ni Luh Indah Desira Swandi, S.Psi.,M.Psi. serta beberapa mahasiswa.
Kegiatan di Kupu-Kupu Learning Center meliputi berbagai kegiatan, Tie-Dye (30 Oktober 2024), menggambar dan mewarnai di T-Shirt (19 Oktober 2025), daur ulang kertas (11 November 2025) dan kegiatan ecoprint (19 Oktober 2025).
Sementara kegiatan bersama mitra MGMP Seni Budaya untuk menggambar dan mewarnai di TShirt (27 Oktober 2025). “Semua kegiatan melibatkan Siswa SD dan SMP, orang tua siswa dan guru mata pelajaran seni budaya untuk meningkatkan Emotional Engagement,” tegasnya.
Larry Julianto mengatakan, program ini sesungguhnya untuk menjalin hubungan yang baik antara siswa atau anak dengan anak lainnya, kemudian anak dengan gurunya dan anak dengan orang tuanya.
“Kegiatan ini merupakan implementasi dari konsep yang kita rancang bersama mitra sasaran, yaitu Kupu-Kupu Learning Center yakni MIE,” tegasnya.
Selain menggambar di baju dan daur ulang kertas, anak-anak juga diajak mengekspresikan seni dan desain di dalam kain, yaitu Tie-Dye, dan sebagai implementasi yang lainnya adalah Ecoprint yang dilakukan bersama mitra sasaran.
“Bersama mitra, kami bekerjasama menyebarluaskan Program MIE ini melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya. Tujuan dari PISN ini adalah menyasar supaya kasus Bullying bisa semakin ditekan di Bali,” ungkap Larry Julianto.
Manager Kupu-Kupu Learning Center, Ni Putu Nita Rahayu mengaku senang dengan Program Inovasi Seni Nusantara yang mendidik dan bermanfaat.
“Kami dari Kupu-Kupu Learning Center sangat senang sekali dengan diadakannya program ini. Mudah-mudahan program seperti ini lebih banyak lagi di masa depan, sehingga kita bisa mewujudkan generasi muda yang berkualitas,” ucap Nita Rahayu senang.
Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Kota Denpasar, Ni Made Setyawati, S.Pd mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada Tim PISN Kampus ISI Bali.
Itu karena Tim PISN Kampus ISI Bali telah memberikan waktu sebagai mitra kerjasama dalam program Inovasi Seni Nusantara ini. “Mudah-mudahan peserta didik kami bisa menjauhi bullying tersebut,” harap Setyawati.
Guru sekolah lainnya, juga merasa sangat gembira dalam mengikuti program ini. Melalui program ini, anak-anak mempunyai aktivitas baru yang menghindarkan mereka dari pemikiran untuk melakukan Bullying kepada sesama teman.
“Paling penting, anak-anak mereka merasa senang dalam mengikuti program ini, disamping untuk mendapatkan pengalaman baru bersama teman-temannya,” harapnya.
Hal ini juga mendapat tanggapan positif dari salah satu orang tua siswa yang menyebut kegiatan ini sangat positif. Belakangan ini sering terjadi kasus bullying terhadap anak-anak, sehingga adanya kegiatan anak-anak tidak terfokus pada hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami berharap kedepannya anak-anak ini menjadi lebih ekspresif, berani bisa mengontrol emosi, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya kasus bullying yang marak terjadi belakangan ini,” ucapnya. [B/darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali