Jembrana Creative Festival 2026, Menghidupkan Ruang Publik Lewat Kreativitas dan Budaya Anak Muda
KABUPATEN Jembrana kini memiliki warna baru dalam lanskap kegiatan budaya dan kreatifnya. Selama ini, Jembrana dikenal melalui beragam atraksi budaya seperti makepung, gamelan jegog, bungbung kepyak, hingga kendang mebarung. Namun, mulai akhir pekan ini, ada pengalaman berbeda yang bisa dinikmati masyarakat dan wisatawan melalui gelaran Jembrana Creative Festival (JCF) 2026.
Festival ini berlokasi di Taman Pecangakan, jantung Kota Negara menghadirkan ruang publik yang dikemas sebagai sebuah playground kreatif. Kawasan di depan Kantor Bupati Jembrana tersebut disulap menjadi ruang interaksi yang mempertemukan seni, musik, budaya, kuliner, dan berbagai bentuk ekspresi kreatif anak muda.
JCF 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jembrana, Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif, bersama komunitas kreatif setempat, terbuka gratis untuk umum. Gerbang festival dibuka setiap hari mulai pukul 12.00 WITA. Pengunjung dapat menikmati beragam kegiatan, mulai dari pertunjukan musik dan seni, kuliner, lokakarya, hingga pasar kreatif dalam satu kawasan.
“Kami ingin Taman Pecangakan menjadi ruang di mana anak muda Jembrana berani mencoba, menemukan, dan berkolaborasi. Pengunjung JCF bukan penonton, mereka adalah pemain di playground ini,” ujar Wena Wahyudi, Festival Director Jembrana Creative Festival 2026 yang juga merupakan Tenaga Ahli Bidang Ekonomi dan Infrastruktur Pemkab Jembrana, Jumat 30 Oktober 2026.
JCF 2026 mengusung tema “Reimagine the Playground — Where Creativity Meets Play” mengajak pengunjung untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi turut terlibat dalam berbagai aktivitas, bereksperimen, dan menghasilkan karya. Festival ini juga dihadirkan bertepatan dengan dua momentum penting bagi generasi muda, yakni Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober dan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Keduanya menjadi pengingat akan pentingnya peran generasi muda dalam mengembangkan kreativitas dan potensi daerah.
Konsep festival berangkat dari upaya memaknai kembali ruang publik. Alih-alih menghadirkan sebuah kawasan baru yang terpisah dari kehidupan kota, Taman Pecangakan yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat diolah menjadi ruang kreatif bersama. Semangat kolaborasi atau co-create menjadi landasannya. Komunitas, musisi, seniman, hingga pelaku usaha lokal dilibatkan dalam merancang dan mengisi berbagai kegiatan festival.
Salah satu inisiatif menarik dalam JCF 2026 adalah fasilitasi pendaftaran merek dan hak kekayaan intelektual (HKI). Melalui kerja sama Disparbud Jembrana dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jembrana, para kreator lokal mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi sekaligus mendaftarkan merek maupun karya mereka.
Layanan tersebut tersedia di Booth HKI/IP Corner yang berada di area Creative Market & Hub. Kehadiran fasilitas ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesadaran pelaku ekonomi kreatif terhadap perlindungan identitas dan karya intelektual mereka.
Musik, Seni, dan Kolaborasi Komunitas
Main Stage menjadi salah satu daya tarik utama festival dengan menghadirkan lebih dari 30 penampil selama dua hari. Panggung ini mempertemukan band dan solois asal Jembrana dengan sejumlah nama besar dalam kancah musik Bali.

Pada hari pertama, Sabtu 31 Oktober, pengunjung akan disuguhkan penampilan Tika Pagraky, Birama, Bramasta, Kabyah & Gung Gen, serta duo ayah dan anak asal Jembrana, Mr. Rayen & Omang Verly. Peradah Jembrana bersama Nawadewata Production juga akan menghadirkan pertunjukan khusus bertajuk Special Cultural Show.
Malam pertama semakin semarak dengan sambutan Bupati dan Wakil Bupati Jembrana, agenda Awarding Night, serta penyerahan piagam penghargaan kepada komunitas. Band legendaris Bali, Navicula, akan menjadi penutup rangkaian pertunjukan hari pertama.
Memasuki hari kedua, Minggu 1 November, panggung musik akan kembali diramaikan oleh sejumlah musisi. Yeh Kuning dan Made Gimbal tampil sebagai representasi talenta lokal atau local hero pada pukul 17.25 WITA. Selanjutnya, pengunjung dapat menikmati penampilan Deleo, Afterteen, serta Jangar, kuartet heavy rock peraih AMI Awards.
Salah satu kolaborasi yang paling dinantikan adalah pertemuan musik Bali rock dan koplo melalui penampilan Lolot x Bagus Wirata pada pukul 20.45–21.45 WITA. Rangkaian festival kemudian ditutup oleh Pemoeda Soeka Karokoe.
Tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, JCF 2026 juga menyediakan ruang bagi pertukaran gagasan dan pengetahuan melalui Community Stage. Salah satu agenda yang menarik adalah talkshow Music Publicity bersama Rudolf Dethu dan Dani Supriatna. Ada pula Negaroa Speaks, sesi perbincangan santai bersama UD Sri Rejeki yang menghadirkan kreator konten lokal Jebret dan Kak Aul bersama Bupati Jembrana.
Merawat Tradisi melalui Pendekatan Kreatif
Aspek budaya dan tradisi juga mendapat tempat tersendiri dalam festival ini. Melalui program Reimagining Tradition: Nyikut Rupa dan sesi sketsa langsung ogoh-ogoh bertajuk Dari Garis Jadi Raksasa, Sunaren bersama peserta Sekaa Teruna Teruni (STT) akan memperlihatkan proses kreatif di balik perancangan ogoh-ogoh.
Pengunjung dapat menyaksikan bagaimana sebuah gagasan visual berkembang menjadi sketsa hingga rancangan figur ogoh-ogoh. Program ini menjadi bentuk pertemuan antara tradisi dan pendekatan kreatif kontemporer, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal proses penciptaan karya seni yang berakar pada budaya Bali.
Bagi pengunjung yang ingin mencoba pengalaman baru, tersedia Workshop Cyanotype bersama Gung Ama serta Drum Clinic bersama Hendra Lolot dan JDC. Suasana festival juga semakin semarak dengan penampilan komedi tunggal dari StandupIndo Jembrana.
Merayakan Produk Lokal dan Kreativitas Jembrana
Di area Creative Market & Hub, pengunjung dapat menjelajahi beragam produk lokal, mulai dari fesyen, kerajinan tangan, karya seni, hingga berbagai merek kreatif yang tumbuh di Jembrana. Area ini sekaligus menjadi lokasi Booth HKI/IP Corner yang memberikan layanan konsultasi dan fasilitasi pendaftaran kekayaan intelektual.
Sementara itu, para pencinta kuliner dapat menikmati Taste of Jembrana, sebuah area yang menghadirkan berbagai tenant makanan dan minuman lokal. West Club Creative Syndicate turut meramaikan festival melalui kegiatan free coloring dan seni digital.
Bagi pengunjung dewasa, tersedia Red Zone 18+ yang menghadirkan program The Art of Mixology bersama Komunitas Bartender Jembrana. Dalam sesi ini, arak Bali menjadi salah satu bahan eksplorasi untuk memperkenalkan kekayaan minuman lokal melalui kreativitas seni meracik minuman.
Program lainnya mencakup Live Cooking bersama Taman Teduh x Kabyah serta penampilan DJ setiap malam dari DJ Arpani dan DJ Erick Foe.
Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Jembrana
Lebih dari sekadar festival hiburan, Jembrana Creative Festival 2026 menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Jembrana dalam memetakan dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif daerah. Dengan melibatkan berbagai komunitas dan pelaku usaha, festival ini memberikan ruang bagi talenta lokal untuk memperkenalkan karya sekaligus memperluas jejaring dan akses pasar.
Potensi ekonomi kreatif Jembrana tersebar dalam 21 subsektor, mulai dari musik, kuliner, kriya, dan fesyen hingga konten digital. Melalui JCF, berbagai potensi tersebut diharapkan dapat terhubung dalam sebuah ekosistem yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Festival ini digagas oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Disparbud Jembrana, Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif, dengan melibatkan komunitas kreatif sebagai bagian penting dalam proses penyelenggaraannya. Ke depan, JCF dirancang menjadi agenda tahunan yang tidak hanya memperkuat identitas kreatif Jembrana, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat.
“Masa depan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia dimulai dari sebuah ruang, sebuah pertemuan, dan keberanian untuk mencoba. Itulah yang ingin kami rayakan bersama masyarakat Jembrana,” tutup Wena Wahyudi. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali