Tradisi yang Diurai, Kreativitas yang Dibebaskan di Pameran “Udhar Banda Karma”
Himpunan Perupa Payangan gelar pameran bersama di Santrian Art Gallery Sanur/Foto: dar
SORE mulai beranjak gelap ketika Santrian Art Gallery, Griya Santrian, Sanur, belum membuka pintu gallerynya untuk umum. Namun, sejumlah pengunjung sudah berkumpul di sisi kanan galeri. Mereka mengamati beberapa lukisan yang terpajang di sisi luar ruang pamer, sembari menunggu pameran dibuka secara resmi.
Perhatian mereka tertuju pada dua karya yang menampilkan sosok gadis dengan senyum tulus. Lampu penerang yang masih redup justru membuat kedua lukisan itu menjadi titik perhatian tersendiri.
Suasana tersebut terlihat dalam pembukaan pameran bersama bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” yang digelar Himpunan Perupa Payangan (HPP), Jumat, 18 September 2026. Pameran ini menghadirkan 38 karya dari para perupa Payangan dengan beragam pendekatan, mulai dari seni tradisi, modern, abstraksi, hingga seni patung.
Sebelum ruang pamer dibuka, pengunjung memanfaatkan waktu untuk melihat karya-karya yang dipajang di luar galeri ruang utama. Karya-karya tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran, meski pencahayaan belum sepenuhnya dinyalakan.
Di sisi galeri itu, terpajang tujuh karya dari perupa yang berbeda. Namun, dua karya berjudul “Senyum Sapa #1” dan “Senyum Sapa #2” menjadi perhatian sejumlah pengunjung.
Dalam “Senyum Sapa #1”, seorang gadis polos mengenakan busana hijau bercorak bunga. Kedua tangannya dicakupkan di depan dada. Salah satu tangannya mengenakan gelang tridatu, sedangkan tangan lainnya memakai gelang bermotif bunga. Di sekeliling sosok tersebut terdapat elemen samlung.
Karya kedua, “Senyum Sapa #2”, berukuran lebih kecil. Sosok gadis kembali menjadi objek utama, kali ini dengan gelungan janger. Di sekelilingnya juga hadir elemen bun-bun. “Ini menceritakan keharmonisan, khususnya di keluarga kami sendiri. Ini anak pertama dan di bawahnya anak kedua. Lalu, visualnya seperti bun-bun, samlung, sebagai ikatan harmonis dalam keluarga yang terjalin dengan baik,” kata perupa I Made Jendra.
Payangan, kata Jendra, merupakan wilayah yang secara geografis memiliki karakter pertanian. Karena itu, banyak tanaman bun-bun yang tumbuh di kawasan tersebut. Unsur tersebut kemudian dihadirkan ke dalam karya sebagai simbol hubungan yang harmonis.
Menurutnya, keharmonisan keluarga perlu terus dijaga di tengah perubahan zaman, globalisasi, dan perkembangan teknologi. “Senyum Sapa ini ke depan akan tetap berlanjut, mungkin ada Senyum Sapa 3, 4, dan seterusnya,” harap Jendra.
Dari Payangan ke Sanur
Pameran kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, didampingi pemilik Griya Santrian, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA., melalui prosesi pengguntingan pita.
Sebanyak 38 karya yang ditampilkan memperlihatkan keberagaman pendekatan para perupa Payangan. Ada karya yang tetap berpijak kuat pada tradisi, ada pula yang mencoba mempertemukan estetika tradisional dengan pendekatan modern dan abstraksi.
Begitu pintu galeri dibuka, pengunjung langsung disuguhi karya-karya yang memenuhi ruang pamer. Di sisi kiri, salah satunya terdapat lukisan tradisi “Sang Anoman Ketemu Trijata” karya I Wayan Badra.
Lukisan tersebut menggunakan gaya tradisi murni di atas kanvas. Anoman digambarkan duduk bersila dengan senyum mengembang, menatap sosok Dewi Trijata. Berbeda dengan penggambaran dalam pakem wayang klasik, sosok Trijata dalam karya ini tampil berani, bahkan sensual.
Badra mengangkat kisah pewayangan tentang Jumawan yang cintanya ditolak Trijata. Jumawan kemudian mengubah wajahnya menjadi Anoman untuk mengelabui Trijata. “Anoman itu bukan yang asli, melainkan jelmaan dari Jumawan yang memfitnah Anoman. Jumawan yang cintanya ditolak Trijata mengubah wajah menjadi Anoman untuk mengelabui Trijata,” jelas Badra.
Melalui karya tersebut, ia ingin menyampaikan pesan tentang dampak buruk tindakan mengelabui dan memfitnah orang lain. “Saya ingin menyampaikan pesan jangan sekali-sekali mengelabui dan memfitnah karena dapat merugikan orang lain,” ingatnya.
Karya-karya lukis memenuhi sisi barat, selatan, hingga timur ruang galeri. Pengunjung yang terdiri atas seniman, pencinta seni, wisatawan, hingga pejabat daerah berbaur menikmati pameran. Para seniman juga berada di sekitar karya masing-masing untuk menjelaskan gagasan dan proses penciptaannya.
Ketika Persahabatan Runtuh
Di tengah ruang pamer, tiga karya patung menjadi perhatian tersendiri. Salah satunya adalah patung terakota berjudul “Akhir Persahabatan” karya Drs. I Made Suparta, M.Hum. Karya ini dibuat pada 2026, karya tersebut mengangkat klimaks tragis dari cerita Tantri Kamandaka, yakni pertempuran antara Singa Candapinggala, raja hutan, dengan Lembu Nandaka, sahabatnya sendiri.
Persahabatan keduanya yang semula berlangsung damai terusik oleh hasutan Patih Sambaddha Srigala. Kecurigaan tumbuh hingga akhirnya kedua sahabat tersebut saling menerkam. Patung berukuran sekitar 30 x 40 x 45 sentimeter itu dibuat dari tanah liat bakar atau terakota. Permukaannya diberi finishing hijau yang kemudian digosok hingga menghasilkan kilau menyerupai perunggu antik.
Bagi Suparta, pertarungan dua figur binatang tersebut bukan sekadar adegan dalam cerita. Karya itu juga menjadi refleksi tentang rapuhnya persahabatan ketika kecurigaan dan hasutan dibiarkan berkembang.
Setiap lekukan tubuh singa dan lembu yang digambarkan saling berhadapan menghadirkan ketegangan sekaligus tragedi hubungan dua sahabat. “Akhir Persahabatan” menjadi refleksi bahwa kata-kata dapat menjadi pemicu konflik dan persahabatan yang kuat dapat runtuh ketika keraguan mulai meracuni hati,” jelas Suparta.
Mengurai Belenggu Pakem
Ketua Himpunan Perupa Payangan, Made Dolar Astawa mengatakan pameran tersebut menjadi ruang bagi para seniman Payangan untuk memperluas eksplorasi artistik sekaligus membangun dialog antara kekuatan tradisi dan perkembangan seni rupa masa kini. “Pameran di Sanur ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan komunitas perupa Payangan,” ucapnya.
Menurut Dolar Astawa, eksplorasi para perupa sebelumnya lebih banyak diarahkan ke dalam dengan berpijak pada filosofi Bayu-dep-Karma. Kali ini, mereka mencoba membuka ruang kreativitas yang lebih luas. “Udhar Banda Karma merupakan upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa kami yang lebih terbuka,” jelas Dolar Astawa.
Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam 38 karya yang dipamerkan. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi juga tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang harus terus diulang dalam bentuk yang sama.
Sejumlah perupa tetap mempertahankan kekuatan garis, detail, teknik, dan karakter visual tradisional Payangan. Perupa lainnya mengolah karakter pewayangan, lanskap, serta simbol-simbol Bali melalui komposisi dan sapuan kuas yang lebih modern.
Eksplorasi kemudian bergerak menuju karya-karya abstrak yang lebih menonjolkan warna, tekstur, energi, dan emosi. Pelepasan terhadap pakem tidak dimaknai sebagai pemutusan hubungan dengan akar budaya. Spiritualitas dan pengalaman yang lahir dari kehidupan Bali tetap menjadi bagian dari proses penciptaan, tetapi diterjemahkan melalui bahasa visual yang lebih bebas.
Eksplorasi serupa terlihat pada karya patung. Material seperti kayu dan batu tidak hanya digunakan untuk menghadirkan figur tradisional, tetapi juga dikembangkan melalui permainan bentuk, ruang, dan volume.
Rangkaian karya tersebut memperlihatkan perjalanan kreatif para perupa Payangan: dari tradisi yang dipertahankan, tradisi yang ditafsirkan kembali, hingga tradisi yang diterjemahkan melalui bahasa seni yang lebih kontemporer.
Perpindahan Epistemik
Kurator pameran, Dr. I Nyoman Suardina, melihat perpindahan ruang pamer dari Payangan ke Sanur bukan sekadar perubahan lokasi penyelenggaraan. Ia memaknainya sebagai sebuah “perpindahan epistemik”. Perpindahan tersebut merupakan pergeseran dari ruang yang memiliki ikatan kuat dengan pakem tradisi menuju ruang dialog seni yang lebih terbuka.
Sanur memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai pengaruh seni dan budaya. Karena itu, kehadiran para perupa Payangan di kawasan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana tradisi dapat terus berkembang sekaligus mempertahankan akar identitasnya.
Dalam konteks itu, gagasan “Udhar Banda Karma” menjadi pijakan utama dalam proses kreatif para perupa.
Secara etimologis, udhar berarti mengurai atau melepaskan ikatan, banda berarti belenggu atau kekangan, sedangkan karma berkaitan dengan perbuatan maupun hasil dari tindakan masa lalu.
Gagasan tersebut tercermin dalam karya-karya yang dipamerkan. Tradisi hadir bukan semata-mata sebagai pengulangan bentuk lama, melainkan sebagai sumber yang dapat ditafsirkan kembali sesuai konteks zaman.
Tradisi yang Tetap Hidup
Pemilik Santrian Art Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA. menyambut pameran tersebut sebagai pertemuan antara dua karakter geografis sekaligus kultural Bali.
Payangan merepresentasikan kawasan pedalaman Bali, sedangkan Sanur dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan pengaruh seni.
Dalam pertemuan dua ruang tersebut, seni menjadi jembatan yang memungkinkan tradisi dan perkembangan kreativitas berdialog. “Merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi, dan relevan dengan zaman,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan pemilik Santrian Art Gallery.
Pameran yang berlangsung hingga 31 Oktober 2026 itu pun menjadi ruang pertemuan antara karya, seniman, dan publik. Tradisi tidak hanya dipertontonkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dibuka untuk ditafsirkan kembali melalui pengalaman artistik generasi hari ini.
Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, yang mewakili Bupati Gianyar, turut mengapresiasi pameran yang digelar para putra daerah Gianyar tersebut. Ia menilai pameran bertema “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” telah menghadirkan ruang ekspresi sekaligus dialog.
Menurutnya, tema tersebut menarik karena membuka ruang untuk melihat kembali tradisi sebagai warisan yang dapat direnungkan dan ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman.
“Seniman memiliki kebebasan untuk menafsir melalui karya seni, sehingga menjadi pengalaman yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali