Episentrum Baru Kreativitas Bali: Ketika Musik, Film, Kuliner, dan Seni Menyatu di COCA Ubud
COCA Arts Spice
Di balik ketenangan Peliatan, sebuah ruang kreatif baru baru saja menorehkan babak baru bagi lanskap budaya Bali. COCA Ubud—singkatan dari Ubud’s Creative House—resmi membuka pintunya pada 30 Oktober 2026.
Berlokasi di kawasan Titik Dua Ubud, kehadiran COCA tidak sekadar menambah daftar tempat singgah di Gianyar, melainkan menghadirkan sebuah ruang temu dinamis yang mempertemukan musik, film, kuliner, dan seni dalam satu ekosistem yang saling berkelindan.
Lahirnya COCA menandai transformasi organik dari Titik Dua. Jika selama ini Titik Dua dikenal sebagai tempat beristirahat dan berefleksi, maka COCA hadir untuk melengkapinya dengan energi yang lebih aktif.
General Manager Titik Dua, Fonny Makatita menjelaskan, COCA berkembang dari hubungan, program, dan komunitas yang dibangun sejak awal. Hubungan ini dirancang secara harmonis: Titik Dua sebagai ruang jeda, dan COCA sebagai ruang eksplorasi budaya serta tempat membangun koneksi.
Perjalanan COCA bermula dari sebuah bar dan ruang sosial sederhana. Seiring berjalannya waktu, inisiatif ini bertumbuh melampaui batasan hospitality konvensional. Pendekatan arsitekturnya sendiri mencerminkan semangat eksplorasi tersebut—bekas Barwa Gallery dirancang ulang oleh arsitek Andra Matin lewat pendekatan adaptive reuse.
Dinding-dinding bata tua yang memegang sejarah bangunan dipertahankan dengan anggun, berdampingan dengan instalasi anyaman rotan garapan BYO Living di area mezzanine. Instalasi yang terinspirasi dari dialog kreatif Elevation di Venice Architecture Biennale 2018 ini diinterpretasikan ulang melalui filosofi masyarakat Bali, Tri Hita Karana.
Eksplorasi budaya di COCA Ubud dirajut melalui empat pilar pengalaman utama: Listen, Watch, Eat, dan Explore.
Pengalaman Listen mewujud di COCA Selekta, sebuah vinyl listening bar intim yang menyimpan lebih dari 1.000 koleksi piringan hitam. Dibangun dari koleksi pribadi pemilik dan dikurasi bersama desainer musik Munir, tempat ini mempertemukan ritme musik Indonesia dengan berbagai warna suara dari belahan dunia.
Pindah ke pengalaman Watch, pengunjung disambut oleh COCA Theatre. Sebagai bioskop independen pertama di Bali yang dibekali teknologi laser projection, ruang ini menjadi rumah bagi Ubud: Cinecurious—sebuah wadah bagi penikmat sinema untuk merayakan film independen dan bertemu langsung dengan para pembuatnya di luar sirkuit komersial.
Untuk pengalaman Eat, COCA Dining menyajikan hidangan Peranakan sepanjang hari. Terinspirasi dari kekayaan tradisi makan bersama di Asia, ruang yang terbuka dan santai ini menyambut siapa saja—mulai dari warga lokal hingga wisatawan—untuk merayakan kebersamaan di meja makan.
Sementara itu, pilar Explore diwadahi oleh COCA Artspace, sebuah ruang seni kontemporer yang melanjutkan rekam jejak Titik Dua dalam menggelar pameran, instalasi, dan kolaborasi artistik lintas disiplin.
Merayakan pembukaannya, COCA menggelar Opening Season sepanjang Oktober hingga November 2026. Rangkaian program ini dipuncaki oleh Kepulauan Ingatan: Perjalanan 45 Tahun Garin Nugroho, sebuah perayaan lintas disiplin yang menghadirkan retrospektif film, pemutaran arsip audiovisual, kelas master, hingga pertunjukan vokal.
Musim pembukaan ini juga diramaikan oleh Pesta Boneka on Wheels bersama Papermoon Puppet Theatre, Soft Launch Bali International Cinema Festival (BICIF), perayaan satu dekade album RAJAKELANA dari Mondo Gascaro, retrospektif karya Joko Anwar, serta festival komunitas CONFEST BALI 2026.
Pada akhirnya, COCA Ubud bukan sekadar gabungan dari empat tempat berbeda dalam satu area, melainkan sebuah undangan terbuka. Di sini, siapa pun bisa menikmati hidangan sembari menyesap pameran seni, mendengarkan alunan piringan hitam sebelum menonton film, atau sekadar datang kembali untuk menemukan kejutan baru dari wajah kreatif Bali yang terus bergerak. [darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali