rOrAs Ensemble Siapkan Words in Iron, Dokumentasi Karya dan Pemikiran Musikal Wayan Gde Yudane

 rOrAs Ensemble Siapkan Words in Iron, Dokumentasi Karya dan Pemikiran Musikal Wayan Gde Yudane

rOrAs Ensemble Siapkan Words in Iron, Dokumentasi Karya dan Pemikiran Musikal Wayan Gde Yudane

DENPASAR, BALI — rOrAs Ensemble Bali tengah mempersiapkan Words in Iron: Dokumentasi Karya New Music for Gamelan Maestro Wayan Gde Yudane, sebuah program dokumentasi yang mengangkat karya dan perjalanan artistik komponis Wayan Gde Yudane. Program ini dirancang untuk menghasilkan rekaman audio, partitur, dan film dokumenter yang dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran musik kontemporer berbasis gamelan.

Words in Iron mendapat dukungan dari Dana Indonesiaraya melalui kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau OPK Rawan Punah, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Program ini diarahkan untuk memperluas akses terhadap karya sekaligus pengetahuan musikal yang berkembang melalui pengalaman penciptaan seorang maestro.

Wayan Sumahardika, produser film Words in Iron, mengatakan bahwa program tersebut berangkat dari kebutuhan untuk mendokumentasikan pengetahuan yang tidak seluruhnya dapat ditemukan dalam rekaman pertunjukan maupun partitur.

rOrAs Ensemble Siapkan Words in Iron, Dokumentasi Karya dan Pemikiran Musikal Wayan Gde Yudane
rOrAs Ensemble Siapkan Words in Iron, Dokumentasi Karya dan Pemikiran Musikal Wayan Gde Yudane

“Kalau kita mendokumentasikan musik, biasanya yang pertama terpikir adalah merekam pertunjukannya. Padahal, ada banyak pengetahuan di balik sebuah karya yang tidak langsung kelihatan. Misalnya, bagaimana komponis membangun gagasannya, kenapa ia memilih pendekatan musikal tertentu, atau bagaimana gagasan itu berubah selama proses penciptaan. Hal-hal seperti itulah yang juga ingin kami dokumentasikan,” kata Sumahardika.

Menurutnya, perjalanan artistik Yudane menawarkan kesempatan untuk memahami bagaimana pengetahuan musikal gamelan Bali dapat terus berkembang melalui penciptaan kontemporer. Dokumentasi tersebut tidak diarahkan untuk menetapkan satu cara membaca karya Yudane, tetapi untuk membuka akses terhadap pengalaman dan pemikiran yang selama ini membentuk praktik komposisinya.

Salah satu perhatian dalam program ini adalah pandangan Yudane mengenai hubungan antara tradisi dan penciptaan musik baru. Bagi Yudane, tradisi tidak cukup dipahami sebagai warisan musikal yang harus dipertahankan dalam bentuk yang sama. Tradisi juga mengandung pengetahuan dan cara berpikir yang dapat terus digunakan untuk menjawab persoalan artistik yang berbeda.

“Buat saya, tradisi itu bukan sesuatu yang kita taruh di museum, lalu kita jaga supaya tidak berubah. Tradisi itu hidup. Di dalamnya ada cara berpikir, ada pengetahuan, dan semuanya bisa terus berkembang. Jadi, ketika saya membuat musik baru, saya tidak merasa harus meninggalkan tradisi. Justru dari pengalaman tradisi itulah banyak pertanyaan musikal saya muncul,” ujar Yudane.

Pemikiran tersebut turut memengaruhi cara Yudane memahami komposisi. Ia tidak hanya berurusan dengan susunan nada atau bentuk musikal, tetapi juga dengan hubungan antara bunyi, keheningan, tubuh, ruang, dan pengalaman waktu.

Dalam sejumlah karyanya, Yudane mengeksplorasi persoalan tersebut melalui pendekatan yang berbeda. Aquifers mengembangkan gagasan tentang aliran dan hubungan antarlapisan musikal. The Theft of Sita mengeksplorasi hubungan antara musik dan transformasi dramatik, sedangkan Gyre menempatkan ruang dan pergerakan sebagai bagian dari persoalan komposisi. Sementara itu, The Shape of Silence mengangkat hubungan antara resonansi, kelenyapan bunyi, dan ingatan pendengar.

Keempat karya tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana pertanyaan artistik Yudane berkembang dari waktu ke waktu. Perubahan itu tidak selalu berkaitan dengan pencarian bentuk musikal baru, tetapi juga dengan upaya memahami bagaimana musik dapat mengubah pengalaman seseorang ketika mendengarkan.

“Selama ini kita sering membicarakan komposisi sebagai kegiatan menyusun nada. Saya melihatnya lebih luas dari itu. Ada hubungan antara bunyi dan diam, antara pemain dan ruang, juga antara sesuatu yang kita dengar sekarang dengan sesuatu yang masih kita ingat. Saya tertarik dengan bagaimana hubungan-hubungan itu memengaruhi cara orang mendengarkan,” jelas Yudane.

Untuk mendokumentasikan perjalanan artistik tersebut, rOrAs Ensemble Bali menyiapkan produksi film yang melibatkan Wayan Sumahardika sebagai produser, I Wayan Medy Mahasena sebagai sutradara, dan Wayan Agus Wiratama sebagai penulis naskah.

Dalam kebutuhan musikal, program ini melibatkan Sanggar Gamelan Wrdhi Cwaram sebagai kelompok penabuh, sedangkan I Putu Adi Septa Suweca Putra dan Janu Janardhana bertanggung jawab sebagai penata audio.

Koordinasi keseluruhan kegiatan ditangani oleh Ni Putu Aristadewi sebagai manajer program, didukung Rita Sariani sebagai manajer administrasi dan keuangan.

Aristadewi menjelaskan bahwa persiapan Words in Iron juga mempertimbangkan pemanfaatan hasil dokumentasi setelah kegiatan produksi selesai. Karena itu, program ini tidak hanya mempersiapkan proses perekaman, tetapi juga merancang kegiatan diseminasi melalui pemutaran film, konser, dan diskusi karya.

“Sejak awal kami memikirkan bagaimana hasil dokumentasi ini nantinya bisa digunakan. Jangan sampai setelah film selesai, materinya hanya tersimpan. Kami ingin rekaman, partitur, dan filmnya bisa menjadi bahan belajar, baik untuk musisi, mahasiswa, komunitas gamelan, maupun orang-orang yang ingin mengenal pemikiran musikal Yudane,” kata Aristadewi.

Melalui tiga bentuk dokumentasi tersebut, Words in Iron berupaya menyediakan cara yang berbeda untuk mempelajari karya. Rekaman audio memungkinkan pendengar menyimak karakter dan hubungan antarbunyi, partitur memberikan rujukan mengenai struktur komposisi, sedangkan film diharapkan dapat menghadirkan pengalaman dan pemikiran artistik yang tidak seluruhnya tersedia melalui kedua medium tersebut.

Bagi Sumahardika, upaya ini juga berkaitan dengan keberlanjutan pengetahuan musik di tengah perkembangan praktik seni kontemporer.

“Kami tidak ingin dokumentasi ini hanya menjadi catatan bahwa Yudane pernah menciptakan karya-karya tertentu. Yang lebih penting, bagaimana orang lain bisa mempelajari cara berpikir dan proses penciptaannya. Dari sana, mungkin akan muncul pertanyaan baru, pendekatan baru, bahkan karya-karya yang sama sekali berbeda,” ujarnya.

Melalui Words in Iron, rOrAs Ensemble Bali berharap dokumentasi karya dan pemikiran Wayan Gde Yudane dapat memperluas sumber pembelajaran mengenai musik kontemporer berbasis gamelan. Program ini sekaligus menjadi upaya untuk menjaga agar pengetahuan yang berkembang melalui pengalaman seorang komponis tetap dapat diakses, dipelajari, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Related post