Made Wiradana Pamerkan “Kacatri”, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Made Wiradana Pamerkan “Kacatri” di Santrian Art Gallery, Sanur/Foto: ist
PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk “Kacatri” yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur. Pameran yang dibuka oleh Prof. Dr. I Made Bandem pada Jumat 10 Juli 2026 ini menandai babak baru praktik berkesenian Made Wiradana, ketika pengalaman spiritual tidak lagi menjadi tema visual semata, melainkan telah menjelma sebagai fondasi penciptaan karya.
“Kacatri” merupakan pameran tunggal kedua Made Wiradana di Santrian Art Gallery setelah tujuh tahun. Dalam rentang waktu tersebut, terjadi transformasi yang signifikan pada bahasa visualnya. Perubahan itu berjalan seiring perjalanan hidupnya sebagai Jero Mangku, sebuah laku pengabdian spiritual yang memperkaya cara pandangnya terhadap seni, tradisi, dan kehidupan.
Istilah “Kacatri” merujuk pada panggilan spiritual yang diwariskan melalui garis keturunan. Dalam pameran ini, konsep tersebut tidak dimaknai sebatas pewarisan tradisi, melainkan sebagai pengalaman batin yang mengantarkan seseorang memasuki fase kehidupan baru.
Pengalaman itu diterjemahkan ke dalam karya-karya yang menghadirkan simbol, gestur, tekstur, dan lapisan visual yang mengajak publik memasuki ruang kontemplasi.
Menurut Made Dolar Astawa, Kurator Santrian Art Gallery sekaligus Manajer Galeri, perkembangan artistik Made Wiradana memperlihatkan perubahan yang sangat terasa dibandingkan pameran tunggalnya tujuh tahun silam.

Karya-karya terdahulu lebih menampilkan energi-energi purba, sedangkan dalam pameran kali ini terlihat adanya pendalaman pada dimensi spiritual. Pengalaman hidup sebagai Jero Mangku memberi pengaruh yang kuat terhadap konstruksi bahasa visualnya, ujar Dolar Astawa.
Pandangan tersebut diperkuat melalui esai kuratorial yang ditulis oleh Made Susanta Dwitanaya. Dalam esainya, ia membaca perjalanan kreatif Made Wiradana sebagai sebuah fase liminal, yakni ruang transisi ketika identitas seorang seniman bertemu dengan panggilan spiritualnya. Pengalaman religius tidak menghapus identitasnya sebagai perupa, tetapi justru melahirkan bahasa visual baru yang lebih reflektif dan kontemplatif.
Susanta juga menilai karya-karya dalam “Kacatri” tidak menawarkan narasi spiritual secara ilustratif. Sebaliknya, setiap kanvas menjadi ruang pengalaman yang membuka berbagai kemungkinan tafsir.
Simbol-simbol ritual, garis-garis putih yang mengingatkan pada wastra sakral, rerajahan, hingga sapuan kuas yang spontan membentuk lapisan makna yang lahir dari pengalaman spiritual yang dijalani secara nyata. Melalui pendekatan tersebut, praktik artistik Made Wiradana dipandang sebagai pertemuan antara seni rupa kontemporer, kosmologi Bali, dan laku spiritual yang saling menghidupi.
Sebagai alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Made Wiradana telah lama dikenal sebagai salah satu perupa kontemporer Bali dengan rekam jejak pameran di berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara. Di luar aktivitas berkesenian, ia tetap menjalankan tradisi ngayah sebagai Jero Mangku sekaligus menarikan Tari Rangda, salah satu tari sakral dalam tradisi Hindu Bali.
Seluruh pengalaman tersebut kini hadir sebagai sumber utama penciptaan karya. Seni tidak lagi diposisikan sebagai medium representasi, melainkan menjadi bagian dari laku spiritual itu sendiri. Proses melukis berubah menjadi praktik refleksi, sementara karya menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman personal, kosmologi Bali, dan seni rupa kontemporer.
Melalui “Kacatri”, Made Wiradana menunjukkan bahwa transformasi artistik tidak hanya lahir dari eksplorasi teknik dan estetika, tetapi juga dari perjalanan batin yang dijalani secara konsisten. Pameran ini sekaligus memperlihatkan bagaimana seni rupa kontemporer Bali terus menemukan bentuk-bentuk baru melalui dialog antara tradisi, spiritualitas, dan praktik artistik masa kini.
Pameran “Kacatri” berlangsung di Santrian Art Gallery, Jalan Danau Tamblingan No. 47, Sanur, Denpasar, mulai 10 Juli hingga 30 Agustus 2026. [I Gede Made Surya Darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali