Dosen Pedalangan ISI Denpasar Lestarikan Wayang Wong di Banjar Pesalakan Gianyar

 Dosen Pedalangan ISI Denpasar Lestarikan Wayang Wong di Banjar Pesalakan Gianyar

Dosen Pedalangan ISI Denpasar lestarikan Wayang Wong di Banjar Pesalakan Gianyar/Foto: ist

Bali memang unik. Dalam setiap pelaksanaan upacaranya selalu melibatkan berbagai bentuk kesenian seperti; seni karawitan, seni tari, seni pesantian, kidung, wayang kulit, topeng, dan lain-lain. Selain itu, tidak jarang pura dijadikan sebagai tempat pemujaan berbagai bentuk kesenian.

Sebut saja kesenian barong. Jenisnya pun sangat beragam, seperti Barong Ket, Barong Bangkung, Barong Macan, Barong Gajah, Barong Landung, Rangda, dan lain-lain. Jenis kesenian yang juga disungsung oleh masyarakat di sebuah pura adalah Wayang Wong.

Hampir sebagian besar keberadaan Wayang Wong di Bali disungsung di pura atau merajan. Sebut saja Wayang Wong yang disungsung oleh masyarakat di Pura Dalem Prajurit, Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali.

“Kesenian Wayang Wong ini, dulunya sangat eksis dipentaskan pada saat pujawali (odalan), tetapi kini jarang dipentaskan karena minim atau tidak ada generasinya,” kata Dosen Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Ni Komang Sekar Marhaeni, beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Tiga Mahasiswa ISI Denpasar Pamerkan 31 Karya Seni di Maha Art Gallery

Karena itu, lanjut Komang Marhaeni, pada tahun 2024, dosen Pedalangan ISI Denpasar melakukan pembinaan terhadap Kesenian Wayang Wong di Banjar Pesalakan. Saat itu, para penarinya yang dilibatkan semuanya berasal dari Banjar Pesalakan dan sekitarnya.

Dosen Pedalangan ISI Denpasar lestarikan Wayang Wong di Banjar Pesalakan Gianyar/Foto: ist

Ide awalnya, jelas Komang Marhaeni pada 2023, bertepatan dengan pujawali di Pura Dalem Prajurit, masyarakat setempat meminta bantuan kepada mahasiswa Prodi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar untuk mementaskan Kesenian Wayang Wong tersebut.

“Kegiatan ini, sebagai salah satu program dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dan Pengembangan Pendidikan (LP2MPP) ISI Denpasar. Program ini implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat,” ucapnya.

Menurutnya, program pengabdian kepada masyarakat di tahun 2024 ini, didanai oleh DIPA ISI Denpasar. “Kebetulan saya yang memenangkan hibah itu bersama I Ketut Kodi, I Made Sidia dan I Made Marajaya, serta dalam pengabdiannya melibatkan mahasiswa Pedalangan,” sebutnya.

Baca Juga:  Tim Penyuluh Bahasa Bali Konservasi 50 Cekep Lontar di Puri Anyar Kerambitan

Program itu berjalan selama enam bulan sejak Maret hingga September 2024. Hasil atau capaian program pembinaan ini telah didesiminasikan pada tanggal 19 September 2024 di Banjar Pesalakan bertepatan dengan upacara pujawali (odalan) di Pura Dalem Prajurit.

Dosen Pedalangan ISI Denpasar lestarikan Wayang Wong di Banjar Pesalakan Gianyar/Foto: ist

Desiminasi ini penting disajikan kepada masyarakat agar diketahui secara lebih luas. Pementasan ini juga disaksikan oleh Ketua LP2MPP ISI Denpasar beserta jajarannya, dan mendapat apresiai karena keberhasilan itu.

Kesenian Wayang Wong ini disimpan atau dimiliki oleh pangempon Pura Delem Prajurit di Banjar Pesalakan. Jenisnya terdiri dari tapel Tualen, tapel Merdah, tapel Delem, tapel Sangut, tapel Hanoman, dan tapel Geruda. Disimpan pula sesuhunan Rangda.

“Wayang Wong. Secara etimologi, kata “Wayang Wong” dapat diartikan dengan Wayang Orang (wong = orang). Wayang Wong, salah genre kesenian wayang dalam pentasnya divisualisasikan dalam bentuk dramatari, yaitu gabungan antara seni drama dan seni tari,” paparnya.

Baca Juga:  Sanctoo Suites & Villas Tunjukkan Eksistensi Bahasa Bali

Wayang Wong yang sering disebut Barong Dedingkling atau kedingkling, oleh masyarakat Hindu Bali diyakini sebagai kesenian sakral dan langka, serta dipuja dan disungsung di beberapa pura atau merajan.

Hingga saat ini kesenian Wayang Wong masih dapat ditemukan di beberapa daerah di Bali seperti; di Desa Tejakula (Buleleng), Desa Apuan (Bangli), Desa Sulahan (Bangli), Desa Blahkiuh (Badung), Desa Bualu (Badung), Desa Sanur (Denpasar).

