Mereren Festival 2026, Merayakan Tanda-Tanda Laut dan Wajah Budaya Pererenan

 Mereren Festival 2026, Merayakan Tanda-Tanda Laut dan Wajah Budaya Pererenan

Noema Resort kembali menggelar “Mereren Festival 2026”/Foto: darma

SORE yang cerah itu, layang-layang tradisional dan berbagai kreasi diarak dari Noema Resort menuju kawasan Pantai Pererenan. Iring-iringan tersebut melibatkan para pecinta layang-layang dari berbagai belahan dunia. Sepanjang perjalanan, mereka mengumbar senyum sembari memegang ekor panjang layang-layang janggan. Iring-iringan itu semakin semarak dengan iringan gamelan bleganjur yang enerjik.

Itulah suasana prosesi pembukaan “Mereren Festival 2026” yang digelar Noema Resort di kawasan wisata Pantai Pererenan, Badung, Jumat, 21 Agustus 2026. Sepanjang perjalanan, barisan budaya tersebut tampil layaknya pertunjukan seni jalanan. Setiap langkah menjadi perhatian warga maupun wisatawan yang tengah menikmati suasana destinasi Pererenan.

Barisan ini kemudian disambut puluhan layang-layang yang menghiasi langit pantai. Bentuk dan ukurannya sangat beragam, mulai dari layang-layang tradisional hingga kreasi berbentuk ikan, cumi-cumi, gurita, anjing, kubus, ular, dan berbagai bentuk lainnya. Suasana semakin hidup ketika Tari Sri Melanting dipentaskan oleh Komunitas Bumi Bajra.

Menjelang matahari terbenam, layang-layang janggan yang merepresentasikan Naga Basuki—simbol penjaga kestabilan dan keseimbangan dunia dalam kosmologi Hindu Bali—diterbangkan secara bersama-sama. Prosesi tersebut diiringi gamelan bleganjur dan sajian First Flight oleh Kadek Armika. Dengan demikian, Mereren Festival 2026 resmi dimulai.

Director Mereren Festival 2026 sekaligus General Manager Noema Resort Pererenan, Ricky Tanza, mengatakan festival tahun kedua ini mengangkat tema “Sasmita Samudra: The Sign of the Sea” atau tanda-tanda laut. Tema tersebut diterjemahkan melalui tiga elemen utama, yakni Wind atau angin, Wave atau gelombang, dan Neighborhood atau lingkungan.

“Kali ini mengangkat tema “Sasmita Samudra: The Sign of the Sea” atau Tanda-Tanda Laut yang diterjemahkan melalui tiga elemen utama, yakni Wind atau angin, Wave atau gelombang, dan Neighborhood atau lingkungan,” kata Ricky Tanza di sela-sela acara pembukaan.

Ketiga unsur tersebut menjadi benang merah berbagai kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 21–23 Agustus 2026. Festival ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat dan wisatawan mengenal lebih dekat karakter, tradisi, kreativitas, serta kehidupan masyarakat Pererenan.

“Mereren” sendiri dimaknai sebagai to pause, atau berhenti sejenak. Konsep tersebut menjadi ajakan untuk menikmati ruang, suasana, budaya, dan kehidupan lokal di tengah perkembangan Pererenan sebagai salah satu kawasan wisata yang semakin dinamis.

“Mereren Festival ini dibuat untuk memperkenalkan Desa Pererenan yang kaya budaya. Di desa ini bisa melihat pantai, seni, budaya dan masyarakatnya yang semuanya terhubung,” ujar Ricky.

Dari Layang-Layang hingga Kuliner

Pada hari pertama, rangkaian kegiatan diawali Festival Kick-off & Rise Run Anniversary, yang menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul dan beraktivitas bersama sebelum memasuki berbagai agenda budaya dan kreatif.

Menjelang malam, suasana berlanjut melalui Dinner Under the Kite: The Sky Feast. Pengalaman bersantap di ruang terbuka tersebut dikurasi oleh Chef Dom Tropical dan diramaikan penampilan Orasare, Lamented Laughter, serta live painting oleh Sastia Naresvari.

Sekitar 70 wisatawan mengikuti pengalaman bersantap tersebut. Bukan sekadar menikmati hidangan, mereka juga diajak melihat proses kreatif secara langsung. Konsep kuliner memadukan bahan organik dari laut dan darat, dengan setiap menu memiliki cerita tersendiri.

Ricky mengatakan, Mereren Festival juga menjadi bagian dari perayaan ulang tahun kedua Noema Resort yang jatuh pada 23 Agustus 2026. Karena itu, festival dirancang menjadi agenda tahunan.

“Mereren Festival tahun lalu ada konsep layangan, tetapi tahun ini mengundang pemain layang-layang dari delapan negara,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran layang-layang bukan sekadar tontonan, tetapi menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan filosofi, seni, dan tradisi Bali kepada wisatawan.

“Mereren Festival ini untuk memperkenalkan Desa Pererenan yang kaya budaya. Bisa melihat pantai, seni, budaya dan masyarakatnya yang semuanya terhubung,” papar Ricky.

Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Noema Resort menawarkan pengalaman, bukan semata-mata akomodasi. “Artinya, Noema Resort tak hanya menjual kamar, tetapi pengalaman,” ujar Ricky.

Pada hari pertama, festival juga diisi BICARA Talks #1 bertajuk “Following the Tide: Through the Frame” yang mengulas perjalanan pariwisata Bali dari waktu ke waktu. Diskusi tersebut membahas peran masyarakat, kreativitas, dan sektor perhotelan dalam perkembangan destinasi-destinasi baru di Bali.

Agenda lainnya meliputi Pasar Pererenan bersama Diwagraya dan Wax in the Lobby: Arrival Sounds bersama Archie.

Pengalaman tersebut berlanjut melalui berbagai agenda hingga penutupan, termasuk Kecak Api, penurunan layang-layang, workshop fotografi di pantai, Wayang Lemah, tari tradisional Bali, hingga kolaborasi kuliner antara chef dari Filipina dan chef lokal.

Belajar dari Budaya Lokal

Mereren Festival juga menghadirkan Cultural Lab di Noema Hub dan kawasan pantai. Program ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk tidak hanya menyaksikan budaya, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas kreatif.

Sejumlah lokakarya yang ditawarkan meliputi pembuatan dupa, motif batik tradisional, sabun alami, upcycling, pembuatan jam, lukis tanah liat dengan glasir, cyanotype, fotografi pinhole, tari, hingga kegiatan wellness.

Pendekatan tersebut membuat festival tidak berhenti sebagai ruang rekreasi. Pengunjung diajak memahami praktik budaya dan kreativitas yang tumbuh di tengah masyarakat Pererenan.

Bagi wisatawan, pengalaman semacam ini menawarkan cara berbeda untuk mengenal Bali. Bukan hanya melalui pemandangan pantai atau fasilitas akomodasi, tetapi melalui interaksi dengan tradisi, komunitas, seni, kuliner, dan lingkungan tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. [darma]

 

 

Related post