UWRF 2026, Merayakan Sastra, Suara, dan Kisah Manusia
Ubud Writers & Readers Festival/Foto: dok.panitia
UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) kembali hadir pada 21–25 Oktober 2026 dengan membawa lebih dari 100 program yang mempertemukan sastra, gagasan, dan beragam kisah tentang manusia. Memasuki penyelenggaraan ke-23, festival yang dikenal sebagai salah satu perhelatan sastra paling berpengaruh di Asia Tenggara ini akan menghadirkan lebih dari 150 penulis, pemikir, jurnalis, dan penyair dari Indonesia maupun berbagai negara.
UWRF kali ini mengusung tema Samarasā: Awareness. Empathy. Action., mengajak publik tidak hanya membaca dan mendengarkan cerita, tetapi juga memahami pengalaman manusia dari berbagai sudut pandang. Kesadaran menjadi pintu untuk melihat persoalan dengan lebih jernih, empati membuka ruang untuk memahami sesama, sementara tindakan menjadi langkah untuk menghadirkan perubahan.
“Di tengah dunia yang semakin terpecah, kesadaran membantu kita melihat segala sesuatu dengan lebih jernih di tengah begitu banyak suara. Empati membantu kita memahami satu sama lain dan menemukan jalan untuk saling terhubung,” ujar Janet DeNeefe, Founder dan Director UWRF.
Menurut Janet, kesadaran dan empati tidak berhenti sebagai gagasan. Keduanya perlu diwujudkan melalui tindakan. Semangat tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai program, mulai dari percakapan bersama penulis, diskusi panel, makan siang sastra, hingga pertunjukan spoken word yang berlangsung hingga malam.
Mengingat Sejarah, Menyuarakan Kebenaran
Sejumlah program UWRF 2026 membawa peserta pada pengalaman personal yang berkelindan dengan sejarah. Salah satunya melalui percakapan bersama Tari Lang, yang akan membagikan kisah dalam memoarnya, My Neighbour, The Dictator. Buku tersebut merekam kehidupannya sebagai gadis berusia 14 tahun pada 1965, ketika kudeta Jenderal Soeharto membuat kedua orang tuanya dipenjara tanpa peradilan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Tari sekaligus membentuk cara pandangnya hingga hari ini. Di UWRF, ia akan berbagi bagaimana sejarah masa lalu terus memengaruhi kehidupan seseorang dan cara melihat dunia.
Keberanian untuk bersuara juga hadir dalam sejumlah sesi yang mengangkat persoalan kebenaran, sensor, dan kebebasan berekspresi. Dalam Defying Silence Together, jurnalis investigasi Dandhy Laksono akan berbincang dengan novelis Randa Abdel-Fattah, yang batal tampil di Adelaide Writers’ Week dan kemudian mendapat dukungan dari sejumlah peserta yang memilih menarik diri dari festival tersebut.
Persoalan pembungkaman dan represi kembali dibicarakan melalui Forbidden Stories: Banned Media and Magazines bersama aktivis hak asasi manusia Todung Mulya Lubis, serta The Violence of Culture bersama Michael Shaikh dan Yirga Gelaw Woldeyes.
Ketika Teknologi Mengubah Cara Bercerita
UWRF juga menyoroti perubahan zaman, khususnya ketika teknologi dan kecerdasan buatan mulai memengaruhi cara manusia hidup, bekerja, dan bercerita.
Melalui Burning Books, Accepting Artifice: Man or Machine, Brian Lang dan Dee Lestari akan membahas hubungan antara manusia, mesin, dan seni. Sementara itu, Reimagining the World: Nation-state and Technology menghadirkan Richard King dan novelis Inggris Rana Dasgupta untuk membicarakan kembali hubungan teknologi dengan dunia dan negara-bangsa.
Di sisi lain, UWRF memberikan ruang bagi berbagai suara dari latar belakang dan negara yang berbeda. Semangat tersebut tercermin dalam The Bandung Conference of Writers, yang mempertemukan para penulis dari Asia dan Afrika untuk menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung.
Dalam Literature: A Mirror to the World, pemenang Man Booker Prize 2006 Kiran Desai akan berbincang dengan penulis Palestina Adania Shibli mengenai berbagai kekuatan yang membentuk posisi dan peran seseorang di tengah masyarakat.
Perempuan, Tubuh, dan Ruang Domestik
Suara perempuan dan persoalan tubuh menjadi bagian penting dari program UWRF tahun ini. Dalam Women Who Write Women, akademisi, aktivis, dan penulis keturunan Afrika Selatan-Australia Sisonke Msimang akan berbincang bersama penulis Bali Oka Rusmini dan sejumlah pembicara lainnya mengenai pengalaman serta suara perempuan dalam berbagai konteks.
Sementara itu, The Domestic is Political bersama Amanda Echanis mengajak peserta melihat bahwa berbagai persoalan yang berlangsung di ruang domestik juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial yang lebih luas.
Persoalan penerjemahan dan perjalanan cerita perempuan turut dibahas melalui Translating Women is Translating Change. Tiffany Tsao, yang masuk dalam daftar panjang International Booker Prize 2022, akan membicarakan bagaimana kisah-kisah perempuan dapat terus hidup, berpindah bahasa, dan menjangkau pembaca yang lebih luas.
Sastra sebagai Cermin Kehidupan
Di antara beragam isu yang diangkat, UWRF juga memberi ruang pada pengalaman yang dekat dengan setiap manusia: kehilangan, kematian, dan proses menua.
Dalam The Story of a Heart, dokter perawatan paliatif sekaligus penulis buku laris Rachel Clarke berbagi tentang kehidupan, kematian, dan sisi kemanusiaan dalam dunia perawatan paliatif.
Penulis Pakistan Fatima Bhutto menghadirkan kisah tentang kekerasan dan perjuangan untuk bertahan hidup melalui The Hour of the Wolf. Sementara itu, Ageing: A Social Movement bersama David Carlin dan Peta Murray, penulis bersama How to Dress for Old Age, mengajak peserta melihat proses menua dari perspektif yang berbeda—tetap memiliki suara, pilihan, dan kehidupan yang diinginkan, dengan pendekatan yang tajam sekaligus jenaka.
Persoalan Indonesia juga mendapat tempat. Jurnalis investigasi dan pembuat film Dandhy Laksono akan membahas bukunya, Reset Indonesia, yang mengangkat isu reformasi sosial-politik dan keadilan lingkungan.
Sementara itu, penulis sekaligus musisi Reda Gaudiamo membawa peserta memasuki dunia sastra anak melalui Big Worlds for Little Readers. Ia akan berbagi tentang bagaimana menulis bagi pembaca muda sekaligus menghadirkan cerita yang mampu membicarakan tema-tema besar dengan bahasa sederhana, hangat, dan penuh imajinasi.
Ali Sethi, Musik, dan Identitas
Salah satu kehadiran yang dinanti adalah Ali Sethi, yang untuk pertama kalinya tampil di UWRF. Penulis, komponis, dan performer Pakistan-Amerika yang dikenal luas melalui lagu Pasoori ini akan berbagi tentang perjalanan hidupnya serta hubungan antara musik, budaya, kerinduan, dan identitas.
Kehadirannya sekaligus memperluas ruang perjumpaan UWRF, bahwa sastra dan budaya tidak selalu hadir melalui halaman buku. Musik, pengalaman personal, ingatan, dan identitas juga menjadi cara manusia memahami dirinya dan berhubungan dengan orang lain.
“Kami sangat bangga dapat menghadirkan Ali Sethi di Festival tahun ini. Karyanya mencerminkan semangat yang ingin kami hadirkan di UWRF, yakni mengangkat cerita dan pengalaman manusia, memberi ruang bagi kerinduan dan identitas, serta mengingatkan kita pada kemampuan manusia untuk berubah, beradaptasi, berharap, mencintai, mendengarkan, dan didengarkan,” ujar Namal Siddiqui, Head of Programming.
Dengan lebih dari 100 sesi, UWRF 2026 tidak sekadar menjadi ruang pertemuan para penulis dan pembaca. Di Ubud, sastra kembali ditempatkan sebagai jembatan untuk membaca zaman, memahami pengalaman manusia, dan menemukan kemungkinan perubahan melalui kesadaran, empati, dan tindakan. [niph]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali