Ulam Carik, Kuliner Tradisional dari Persawahan Tabanan

 Ulam Carik, Kuliner Tradisional dari Persawahan Tabanan

Tanah Lot Art and Food Festival VII menyajikan Ulam Carik, sejumlah hidangan yang merekam kekayaan bahan pangan dari lingkungan persawahan/Foto: darma

UDARA pagi terasa panas ketika Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki hari terakhir. Setelah menutup festival di Wantilan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga bersama para undangan menuju klinik kuliner.

Di tempat itu, berbagai makanan tradisional telah tersaji di atas meja. Salah satu yang menarik perhatian adalah Kuliner Tradisional Ulam Carik. Kuliner ini mengangkat suasana persawahan dengan menggunakan bahan-bahan yang biasa ditemukan di lingkungan sawah.

Sebagian undangan tampak belum mengenal nama makanan tersebut. Mereka pun bertanya kepada petugas yang melayani. Ada pula yang langsung mencoba karena penasaran. Para petugas dengan sabar menjelaskan bahan dan cara pengolahan setiap hidangan.

Ulam Carik memang menghadirkan makanan yang cukup jarang ditemui. Dari belut, kakul, ikan air tawar, hingga sayuran yang tumbuh di sawah, semuanya diolah menjadi hidangan dengan cita rasa khas Bali.

Salah satunya adalah Lindung Metunu Sambal Bejek, yang dibuat dari belut sawah pilihan. Belut dibumbui dengan base genep, kemudian dimasak secara tradisional menggunakan balutan daun pisang. Hidangan ini memiliki rasa gurih dan aroma khas, lalu disajikan bersama sambal bejek yang pedas dan segar.

Ada pula Kakul Suna Cakuh, berbahan keong sawah yang dimasak dengan bawang putih, kencur, dan rempah khas Bali. Tekstur kakul yang kenyal berpadu dengan rasa gurih dan pedas.

Pesan (Pepes) Testes menggunakan anak ikan air tawar atau testes. Ikan tersebut dibumbui dengan base genep, dibungkus daun pisang, lalu dimasak hingga menghasilkan aroma dan rasa yang khas.

Sementara Kuah Kakul dibuat dari kakul segar yang dimasak dengan base genep. Kuahnya kaya rempah, harum, dan cukup menggugah selera.

Untuk sayuran, ada Jukut Gonda, kuliner tradisional yang cukup dikenal di Tabanan. Bahan utamanya adalah pucuk tanaman gonda yang tumbuh di sekitar persawahan. Sayuran ini memiliki tekstur lembut dan rasa segar, kemudian dimasak dengan bawang putih dan cabai.

Tidak hanya makanan, Ulam Carik juga menyajikan beberapa minuman tradisional. Salah satunya Rujak Bir, yang memadukan kelapa muda dengan kuah rujak berbumbu khas Bali. Meski menggunakan nama “bir”, minuman ini tidak mengandung alkohol.

Ada juga Rujak Tibah (Mengkudu). Buah mengkudu dihancurkan dan diambil sarinya, kemudian dicampur dengan air, gula, garam, cabai, dan perasan jeruk. Rasanya menjadi perpaduan asam, manis, pedas, dan gurih.

Untuk kudapan, terdapat Jaje Uli Tape yang dibuat dari beras ketan, kelapa, dan tape ketan. Perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit asam membuat jajanan ini memiliki cita rasa yang khas.

Sementara Loloh Cemcem menjadi salah satu minuman tradisional Bali yang disajikan. Minuman herbal ini memiliki rasa manis, asam, dan gurih, ditambah kesegaran bulir kelapa muda.

Pameran kuliner di Tanah Lot Art & Food Festival tahuan 2026/Foto: darma

Berbagai hidangan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Bali memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar. Persawahan bukan hanya tempat untuk bertani, tetapi juga menjadi sumber bahan pangan yang kemudian diolah menjadi bagian dari tradisi kuliner.

Tiga Hari Penuh Seni dan Budaya

Tanah Lot Art and Food Festival VII berlangsung selama tiga hari, 28–30 Agustus 2026. Festival dengan tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya” ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni, budaya, kuliner, dan hiburan.

Festival tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan berbagai potensi Tabanan kepada masyarakat dan wisatawan. Selain itu, kegiatan ini memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk berkarya dan menampilkan kreativitas mereka.

Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda Tabanan atau yang mewakili, anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Sekda beserta para asisten Setda, para kepala perangkat daerah, camat se-Kabupaten Tabanan, Penglingsir Puri Kediri, Manajer DTW Tanah Lot, tokoh masyarakat setempat, serta para undangan.

Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga mengapresiasi pelaksanaan festival yang dinilai mampu menjadi ruang untuk mengangkat dan mempromosikan seni, budaya, kuliner, serta potensi pariwisata Tabanan.

“Tanah Lot memiliki posisi istimewa sebagai destinasi wisata yang telah dikenal hingga mancanegara,” katanya.

Menurutnya, panorama alam Tanah Lot merupakan anugerah sekaligus warisan leluhur yang harus dijaga. Ia juga mengapresiasi berbagai pertunjukan seni, budaya, dan kuliner tradisional yang ditampilkan selama festival.

“Selama tiga hari ini kita telah menyaksikan berbagai pertunjukan seni, budaya dan kuliner tradisional yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa daerah kita sangat kaya akan seni, budaya, kuliner tradisional dan berbagai potensi menarik lainnya,” ujar Dirga saat itu.

Tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya” dimaknai sebagai upaya menjaga kekuatan samudra menuju keharmonisan dan keseimbangan alam semesta. Melalui festival ini, masyarakat diharapkan semakin menyadari pentingnya menjaga laut dan lingkungan sebagai warisan untuk generasi mendatang.

“Event ini bukan hanya sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat identitas budaya kita serta memperkenalkan kekayaan warisan nenek moyang kepada generasi muda dan dunia,” tutur Dirga.

Pihaknya berharap festival tersebut dapat terus digelar setiap tahun. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat dan wisatawan, festival diharapkan mampu membantu mempromosikan Tanah Lot dan berbagai potensi budaya Tabanan.

“Saya sangat berharap event ini bisa dilaksanakan secara konsisten setiap tahun. Dibutuhkan kerja keras, kreativitas dan inovasi baru agar kunjungan wisata bisa terus meningkat dan DTW Tanah Lot semakin terkenal,” imbuhnya.

Pada akhirnya, Ulam Carik menjadi salah satu bagian menarik dari festival tersebut. Sajian sederhana dari lingkungan persawahan itu kembali memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Tabanan tidak hanya hadir melalui seni pertunjukan dan tradisi, tetapi juga melalui makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. [darma]

Related post