Nong Nong Kling Pegelarkan Drama Gong “Mantri Bongol” di PKB 2026

 Nong Nong Kling Pegelarkan Drama Gong “Mantri Bongol” di PKB 2026

Nong Nong Kling pegelarkan Drama Gong “Mantri Bongol” di PKB 2026/Foto: ist

KETIKA Sanggar Seni Nong Nong Kling Kabupaten Buleleng menampilkan drama gong dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 pada Senin 22 Juni 2026, Kalangan Ayodya, tempat mereka pentas diramaikan penonton.

Itu artinya jesenian drama gong masih memiliki penggemar. Malam itu, Sekaa seni pertunjukan teater tradisional Bali Utara itu mengkemas dan mamdukan dengan sentuhan kekinian berupaya memikat hati generasi muda.

Pada pesta seni kali ini, Sanggar Seni Nong Nong Kling menyajikan drama gong berjudul “Mantri Bongol” didukung sekitar 40 penari dan penabuh. Cerita yang diangkat berbeda, tetapi sajian dan penampilannya tetap drama gong khas Buleleng.

“Di Buleleng hanya sanggar kami yang mampu menampilkan drama gong ciri khas Buleleng,” kata Ketua Sanggar Seni Nong Nong Kling, Nyoman Suardika yang akrab disa Mang Epo.

Lakon “Mantri Bongol” mencerikan kesatria yang tuli atau kurang pendengaran. Lakon klasik ini yang sarat akan nilai moral, intrik kerajaan, dan diselingi dengan bumbu humor serta kritik sosial yang menjadi ciri khasnya.

Setiap pemain menyajikan ekspresi emosional yang kuat. Sebut saja ketika adegan sedih atau dramatis dimainkan dengan totalitas tanpa disisipi lelucon, sehingga benar-benar menyentuh perasaan penonton.

Pesan moral dibalut dengan cerita dan lelucon yang kreatif, yang pastinya tidak terkesan menggurui. Hal itu terkadang disampaikan lewat ironi atau kekonyolan, namun pesan bijak itu nendang sampai kepada penonton.

Peran raja muda, permasuri atau raja tua tetap ada dalam pakem drama gong. Tetapi yang bisa mengkemas pesan kekinian adalah punakawan. Peran punakawan benar-benar menjadi penyambung cerita, pembawa makna, termasuk pembawa visi misi dari drama khas Buleleng ini.

Sutradara Mang Epo tampaknya sangat konsisten menjaga pakem Drama Gong gaya Buleleng, sehingga ini yang membuat drama gong itu berbeda dengan drama gong gaya Bali Selatan.

“Sanggar Seni Nong Nong Kling memang memiliki komitmen untuk melestarikan drama gong gaya Buleleng, yang meneruskan Drama Gong Puspa Anom dari Kelurahan Banyuning, Buleleng, mencapai puncak popularitasnya dan sangat terkenal pada dekade 1970-an hingga 1980-an itu,” sebut Mang Epo.

Penggunaan dekorasi panggung sangat dinamis dengan menggunakan latar (backdrop) gambar yang berubah menyesuaikan adegan, seperti gambar hutan ketika adegan itu di hutan atau puri ketika adegan di dalam puri.

Jika adegan di taman, maka layar yang turun adalah gambaran taman yang indah. Visual layar (backdrop) yang atraktif itu mampu menciptakan suasana. Apalagi dipadu, tata lampu, dan akting dinamis menciptakan ilusi panggung yang menarik dan hidup.

Ciri khas kedua, adalah tidak menampilkan peran Patih Anom ataupun Patih Agung, walaupun mengangkat kisah kerajaan atau cerita panji. Drama gong ini tetap menampilkan tokoh patih, tetapi namanya bukan Patih Anom (bersifat baik) atau Patih Agung (bersifat tidak bak).

Drama ini cukup ada satu patih saja yang memiliki peran antagonis bernama Patih Jalatunda yang memiliki peran antagonis. Jalatunda memiliki karakter jahat, tetapi bukan bernama Patih Agung.

Lalu, untuk menunjukan agar konsep darma (sifat baik) dan adarma (sifat tamak) itu disajikan lewat cerita, bukan lewat peran atau tokoh. Untuk bisa mencari kelurusan pembenaran itu ada didalam cerita.

Bukan Patih Anom yang membenarkan, seperti drama gong di Bali Selatan. “Kami menempatkan di alur cerita itu yang akan mencari kebenaran, bukan pada tokoh atau peran, sehingga cerita itu bisa berjalan,” beber Mang Epo.

Drama Gong “Mantri Bongol” dimulai dari kisah di Kerajaan Tibuana. Sang Raja memiliki dua permaisuri (istri), pertama tidak bisa mempunyai anak, namun permaisuri kedua memiliki anak.

Permaisuri pertama kemudian tumbuh rasa iri dan dengki, karena ketakutan dan cemas akan anak ini yang akan menggantikan Raja Tibuana. Maka permaisuri pertama bekerjasama dengan Patih Jalatunda agar anak yang dilahirkan oleh permaisuri kedua itu cacat (bongol), sehingga tidak masuk dalam katogeri sebagai raga.

Siasat selanjutnya mengasingkan permaisuri kedua ke tengah hutan. Dalam perjalanan Jalatunda itu, tidak jadi membunuh permaisuri, tetapi disupat (dikutuk) menjadi bojog (kera).

Di sana ada kata-kata terakhir dari Jalatunda, kapan nanti ia bisa bertemu dengan sinatria putra sujati (satria) maka satrai itu yang bisa menyupat (membuat ke wujud manusia). Karena ulah Jalatunda, ibu dan anak ini hidup terpisah.

Bojog hidup di hutan, sementara Mantri Bongol di kerajaan yang tidak bisa apa-apa. Suatu saat Mantri Bongol ke hutan mencari obat agar bongol (penyakit tuli) itu hilang. Di situ ada putri yang memberikan obat.

Di dalam perjalanan di tengah hutan, Mantri Bongol bertemu dengan Bojog yang tidak lain adalah ibunya. Bojok itu sih, berbeda kalua ketemu dengan yang lain bojog sangat galak.

Ketika Mantri Bongol itu disembuhkan oleh putri, Bojog itu justru datang dan membuat kekacauan. Bojog merusak taman dan yang lainnya, dengan tujuan agar dia disupat (dikembalikan wajahnya) oleh Mantri Bongol. Dan benar, setelah Bojog itu dibunuh Sang Mantri, wajahnya kembali menjadi manusia yang tak lain adalah ibunya.

“Permaisuri kemudian menjelaskan, bahwa semua kejadian itu merupakan ulah dari Patih Jalatunda. Itu artinya di sini cerita, yang membenarkan kebenaran itu bukan Patih Anom,” papar Komang Epo. [B]

Related post