Desa Mas (Gianyar), Desa Telepud (Gianyar), Desa Den Tiyis (Gianyar), Desa Pejeng Kangin (Gianyar), Desa Marga (Tabanan), Desa Apuan (Tabanan), Desa Tunjuk (Tabanan), Desa Klating (Tabanan), Desa Wates Tengah (Karangasem), Desa Perancak (Jembrana), dan lain-lain.

Sedanhkan Wayang Wong yang terdapat di Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar ini, disungsung oleh masyarakat Banjar Pesalakan dan disemayamkan di Pura Dalem Prajurit. Wayang Wong ini pernah eksis, kini tidak ada generasi dan menyisakan beberapa tapel saja.

Baca Juga:  Lomba Kesenian Bali di Abiansemal

Pada tahun 2023 yang lalu, bertepatan dengan pujawali di Pura Dalem Prajurit Banjar Pesalakan, masyarakat setempat meminta bantuan kepada mahasiswa Prodi Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar untuk mementaskan Kesenian Wayang Wong tersebut.

Program pengabdian kepada masyarakat ISI Denpasar tahun 2024/Foto: ist

Wayang Wong merupakan salah satu seni teater tradisional Bali ini, yang diperkirakan muncul pada abad ke 16 pada masa pemerintahan Kerajaan Gelgel di Klungkung. Cerita Wayang Wong bersumber dari Epos Ramayana ini, merupakan pengembangan dari Wayang Kulit Ramayana.

Kemudian berkembang menjadi Tari Cak (kecak) Ramayana, dan Sendratari Ramayana. Selain kita mengenal Wayang Wong Ramayana, kita juga mengenal Wayang Wong Parwa yang ceritanya bersumber dari Epos Mahabharata.

Perbedaan dari kedua jenis kesenian ini terletak pada cerita dan busananya. Jika Wayang Wong Ramayana, hampir semua penarinya memakai tapel menyerupai wayang, sedangkan Wayang Wong Parwa memakai tata rias wajah menyerupai wayang.

Baca Juga:  Paguyuban Kandapat Desa Sedang Bergerak Dibidang Seni, Budaya dan Agama

Wayang Wong Ramayana maupun Wayang Wong Parwa diiringi dengan gamelan Batel Gender Wayang berlaras selendro. Wayang Wong sering disebut sebagai seni teater tradisional Bali, karena masing-masing penarinya wajib menari dan berdialog sesuai dengan perannya.

Di sinilah letak kesulitan menarikan Wayang Wong daripada kesenian dramatari lainnya seperti; Arja, Topeng Prembon, Calonarang, dan lain sebagainya. Walaupun antawacana (suara tokoh) dan retorikanya (cara bertutur) sangat bagus, tetapi karena terhalang tapel, maka suara masing-masing tokoh tidak jelas didengar penonton oleh (kurang komunikatif).

Berbeda halnya dengan Wayang Wong Parwa, dimana semua penarinya bebas untuk berekspresi, baik melalui gerak maupun antawacana sesuai dengan tokoh yang diperankan.

Adapun materi yang diberikan dalam pelatihan Wayang Wong di Banjar Pesalakan meliputi: (1) gerak tari, yaitu melatih tari Meganada, Rama, Laksemana, Dewi Sita, Hanoman, Garuda, Raksasa, Condong, dayang-dayang, raksasa, Tualen, Merdah, Delem, dan Sangut.

Baca Juga:  Sekehe Janger Samar Gantang, Duta Kota Denpasar Siap Tampil di PKB XLVII

(2) antawacana, yaitu memberikan dasar-dasar olah vocal baik dalam bentuk tetembangan maupun gancaran atau suara-suara tokoh-tokoh yang terlibat dalam pementasan Wayang Wong berjudul “Maya Sandi” ini.

(3) dialog, yaitu memberikan cara berdialog dengan menggunakan bahasa Bali dan bahasa Kawi, baik terhadap tokoh wanita, tokoh berwatak manis, tokoh berwatak keras, raksana, punakawan (Tualen, Merdah, Delem, dan Sangut) dan;

(4) memberikan pola lantai (pedum karang) dan dramatisasi sesuai dengan alur lakon. Seluruh materi ini disampaikan melalui metode ceramah dan metode praktek.

Secara estetik, pembinaan yang dilakukan di Banjar Pesalakan dapat dikatakan sukses, karena para penarinya disiplin dalam latihan dan mampu menangkap seluruh materi yang diberikan mulai dari gerak maknawi (tari), bahasa, antawacana, dan dramatisasi lakon.

Lomang Marhaeni mengatakan, ke depan, kesenian Wayang Wong perlu dilestarikan dan dikembangkan karena merupakan asset budaya Bali. Mengingat fungsi Wayang Wong tidak saja sebagai wali, melainkan sebagai hiburan yang hampir sama kedudukannya dengan tari topeng dan lain-lainnya. [B/darma]

Related post