Ketika Baleganjur Menjadi Tontonan: Menjaga Musikalitas di Tengah Ledakan Visual

 Ketika Baleganjur Menjadi Tontonan: Menjaga Musikalitas di Tengah Ledakan Visual

Listibya Kecamatan Mengwi bersama para peserta Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”/Foto: Dok. Tim Listibya Kecamatan Mengwi.

BALEGANJUR telah menempuh perjalanan panjang. Jika dahulu identik sebagai musik pengiring prosesi keagamaan dan upacara adat, kini Baleganjut menjadi seni pertunjukan yang memadukan kekuatan bunyi dengan eksplorasi visual. Gerak penabuh, koreografi, tata kostum, hingga teatrikal menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari wajah Baleganjur kini. Namun, di balik perkembangan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana inovasi dapat dilakukan tanpa menghilangkan identitas musikal Baleganjur?

Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam Workshop Baleganjur bertajuk “Gejer Mengwi: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi” yang diselenggarakan Listibya Kecamatan Mengwi bertempat di Kantor Camat Mengwi, Rabu 29 Juli 2026. Acara ini menghadirkan dua tokoh karawitan Bali, I Ketut Gede Asnawa, S.Skar., M.A. dan I Wayan Widia, S.Skar., dengan I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. sebagai moderator, kegiatan ini mempertemukan para penggarap Baleganjur dari seluruh desa dan kelurahan di Kecamatan Mengwi.

Workshop tersebut tidak hanya menjadi forum berbagi pengalaman antarseniman, tetapi juga ruang refleksi mengenai arah perkembangan Baleganjur di tengah derasnya kreativitas generasi muda. Melalui tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi”, peserta diajak memahami bahwa inovasi tidak harus mengorbankan akar tradisi.

Dari Musik Prosesi Menjadi Seni Pertunjukan

I Ketut Gede Asnawa membawakan materi berjudul Baleganjur: Jejak dan Perkembangannya hingga Kini, yang mengajak peserta menelusuri perjalanan Baleganjur dari masa ke masa. Menurutnya, Baleganjur merupakan salah satu bentuk musikal karawitan Bali yang memiliki kemampuan adaptasi sangat kuat sehingga terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Perubahan besar mulai terlihat ketika Baleganjur tidak lagi dipandang semata sebagai perangkat musik prosesi. Musikalitasnya mulai menginspirasi lahirnya berbagai bentuk kreativitas baru.

Salah satu tonggak penting terjadi sekitar tahun 1984 ketika karakter musikal Baleganjur menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan Gamelan Adi Merdangga di ASTI. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Baleganjur memiliki potensi yang jauh melampaui fungsi ritualnya.

Transformasi berikutnya terjadi ketika Baleganjur memasuki arena perlombaan. Lomba Baleganjur di Kabupaten Badung mulai digelar pada 1986 atas prakarsa Himpunan Seniman Remaja Kabupaten Badung bersama I Nyoman Sugama dalam rangka memperingati HUT Puputan Badung ke-80. Perlombaan yang berlangsung di sejumlah titik Kota Denpasar, seperti depan Kodam Udayana, Bali Hotel, dan Pura Jagatnatha, membuka ruang baru bagi para seniman. Baleganjur tidak lagi dinilai hanya dari ketepatan memainkan tabuh, tetapi juga dari kreativitas garapan, struktur musikal, teknik permainan, hingga kemampuan membangun daya tarik pertunjukan.

Menurut Asnawa, kompetisi menjadi laboratorium yang mendorong lahirnya berbagai eksperimen musikal. Rekaman karya Sekaa Gong Kalingga Jaya pada periode tersebut, misalnya, kemudian menjadi salah satu referensi penting bagi perkembangan garapan Baleganjur generasi berikutnya.

Tradisi yang Terus Bereksperimen

Asnawa juga membagikan pengalamannya ketika mengeksplorasi permainan ceng-ceng pada awal dekade 1980-an. Tanpa mengganti instrumen maupun meninggalkan karakter tradisionalnya, ia mencoba menghadirkan warna bunyi baru melalui perubahan posisi permainan dan teknik penggunaan panggul. Eksplorasi tersebut kemudian diwujudkan dalam karya Kosong pada 1984.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Tradisi justru dapat berkembang melalui cara-cara baru dalam memperlakukan unsur-unsur yang telah diwariskan.

Seiring berkembangnya perlombaan, Baleganjur semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Bermunculan sekaa-sekaa baru dengan berbagai pendekatan garapan. Repertoar bertambah, struktur penyajian berkembang, dan kreativitas musikal semakin beragam.

Namun perkembangan itu juga membawa perubahan pada aspek pertunjukan. Tidak hanya kualitas tabuh yang mendapat perhatian, melainkan pula gerak penabuh, tata kostum, koreografi, hingga unsur teatrikal. Kecenderungan tersebut semakin menguat ketika Baleganjur menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB). Sejak lomba Baleganjur digelar di PKB pada 2013, ruang kreativitas semakin terbuka luas.

Baleganjur pun tidak lagi hanya didengar, tetapi juga dinikmati sebagai tontonan visual. Formasi pemain, permainan cahaya, koreografi, dan efek dramatik menjadi bagian dari strategi artistik yang memperkuat daya tarik pertunjukan.

Ketika Visual Mendominasi

Di balik perkembangan tersebut, Asnawa mengingatkan adanya tantangan baru. Dominasi unsur visual berpotensi menggeser perhatian terhadap kualitas musikal Baleganjur.

Menurutnya, visual memang penting sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi tidak boleh mengambil alih posisi utama musik. Unsur visual seharusnya menjadi penguat konsep musikal, bukan pengganti kekuatan bunyi yang menjadi identitas Baleganjur.

Ia juga menjelaskan bahwa Baleganjur berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari Baleganjur Ngarap, Baleganjur Bebarongan, hingga Baleganjur tematik. Masing-masing memiliki kebutuhan artistik yang berbeda sehingga seorang komposer harus memahami tujuan penciptaan, sasaran pertunjukan, dan gagasan yang hendak disampaikan sebelum menyusun sebuah karya.

Tri Angga sebagai Fondasi Berkarya

Pandangan serupa disampaikan I Wayan Widia melalui materi Kreativitas Mencipta Gending Baleganjur: Uger-Uger, Pondasi, dan Batasan. Ia menegaskan bahwa kreativitas hanya akan memiliki arah apabila dibangun di atas pemahaman yang kuat terhadap tradisi.

Menurut Widia, seorang komposer harus memahami wed atau wit, yakni asal-usul dan karakter dasar Baleganjur. Inovasi tidak boleh memutus hubungan dengan akar tradisi, melainkan menjadi cara baru untuk menafsirkan kembali warisan musikal dalam konteks zaman sekarang.

Dalam membangun komposisi, Widia menempatkan konsep Tri Angga sebagai fondasi struktur karya. Kawitan berfungsi sebagai pembuka yang memperkenalkan suasana musikal, pengawak menjadi ruang pengembangan gagasan, sedangkan bagian akhir memberikan penyelesaian terhadap keseluruhan komposisi.

Baginya, sebuah karya yang baik bukan sekadar kumpulan motif atau teknik permainan yang rumit. Komposisi harus memiliki arah, dinamika, keseimbangan, intensitas, serta alur emosional yang utuh.

Melalui analogi tubuh manusia, Widia menggambarkan hubungan antara kepala, badan, jantung, hati, dan kaki sebagai simbol keterpaduan ide, musikalitas, irama, rasa, dan energi gerak dalam sebuah garapan Baleganjur.

Audio Tetap Menjadi Fondasi

Widia juga menyoroti kecenderungan berkembangnya unsur visual dalam Baleganjur kontemporer. Gerak penabuh, kostum, teatrikal, dan formasi memang mampu memperkaya pertunjukan. Namun seluruh unsur tersebut harus lahir dari konsep musikal yang jelas.

Gerak, menurutnya, merupakan penajaman gagasan, bukan sekadar atraksi. Karena itu, setiap gerak harus memenuhi tiga prinsip utama: beretika, berlogika, dan berestetika. Gerak harus memiliki kepantasan, alasan konseptual, serta nilai keindahan yang mendukung keseluruhan karya.

Dengan demikian, proses penciptaan Baleganjur idealnya dimulai dari membangun kekuatan audio. Setelah fondasi musikal terbentuk dengan kokoh, unsur visual hadir untuk memperkuat pesan artistik yang ingin disampaikan.

Di tengah derasnya perkembangan Baleganjur sebagai seni pertunjukan, pesan kedua narasumber bertemu pada satu titik yang sama: inovasi adalah keniscayaan, tetapi identitas musikal tidak boleh ditinggalkan. Visual dapat terus berkembang mengikuti kreativitas zaman, namun bunyi tetap menjadi jiwa yang menjaga Baleganjur sebagai salah satu warisan penting karawitan Bali. [ I Nyoman Mariyana]

Related post