Ketika Gerak Menjadi Suara: Menemukan Makna Dewata Nawa Sangha dalam Tari Pangider Bhuwana
Tari Pangider Bhuwana karya koreografer Putu Wahyu Putra Sudianta/Foto: ist
MALAM itu, panggung tidak hanya dipenuhi gerak dan irama. Ada bahasa lain yang bekerja—bahasa tubuh, bahasa isyarat, warna, simbol, dan ekspresi. Semuanya hadir dalam satu kesatuan yang perlahan membawa penonton memasuki ruang pemaknaan tentang Dewata Nawa Sangha.
Gerak para penari mengalir ritmis. Ekspresi wajah dan tubuh berbicara dengan caranya sendiri. Ketukan gamelan menjadi penuntun, sementara melodi dan gerak saling mengisi. Tidak ada kesan kaku. Para penari bergerak lepas, seolah musik dan tubuh mereka telah menemukan satu bahasa yang sama.
Namun, di balik keindahan itu terdapat gagasan yang jauh lebih dalam. Tari Pangider Bhuwana tidak semata-mata diciptakan untuk menghadirkan keindahan koreografi. Karya ini lahir dari kegelisahan sekaligus pengalaman personal seorang penyandang Tuli yang ingin membuka jalan agar pengetahuan tentang budaya dan spiritualitas Bali dapat dipahami secara lebih setara.
Karya tersebut diciptakan oleh Putu Wahyu Putra Sudianta, mahasiswa Program Studi Seni Program Magister, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Tari Pangider Bhuwana dipentaskan dalam ujian S2 di Kalangan Widya Mahardika, ISI Bali, Jumat, 24 Juli 2026, pukul 18.30 WITA. Karya ini menjadi bagian dari tesis untuk meraih gelar Magister Seni di bawah bimbingan Prof. Dr. I Ketut Suteja, SST., M.Sn. dan Dr. Ida Ayu Wayan Arya Satyani, S.Sn., M.Sn.
Bagi Putu Wahyu, tari adalah kemungkinan. Ia dapat menjadi ruang untuk menjelaskan sesuatu yang selama ini sulit dijangkau melalui bahasa verbal. Karena itu, konsep Ngider Bhuwana dalam karyanya diterjemahkan melalui bahasa isyarat, simbol, warna, komposisi ruang, dan gerak tubuh.
“Saya menggarap Tari Pangider Bhuwana sebagai karya tari baru yang menggambarkan tentang edukasi pengetahuan, filosofi, dan makna Dewata Nawa Sangha kepada Teman Tuli khususnya dan penikmat tari secara umum. Pendukungnya juga anak-anak tuli serta mahasiswa ISI Bali,” kata Putu Wahyu.
Berangkat dari Pengalaman
Gagasan itu tidak lahir dari ruang yang jauh dari kehidupan. Ia tumbuh dari pengalaman Wahyu sebagai seorang penyandang Tuli. Dalam kehidupan keagamaan masyarakat Bali, berbagai simbol, warna, arah, atribut, serta ritual memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Namun, bagi Teman Tuli, pemahaman terhadap makna tersebut tidak selalu mudah diperoleh.
“Berangkat dari pengalaman sebagai penyandang Tuli, saya melihat masih banyak Teman Tuli mengikuti berbagai upacara keagamaan tanpa memahami makna simbol-simbol yang digunakan dalam ritual Hindu. Konsep Pangider Bhuwana maupun Dewata Nawa Sangha, yang menjadi dasar filosofi keseimbangan alam semesta dalam ajaran Hindu Bali ini belum tersampaikan secara utuh karena terbatasnya media pembelajaran yang mudah dipahami,” ungkapnya.

Kegelisahan itu kemudian dipertajam melalui survei terhadap siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) dan komunitas Tuli. Hasilnya menunjukkan bahwa pemahaman mengenai Dewata Nawa Sangha masih relatif rendah.
Dari sana, Putu Wahyu melihat adanya kebutuhan akan sebuah media pembelajaran yang tidak bergantung pada komunikasi verbal. Seni pertunjukan kemudian dipilih sebagai jalan. Ia menerjemahkan pengetahuan spiritual tersebut ke dalam sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dan dialami. Gerak menjadi bahasa. Warna menjadi penanda. Formasi penari menjadi gambaran kosmologi. Bahasa isyarat menjadi bagian dari koreografi.
Dengan cara itu, konsep yang selama ini hadir dalam kitab, ritual, maupun penjelasan verbal memperoleh bentuk baru yang lebih dekat dengan pengalaman visual Teman Tuli.
Sembilan Arah, Satu Keseimbangan
Tari Pangider Bhuwana dibangun dalam lima bagian dramaturgi. Keseluruhannya menggambarkan perjalanan dari ketidaktahuan menuju pemahaman spiritual.
Pada bagian pertama, tokoh utama berada dalam situasi kebingungan dan kegelisahan. Ia menjalankan ritual, tetapi belum sepenuhnya memahami makna yang berada di baliknya. Suasana panggung yang hening dan ekspresi tubuh menghadirkan pergulatan batin tersebut. Dari ketidaktahuan itu kemudian tumbuh pencarian.
Bagian kedua menjadi ruang untuk mengenalkan Dewata Nawa Sangha. Sembilan penari hadir mewakili sembilan arah mata angin. Setiap manifestasi dewa memiliki identitas melalui warna busana, pola gerak, dan atribut senjata.
Iswara berada di timur, Maheswara di tenggara, Brahma di selatan, Rudra di barat daya, Mahadewa di barat, Sangkara di barat laut, Wisnu di utara, Sambhu di timur laut, sementara Siwa berada di pusat. Formasi tersebut bukan sekadar komposisi artistik. Lingkaran dan arah menjadi simbol perputaran kosmos serta keseimbangan jagat raya.
Bagian ketiga mengambil inspirasi dari tradisi Ngerebeg. Gerak berputar, bendera berwarna, dan pola lantai berbentuk mandala menghadirkan simbol penyucian sekaligus harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Kemudian, pada bagian keempat, batas antara penari dan penonton mulai dilebur. Penonton diajak berpartisipasi dengan menebak posisi dewa dan atribut senjata yang digunakan para penari. Di titik ini, pertunjukan berubah menjadi ruang belajar bersama.
Puncaknya hadir pada bagian kelima. Para penari kembali membentuk sembilan arah mata angin dengan Siwa di tengah. Atribut senjata diangkat secara bersamaan. Sebuah gambaran tentang harmoni pun tercipta—hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama yang berada dalam keseimbangan.
Estetika yang Tidak Bergantung pada Bunyi
Salah satu gagasan menarik dalam karya ini adalah estetika vibrasi. Bagi Putu Wahyu, pengalaman estetik tidak harus selalu bergantung pada kemampuan mendengar. Getaran dapat hadir melalui gerak, visual, ekspresi, ritme, dan interaksi tubuh.
Karena itu, bahasa isyarat tidak ditempatkan semata-mata sebagai alat bantu komunikasi. Ia menjadi bagian dari bahasa artistik pertunjukan. Gerak tari dan bahasa isyarat disinkronkan sehingga keduanya membentuk satu kesatuan visual.
Konsep ini sekaligus memperluas cara pandang tentang seni pertunjukan. Musik tidak hanya didengar, tetapi juga dapat diterjemahkan melalui tubuh. Ritme tidak hanya dihitung melalui ketukan, tetapi dapat dirasakan melalui gerakan. Ekspresi tidak hanya disampaikan melalui suara, tetapi juga melalui mata, tangan, tubuh, dan ruang.
Psikologi warna turut memperkuat pendekatan tersebut. Warna kostum menjadi identitas masing-masing manifestasi dewa dan dipadukan dengan tata cahaya, pola lantai, atribut, serta simbol kosmologi Hindu Bali. Dengan demikian, panggung menjadi ruang visual yang kaya. Setiap unsur tidak hanya memiliki fungsi estetis, tetapi juga membawa informasi dan makna.
Seni yang Tumbuh Bersama Komunitas
Tari Pangider Bhuwana juga lahir melalui proses kolaboratif. Putu Wahyu melibatkan seniman dari berbagai bidang. Delapan penari memerankan Dewata Nawa Sangha, dua penabuh gamelan mengiringi pertunjukan, 15 penari menghadirkan adegan Ngerebeg, serta seorang penampil bahasa isyarat memperkuat komunikasi visual.
Komunitas Tuli, juru bahasa isyarat, dan aktivis disabilitas juga dilibatkan dalam proses penciptaan. Bahkan, sekitar 95 persen tim yang terlibat merupakan Teman Tuli. Mereka hadir sebagai penari, kru, maupun pendukung pertunjukan. Keterlibatan tersebut membuat karya ini tidak berhenti pada gagasan tentang inklusivitas. Inklusivitas benar-benar menjadi bagian dari proses penciptaannya.
Semangat itu terangkum dalam motto yang ditulis Wahyu pada tesisnya: “Mataku adalah Telingaku, Tanganku adalah Suaraku. Saya sebagai orang Tuli percaya bahwa keterbatasan dapat menjadi kekuatan untuk terus belajar, berkarya, dan membuka jalan bagi yang lain.” Kalimat itu terasa seperti pernyataan artistik sekaligus perjalanan hidup.
Menembus Keterbatasan
Perjalanan Putu Wahyu di dunia akademik seni juga bukan perjalanan yang sederhana.
Ia merupakan pejuang Tuli pertama yang menempuh pendidikan akademik bidang penciptaan seni di ISI Bali. Dalam prosesnya, keterbatasan fasilitas pendukung bagi mahasiswa Tuli menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapinya.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat langkahnya berhenti. Selama menempuh pendidikan magister, Wahyu berinisiatif menghadirkan penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), Stary Bosnan, untuk mendampingi proses perkuliahan dan bimbingan tesis. Upaya tersebut dilakukan agar komunikasi akademik dapat berlangsung lebih optimal.
Tantangan lain muncul ketika ia harus berhadapan dengan literatur ilmiah. Keterbatasan pendengaran membuat proses memahami kalimat-kalimat kompleks dalam referensi akademik membutuhkan usaha lebih besar. Karena itu, Wahyu memilih untuk mempelajari konsep Dewata Nawa Sangha secara mendalam sebelum menerjemahkannya ke dalam bahasa visual dan koreografi.
“Saya belajar sangat dalam mengenai Dewata Nawa Sangha terlebih dahulu. Setelah benar-benar memahami, barulah menjelaskan konsep itu kepada Teman Tuli yang terlibat sebagai pendukung karya, menyusun koreografi, sekaligus mentransformasikan konsep tersebut menjadi bahasa visual yang mudah dipahami,” papar Wahyu.
Proses panjang itu menunjukkan bahwa karya ini bukan lahir dari gagasan yang tiba-tiba. Ada penelitian, pembelajaran, pengalaman personal, kolaborasi, dan keberanian untuk mencari bentuk komunikasi yang berbeda.
Bukan Sekadar Pertunjukan
Pada bagian akhir pertunjukan, Putu Wahyu juga mengundang siswa SLB dan komunitas Teman Tuli dari berbagai daerah di Bali untuk hadir. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi diajak berpartisipasi melalui permainan edukatif dengan pendekatan partisipatori aktif.
Di sinilah kekuatan utama Tari Pangider Bhuwana terasa. Karya ini tidak menempatkan Teman Tuli hanya sebagai penerima pesan, tetapi sebagai bagian dari proses penciptaan dan pengalaman artistik itu sendiri.
Seni menjadi ruang perjumpaan. Penari dan penonton bertemu dalam bahasa yang sama—bahasa tubuh, simbol, warna, gerak, dan pengalaman. Tari Pangider Bhuwana akhirnya menemukan maknanya yang lebih luas: sebuah karya seni yang berusaha meruntuhkan batas antara keterbatasan dan kemungkinan.
Bagi Putu Wahyu, keterbatasan bukan akhir dari perjalanan. Justru dari sanalah ia menemukan bahasa artistiknya. Matanya menjadi telinga. Tangannya menjadi suara. Tubuh menjadi bahasa.
Dan melalui tari, pengetahuan tentang Dewata Nawa Sangha menemukan jalan lain untuk sampai kepada mereka yang selama ini mungkin tidak selalu dapat mendengarnya.
Sebab pada akhirnya, seni tidak hanya tentang bagaimana sesuatu didengar atau dilihat. Seni adalah tentang bagaimana ia dapat dirasakan, dipahami, dan menghubungkan manusia dengan manusia lainnya. Atas keberhasilan tersebut, Dr. Ida Ayu Wayan Arya Satyani, S.Sn., M.Sn., memberikan apresiasi terhadap karya yang menurutnya tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga membawa dampak sosial dan edukatif. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali