Keindahan Kimono Jepang dan Endek Bali Berpadu Harmonis di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026

 Keindahan Kimono Jepang dan Endek Bali Berpadu Harmonis di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026

Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang meriahkan Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026/Foto: put

PESONA kimono tradisional Jepang berpadu anggun dengan keindahan endek Bali dalam pergelaran yang disuguhkan Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang, pada ajang Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026. Kolaborasi budaya yang memikat ini menghadirkan suasana penuh harmoni di Gedung Kerta Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Sabtu 20 Juni 2026 malam.

Lebih dari sekadar peragaan busana, pertunjukan tersebut menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan warisan tradisional Jepang dengan kekayaan wastra Nusantara, seperti endek Bali. Ragam desain yang ditampilkan memancarkan keindahan, kreativitas, sekaligus semangat persahabatan antarbangsa.

Sebelum pergelaran dimulai, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan apresiasi atas partisipasi delegasi Jepang dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) melalui BWCC 2026.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi, beserta rombongan Jepang yang untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam PKB melalui BWCC 2026,” ujar Gubernur Koster.

Malam budaya itu diawali dengan penampilan energik Taiko, alat musik perkusi tradisional Jepang yang dikenal dengan dentuman ritmis dan dinamis. Permainan yang atraktif dan penuh semangat tersebut segera memikat perhatian para penonton, mengawali rangkaian peragaan berbagai jenis kimono tradisional Jepang.

Para model kemudian melangkah anggun di atas catwalk, memperkenalkan satu per satu koleksi kimono lengkap dengan filosofi, fungsi, serta peranannya dalam kehidupan masyarakat Jepang. Setiap busana tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

Menurut Gubernur Koster, kehadiran delegasi Jepang tidak hanya memperkaya sajian seni dan budaya PKB, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya yang mempererat hubungan Bali dan Jepang. Hubungan kedua pihak selama ini berkembang dengan baik, termasuk melalui program magang dan penempatan tenaga kerja bagi generasi muda Bali di Jepang. “Orang Bali itu sedikit bicara, banyak bekerja dan tekun. Karakter ini sangat selaras dengan etos kerja masyarakat Jepang,” tuturnya.

Suasana semakin hangat ketika para penonton diajak mengenal lebih dekat berbagai jenis kimono tradisional Jepang. Sebanyak 11 jenis busana diperagakan dalam malam yang sarat nuansa persahabatan tersebut.

Peragaan diawali dengan Kurotomesode, kimono formal tertinggi berwarna hitam yang umumnya dikenakan oleh ibu pengantin atau anggota keluarga dekat dalam upacara pernikahan. Selanjutnya hadir Furisode, kimono berlengan panjang yang identik dengan perempuan muda dan kerap digunakan dalam perayaan kedewasaan di Jepang.

Kemudian ditampilkan Homongi, kimono yang lazim dikenakan untuk menghadiri acara resmi dan kunjungan penting, serta Tsukesage yang memiliki fungsi serupa dengan motif yang lebih sederhana. Ada pula Komon dan Edo Komon, kimono bermotif berulang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari kejauhan motifnya tampak sederhana, namun ketika diamati lebih dekat, detail-detail rumitnya memperlihatkan keterampilan tinggi para perajin Jepang.

Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang meriahkan Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026/Foto: put

Selain busana perempuan, malam itu juga memperagakan pula kimono pria berbahan katun yang dipadukan dengan obi Hakata. Koleksi lainnya mencakup Hakama, busana yang umum dikenakan saat upacara kelulusan, hingga kimono anak perempuan yang digunakan dalam tradisi Shichi-Go-San, perayaan tumbuh kembang anak usia tiga, lima, dan tujuh tahun.

Memasuki sesi kedua, Kimono Gallery Yawara menghadirkan koleksi kolaboratif yang memadukan kimono Jepang dengan berbagai wastra Indonesia. Tidak hanya endek Bali, koleksi tersebut juga menggabungkan batik Jawa dan sejumlah kain tenun Nusantara dalam satu kesatuan desain yang elegan.

Simbol Budaya Jepang yang Mendunia

Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, menyampaikan bahwa tema PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, memiliki keselarasan dengan nilai-nilai yang hidup dalam budaya Jepang. “Malam ini, bintang utamanya tentu adalah salah satu simbol budaya Jepang yang paling ikonik di dunia, yaitu kimono. Bagi masyarakat Jepang, kimono lebih dari sekadar busana tradisional,” ujarnya.

Setiap warna dan motif dalam kimono mengandung makna filosofis yang mendalam. Motif bunga sakura melambangkan keindahan hidup yang fana, bambu melambangkan kedamaian dan harapan umur panjang, sementara motif ombak menggambarkan keteguhan hati serta keharmonisan dengan alam semesta.

Nilai-nilai tersebut memiliki banyak kesamaan dengan filosofi yang terkandung dalam wastra endek Bali. Karena itu, perpaduan kimono dan endek menjadi simbol persahabatan budaya antara Jepang dan Bali yang terus tumbuh dan berkembang.

“Perpaduan ini bukan hanya kolaborasi fesyen, tetapi juga dialog budaya yang menunjukkan bahwa tradisi dapat saling bertemu, saling menginspirasi, dan melahirkan kreativitas baru tanpa kehilangan identitasnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Kimono Gallery Yawara, Tomi Nakamura, menjelaskan bahwa koleksi yang ditampilkan malam itu merupakan hasil pengembangan selama tiga tahun terakhir. Beragam rancangan memadukan kain khas Jepang seperti Jujigasuri, Edo Komon, Roketsuzome, Oshima Tsumugi, dan Akashi Chijimi dengan endek Bali yang kaya warna dan motif.

Selain itu, terdapat pula desain yang mengombinasikan sutra Jepang dengan batik Jawa serta berbagai tenun Nusantara yang dikreasikan dalam siluet khas kimono. “Kami berharap kolaborasi ini dapat melahirkan harmoni baru, inspirasi baru, sekaligus mempererat persahabatan antara kedua negara,” harap Nakamura.

Menariknya, seluruh rancangan tetap mempertahankan bentuk autentik kimono, namun dirancang lebih praktis dan mudah dikenakan oleh generasi muda. Sentuhan aksesori serta perhiasan Bali turut memperkuat identitas kolaborasi budaya yang ditampilkan. “Kolaborasi ini menjadi cara untuk memperkenalkan kembali busana tradisional kepada generasi muda tanpa menghilangkan identitas budaya masing-masing,” katanya.

Dengan dipersatukannya kain-kain tradisional dari Jepang dan Indonesia dalam satu karya, Nakamura berharap hubungan kedua negara akan semakin erat. Di saat yang sama, kolaborasi ini juga menjadi ajakan bagi generasi muda untuk terus bangga mengenakan busana tradisional sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

Melalui panggung BWCC 2026, kimono Jepang dan wastra Indonesia hadir bukan hanya sebagai busana, melainkan juga sebagai simbol persahabatan, penghormatan terhadap tradisi, dan dialog budaya yang terus berkembang mengikuti zaman. Pergelaran yang turut dihadiri Ketua Dekranasda Bali Ni Luh Putri Suastini Koster, Heri Akhmadi, komunitas Jepang di Bali, para desainer, serta pegiat budaya ini berlangsung hangat dan penuh apresiasi hingga akhir acara. [put]

Related post