Kitapoleng x Artjog 2022 Pentaskan “Nungkalik” Teman Tuli dan Suara-Suara yang (Tak) Hilang

 Kitapoleng x Artjog 2022 Pentaskan “Nungkalik” Teman Tuli dan Suara-Suara yang (Tak) Hilang

Koreografer Jasmine Okubo akan mementaskan pertunjukan Nungkalik di Artjog 2022. Sajian kali ini pasti beda, sebab ia mengangkat “Menjadi tuli” sebagai metode pendekatan untuk menyelami kehidupan teman tuli lebih dalam. Kesenian menjadi medianya. Kesenian beserta kelenturan yang dimiliki memberi potensi tak terhingga untuk mengekspresikan suara-suara yang tak terdengar; suara-suara yang mengendap di kedalaman diri mereka. “Kami akan mementaskan pertunjukan Nungkalik di Artjog 2022. Proses ini menjadi menarik, menjadi tantangan tersendiri bagi saya juga seluruh tim produksi Kitapoleng,” kata Jasmine disela-sela latihan di Maha Art Gallery, Senin 1 Agustus 2022.

Dalam garapan ini, para penari menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan konsep, memberi pemahaman dan pemaknaan terhadap teks, juga ekspresi-ekspresi lainnya melalui tari atau koreografi. “Lebih membanggakan, teman-teman tuli yang terlibat memiliki semangat luar biasa. Mereka berlatih keras untuk menghapal dan mempraktekan garapan baru ini. Semangat dan kegigihan teman tuli, seakan menampar saya, menampar kita semua akan dedikasi dan kesungguhan kerja yang mereka lakukan,” ungkapnya.

Sadar atau tidak, diskriminasi dibanyak hal masih dialami teman tuli yang menutup kesempatan mengaktualisasi diri dan menunjukkan perannya dalam masyarakat. Begitu pula ruang yang terbatas untuk bisa menyampaikan aspirasi, cenderung membuat teman tuli sulit beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang dinamis. Meski bisu-tuli, mereka memiliki suara yang sama dengan orang normal. Bahkan tak jarang begitu kontradiktif, bertolak belakang : “nungkalik”.

Mereka memiliki kemampuan, bahkan kemauan yang jauh lebih besar untuk menghapus sekat dan batas “kekurangan” di dalam diri mereka. “Nungkalik, secara sederhana bisa dimaknai sebagai terbalik, bisa pula bertolak belakang. Karya ini didasari realitas sederhana mengenai kontradiksi yang ada dalam pandangan kultural masyarakat. Pandangan umum mengenai kekurangan adalah kelemahan, runtuh ketika dibenturkan pada realitas yang sebenarnya,” paparnya.

Baca Juga:  “Bhatari Sri dan Wong Gamang” Dua Film karya Kitapoleng Suguhkan Mitologi Bali dan Realitas Ini Hari

Maha Art Gallery telah menjadi ruang untuk mempertajam, memperkaya, sekaligus mewujudkan gagasan Nungkalik itu. Di ruang ini, proses produksi bisa berjalan nyaman dengan adanya penerimaan penuh dari seluruh tim. “Saya sangat bersyukur sudah dibantu peminjaman fasilitas ruangan yang proper dan nyaman untuk tempat latihan,” ucapnya senang.

Ruang Kesadaran

Pertunjukan Nungkalik yang akan dipentaskan pada Sabtu, 6 Agustus, pukul 19.30 WIB di Museum Nasional Yogyakarta ini akan melibatkan 4 (empat) teman tuli yang menjadi penari utama, yakni Wahyu, Salsa, Yogi, dan Ayu. Mereka memadukan elemen gerak (bahasa isyarat), tari, musik, serta visual mapping yang menekankan pada kedalaman makna, puitika tubuh, dan interaksi visual.

Nungkalik, tentu saja tak sekedar pertunjukan seni semata. Namun, lebih dari itu. Nungkalik seolah membuka ruang kesadaran bersama, bahwa ada sesuatu yang mesti dan layak untuk diperjuangkan bersama-sama. Menilik persiapan dan produktivitas kerja yang telah dilakukan, pertunjukan ini digadang-gadang menjadi pertunjukan istimewa.

Direktur artistik dan visual, Dibal Ranuh mengatakan, visual di sini tidak hanya sebagai latar pertunjukan. “Kami berusaha menciptakan dan merealisasikan visual yang dinamis sekaligus interaktif untuk menggali kemungkinan dan segala potensi dalam pertunjukan. Pemilihan kostum juga komponen artistik lainnya pun harus mampu merepresentasikan makna, pesan, dan wacana yang kami hadirkan bagi publik yang lebih luas,” ujarnya.

Nungkalik

Sementara manajer produksi Pranita Dewi menjelaskan, “Nungkalik” dan berbagai pemikiran yang mendasarinya ini dapat dikatakan matang. Untuk mewujudkan Nungkalik ini membutuhkan keterlibatan dan partisipasi seluruh pihak, baik dari sisi transportasi, kebutuhan artistik dan properti, kostum dan sebagaianya. Sebab itulah, mereka membuat crowd funding untuk menjaga api selalu menyala. “Kami selalu ingin berkolaborasi dengan segala pihak, seperti halnya dengan Maha Art Gallery,” ungkapnya.

Baca Juga:  Gubernur Koster: Bahasa, Aksara, dan Sastra Merupakan Akar Kebudayaan Bali

Momentum ini menjadi kesempatan besar bagi kita untuk menunjukkan kepedulian sekaligus dukungan terhadap semangat teman tuli. Semoga banyak yang tergerak dan memberi apresiasi bagi kerja-kerja kreatif teman tuli mengaktualisasi diri di tengah diskriminasi yang sampai saat ini masih mereka alami. “Semoga kita semua bersepakat, bahwa kita tidak menjadi bagian dari diskriminasi itu,” sebutnya penuh semangat.

Sedangkan pemilik Maha Art Gallery sekaligus Ketua Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, Agus Maha Usadha mengatakan, segala bentuk potensi harus dikembangkan. Apalagi bersentuhan langsung dengan dunia kesenian yang memang begitu lekat dengan karakteristik budaya Bali. “Sejauh ini, NCPI sebagai organisasi yang bergerak di dunia pariwisata memang memiliki fokus dan kepedulian besar terhadap pengembangan segala potensi sumber daya manusia yang ada,” jelasnya.

Perlu diingat, kesenian menjadi pilar penting dalam pariwisata Bali, sehingga sangat patut dan wajib untuk difasilitasi. “Posisi kami di sini sangat jelas, berkolaborasi dan mendukung kegiatan berkesenian dari Kitapoleng Bali. Kita harus bergerak bersama. Karena itu kami mengundang seluruh pihak untuk berkolaborasi dan ikut berkontribusi untuk mewujudkan pertunjukan anak-anak bisu-tuli ini,” pungkas Agus yang juga menjabat sebagai Wakil Kadin Bali itu. [B/*]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post