Utsawa Dharmagita dan Upaya Meneguhkan Jiwa Kebudayaan Bali
Para narasumber Seminar Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXXIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa, 15 September 2026/Foto: ist
UTSAWA Dharmagita (UDG) menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran nyanyian suci keagamaan Hindu sebagai jiwatman (roh) kebudayaan Bali. Dharmagita bukan sekadar tradisi lisan atau seni suara, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat Bali dalam memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama Hindu.
Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Dharmagita (LPDG) Provinsi Bali yang juga Ketua Program Studi Sastra Jawa Kuno, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum., saat menjadi narasumber dalam Seminar Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXXIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa, 15 September 2026.
Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian UDG Provinsi Bali XXXIII tersebut tidak sekadar menjadi ruang pertemuan atau forum penyampaian materi. Seminar menjadi media penting untuk mentransfer pengetahuan sekaligus menjembatani teori dan praktik, khususnya dalam bidang sastra dan budaya Bali.
Interaksi antara pakar dan peserta membuka ruang bagi pertukaran gagasan serta lahirnya pemikiran-pemikiran baru. Peserta seminar pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru agama Hindu, penyuluh Bahasa Bali, hingga para pecinta sastra dan budaya Bali.
“Dharmagita itu adalah cara belajar agama dan budaya, cara beragama, serta cara berbudaya krama Bali. Melalui Dharmagita, kita belajar sambil bernyanyi dan bernyanyi sambil belajar agama,” ungkap Prof. Suarka.
Menurutnya, terdapat tiga tahapan penting dalam proses menghayati Dharmagita. Pertama, wirama, yaitu melagukan atau menembangkan karya sastra suci sesuai dengan kaidah seni dan tembang yang benar.
Kedua, wiraga, yakni menerjemahkan dan mengomunikasikan pesan suci ke dalam bahasa yang dapat dipahami. Ketiga, wirasa, yaitu memahami, menghayati, dan mengamalkan makna filosofis yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
Akar Tradisi dari Bali Kuno
Secara historis, Prof. Suarka menjelaskan, tradisi bernyanyi atau magending dalam masyarakat Bali telah mengakar sejak abad ke-9, pada masa Bali Kuno. Berdasarkan Prasasti Bebetin bertahun 818 Saka atau 896 Masehi, telah dikenal kelompok atau perkumpulan seni di Bali yang mencakup pagending atau penembang, pamukul atau pemain kendang, papadahi atau penabuh gamelan, hingga pemain wayang.
Pertemuan tradisi penembangan Jawa Kuno atau angidung dengan tradisi Bali Kuno kemudian melahirkan pola melodi karawitan Bali yang dikenal dengan sistem laras Ding-Dung, yakni Ding, Dong, Deng, Dung, dan Dang. Sistem tersebut menjadi salah satu dasar perkembangan tradisi Kidung dan Tembang atau Sekar di Bali.
Dalam ajaran Hindu, Sekar yang berarti bunga sekaligus tembang juga memiliki makna simbolis. Sekar dipahami sebagai simbol lingga suci Hyang Widhi sekaligus menjadi salah satu sarana dalam pelaksanaan persembahyangan.
Karena itu, penguatan Dharmagita menjadi bagian integral dalam menopang kebudayaan Bali. Dharmagita memiliki keterkaitan dengan berbagai unsur kehidupan masyarakat, mulai dari agama, adat, bahasa, aksara, sastra, subak, hingga seni.
Upaya pemajuan tersebut juga memiliki landasan hukum, antara lain Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali, Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020, serta Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2023 tentang Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru.
“Pemajuan Dharmagita membutuhkan komitmen bersama dari pimpinan daerah, partisipasi publik, tokoh masyarakat, dan seluruh krama Bali melalui prinsip seken (bersungguh-sungguh), saja (jujur/setia), dan bani (berani berinvestasi untuk kebudayaan) guna mengintegrasikan dimensi sakala dan niskala demi mewujudkan Bali Wali Mawali,” tegas Prof. Suarka.
Lebih dari Sekadar Perlombaan
Narasumber berikutnya, Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi, SSKar., M.A., mengatakan, UDG tidak semata-mata dapat dipandang sebagai ajang perlombaan seni keagamaan Hindu. Lebih dari itu, UDG merupakan media strategis untuk memperkuat sradha, etika, karakter, dan identitas generasi muda Hindu.
“Dharmagita tidak hanya berbicara tentang seni vokal, tetapi juga memuat unsur sastra, musik, etika, spiritualitas, serta pendidikan karakter. Melalui seni, umat Hindu diajak menghayati ajaran agama secara lebih mendalam dan menyentuh aspek emosional maupun spiritual,” jelasnya.
Prof. Suarti Laksmi menegaskan, Utsawa Dharmagita merupakan ruang pertemuan antara agama, seni, pendidikan, budaya, dan kebersamaan. Karena itu, nilai utama yang dibangun tidak semata-mata mengejar kemenangan dalam perlombaan, tetapi juga menumbuhkan proses belajar, penghayatan, dan pengabdian.
Dengan demikian, panggung UDG tidak hanya menjadi tempat untuk menunjukkan kemampuan vokal atau penguasaan materi keagamaan. Di dalamnya terdapat proses pembentukan karakter sekaligus upaya memperkuat hubungan generasi muda dengan warisan budaya dan spiritual masyarakat Bali.
Menjawab Tantangan Generasi Z
Perspektif lain disampaikan narasumber Putu Gede Suarya Natha, S.S., M.Hum. Ia mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap penyelenggaraan Utsawa Dharmagita. “Jika selama ini tuntutan pelestarian kerap dibebankan kepada anak muda, kini pertanyaannya dibalik, apakah Utsawa Dharmagita turut mempersiapkan Generasi Z dan generasi muda untuk menjawab dinamika zaman?” tanyanya.
Suarya Natha mengungkapkan, berdasarkan data survei Deloitte pada 2023, Generasi Z menghadapi berbagai kecemasan global, seperti tingginya biaya hidup sebesar 53 persen, ketakutan terhadap pengangguran 22 persen, perubahan iklim 21 persen, isu kesehatan mental 19 persen, dan keamanan pribadi 17 persen.
“Di tengah gempuran arus globalisasi, perkembangan AI, dan krisis identitas digital, Utsawa Dharmagita hadir sebagai wadah pembentukan karakter, kepemimpinan, hingga penguatan identitas moral generasi muda,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan Ustawa Dharmagita dalam konteks yang lebih luas. Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan meminta generasi muda mempertahankan tradisi. Tradisi juga perlu hadir sebagai sesuatu yang relevan dengan persoalan dan tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Kebudayaan sebagai Jiwa Pembangunan Bali
Seminar Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXXIII dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, S.Ag., M.Si. Ia menyebut Utsawa Dharmagita bukan sekadar ajang kompetisi olah vokal suci, tetapi juga sarana penting untuk meningkatkan sradha atau keyakinan serta bhakti krama Bali kepada Tuhan, alam, dan sesama manusia.
Alit Suryana menjelaskan, pelaksanaan Utsawa Dharmagita XXXIII dengan tema “Dharmagita Atmanam Dharma” memiliki keterkaitan erat dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Bali, yakni “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.
Menurutnya, kebudayaan merupakan jiwa pembangunan Bali. Melalui enam pilar Sad Kerthi, yakni Atma Kerthi, Wana Kerthi, Danu Kerthi, Segara Kerthi, Jagat Kerthi, dan Jana Kerthi, kegiatan tersebut diarahkan pada pemuliaan jiwa melalui Atma Kerthi serta penguatan kualitas sumber daya manusia Bali melalui Jana Kerthi.
Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan kehidupan yang harmonis, sejahtera, dan bahagia, baik secara lahir maupun batin atau sekala lan niskala.
Alit Suryana berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Utsawa Dharmagita tidak berhenti sebagai seni lantunan nyanyian suci. Nilai tersebut diharapkan benar-benar dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan masyarakat.
“Melalui pemahaman dan pengamalan ajaran Dharmagita, krama Bali diharapkan dapat terus membentengi diri dengan pengetahuan (kaweruhan) dan kebijaksanaan (kawicaksanan) demi kedamaian serta ajegnya jagat Bali,” tandasnya.
Pada akhirnya, Dharmagita bukan hanya tentang bagaimana sebuah tembang dilantunkan dengan tepat atau sebuah karya sastra dibaca dengan indah. Di balik suara yang teratur dan syair yang diwariskan lintas generasi, terdapat pengetahuan, nilai spiritual, etika, dan identitas budaya yang terus mencari tempat dalam kehidupan masyarakat Bali.
Di tengah perubahan zaman, tantangan teknologi, dan derasnya arus globalisasi, keberadaan Dharmagita menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan warisan masa lalu dengan kebutuhan generasi masa kini. Ketika tradisi masih memiliki pelaku, ketika generasi muda masih bersedia belajar, dan ketika nilai-nilainya masih diamalkan, kebudayaan pun memiliki peluang untuk terus hidup. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali