Festival ke Uma Digelar Dua Hari di Subak Sidangrapuh
Permainan paid upih/Foto: dok.festival ke uma
SANGGAR Buratwangi dan Wintang Rare Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan kembali menggelar Festival ke Uma. Kali ini telah memasuki pelaksanaan ke V berlangsung di Subak Sidangrapuh, Sabtu dan Minggu, 27 – 28 September 2025.
Festival yang focus pada budaya pertanian dan permainan tradisional itu dibuka dengan permainan matimbang yang didukung oleh anak-anak SD No. 1 Marga Dauh Puri, Sabtu, 27 2025. Kegembiraan anak-anak memberi warnai ajang non profit itu yang digelar sejak 2017 itu.
Di tengah asyiknya bermain, tanpa disadari mereka juga melakukan dikenalkan budaya pertanian yang belakangan ini sudah semakin jauh dengan kehidupan mereka. Kehadiran mereka, serasa membuat suasana subak yang asri itu menjadi lebih bermakna.
Sebab, luapan kegembiraan mereka dalam mengikuti kegiatan, berubah menjadi kreativitas anak. Timbangan bambu dengan dua terong pengganti bungsil (pucil kelapa), menjadi inti permainan itu. Pagi itu, ceritera, edukasi dan pengalaman berpadu menjadi pengetahuan usang yang berarti.
Ketua Sanggar Buratwangi, I Nyoman Budarsana yang memandu permainan, mengawali dengan permainan matimbang. Anak-anak setingkat SD dan SMP itu merasa senang ketika diperkenalkan permainan langka.
Mereka menaruh timbangan di atas hidung, lalu adu lari sambil menjaga timbangan agar tetap seimbang. Satu petak sawah kering disiapkan menjadi landasan utuh. Sementara anak-anak lain berderet di pematang sawah, sambi memberi semangat para jagoannya.
Ketika salah satu peserta tidak mampu menjaga keseimbangan timbangan, sorak sorai anak-anak lain membuat mereka menjadi lebih semangat. Anak itu kemudian memperbaiki timbangannya, kemudian menerobos tumpukan jerami di sawah kering itu.
“Acara bermain dalam festival ini menjadi sebuah pembelajaran luar sekolah yang dapat menciptakan suasana berbeda dari kegiatan mereka belajar di kelas sehari-hari,” kata Kepala Sekolah Luh Putu Mutiara Roshita Adi, S.Pd didampingi guru I Made Wetro, S.Pd yang ikut memandu permainan itu.
Anak-anak yang mendapat kesempatan melakukan permainan itu menjadi sorotan anak-anak lain. Sambil menyaksikan temannya itu, mereka juga mempelajari cara bermain, teknik dan lainnya, sehingga ketika mendapat giliran bermain mereka bisa melakukannya.

Pada sesi kemudian, anak-anak lain itu menjadi pemain. Begitu seterusnya, sehingga semua anak dapat merasakan permainan itu. Dalam permainan itu, tentu ada yang kalah dan menang. Namun, bagi anak-anak yang menang ataupun kalah sama-sama mendapat hadiah, yaitu rasa senang.
“Di Festival ke Uma ini, anak-anak tak hanya bermaian, seperti yang dilakukan oleh para leluhur mereka dulu, tetapi juga mengenal sawah dengan segala aktivitas yang ada. Mereka juga dikenalkan permainan khas Desa Marga Dauah Puri, sepeti matimbang ini,” ucapnya.
Permainan kemudian dilanjutkan dengan ‘Paid Upih’, menarik pelepah pinang di sawah. Anak-anak menyambut permainan yang tergolong langka itu dengan ceria. Bahkan, jauh sebelum acara dimulai, sebagaian anak sudah ada yang menceburkan diri ke sawah dan bermain lumpur.
Permainan ini dilakukan secara berpasangan untuk menguji rasa percaya diri, menciptakan kebersamaan juga keberanian. Satu anak duduk di atas pelapah pinang, satu anak lagi kemudian menarik. Ketika aba-aba dimulai, mereka berlari penuh lumpur, namun menyenangkan.
Permainan ini susah dihentikan, karena selalu saja ada anak yang ingin mencoba. Mereka tampak senang ketika jatuh ke lumpur, kemudian disoraki teman-temannya. Mereka bangkit lagi, walau sudah ditinggal lawan. Sejak permainan dimulai, wajah mereka tampak lepas tanpa beban.
Budarsana dan Wetro yang memandu acara itu, kemudian menambahkan dengan lomba lari menggendong teman yang semakin meriah. Permainan ini, mengedepankan kebersamaan dan kekompakan. Lari menggendong teman itu pun menambah keceriaan di wajah mereka.
“Ini pengalaman yang sulit kalaian dapatkan di jaman ini. Berjalan di pematang sawah, bermaian di lumpur merasakan perbedaan dengan berjalan biasa. Kami harap panitia bisa menambahkan dengan matekap, membajak secara tradisional,” ujar Wetro.
Sore hari, Festival ke Uma dilanjutkan dengan kegiatan workshop Megandu yang dipandu oleh I Wayan Weda, penggali permainan sawah itu. Namun, kali ini ia diwakili Nyoman Budarsana yang mengajak anak-anak mengenal permainan yang telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2023, serta telah mengantongi sertifikat Hak Cipta.
Menonton film
Program Respon Sosial, sebuah acara pemutaran film sungguh mendapat apresiasi dari pengunjung, terutama anak-anak dari desa pejuang itu. Program ini menyuguhkan 7 film pendek yang menampilkan beragam cara anak-anak merespons kehidupan.
Mulai dari keluarga hingga lingkungan, yang membuka ruang bersuara bagi anak-anak dan remaja. Film tersebut adalah “Made” film fiksi karya Agus Primarta (2022), “Metuun” film fiksi karya Dewadi Wijaya (2019), “The Sacred Landfill” film fiksi karya I Kadek Jaya Wiguna.
“Kala Rau”, film fiksi karya Medy Mahasena (2022), “Anak-anak Melenial” film animasi karya Nirartha Bas Diwangkara (2021), “A’Ir”, film fiksi karya Dian Suryantini (2023) dan “@ItsDekRaaa”, film fiksi karya I Made Suarbawa (2022).
Festival ke Uma hari kedua
Wajah anak-anak pagi itu tampak cerah, secerah langit subak itu. Kegiatan festival diawali dengan kegiatan yoga bekerjasama dengan anak-anak Pasraman Jepun, Desa Adat Ole. Yoga kali ini berbeda dengan kegiatan biasanya di banjar. Mereka yoga dengan alam sawah yang damai.
Generasi muda setingkat SMA dan SMK, termasuk mahasiswa dari berbagai daerah di Bali mengikuti workshop film pendek. Workshop ini menghadirkan narasumber penulis dan sastrawan Made Adanyana Ole dan Dhani Prasetyo, seorang penggiat film.
Workshop itu mengajak para pererta mengekplor alam subak. Baik tentang alam sawahnya, aktivitas petani atau keanekaragaman binatang dan tumbuhan sawah. Dalam waktu yang telah ditentukan, para peserta mulai menentukan ide, merekam lalu wajib menghasilkan satu film.
Berikutnya, workshop Ecoprint yang menghadirkan para dosen dan mahasiswa dari Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali. Lalu, mengenal tanaman herbal bersama bersama I Made Radia, seorang pensiunan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng yang kini aktif mengembangkan tanaman upacara.
Acara kemudian diakhir dengan seni pertunjukan Tanda Tapak oleh Ida Ayu Tri Wiranti, Segulung Era Sepetak Lahan oleh Arya Krisna, dan Dramatik Reading berjudul Ahli Fungsi Tangis oleh Gede Pyrba Wiangga. Fdimeriahkan pula oleh pertunjukan seni “Noris” bersama UKM Satyam Siwam Sundaram.
Budarsana mengatakan, Festival ke Uma telah berlangsung sejak 2017. Kali ini memasuki pelaksanaan ke-5 bertempat di Subak, Sidangrapuh. Festival ini lahir dari keinginan untuk mengingatkan kembali nilai-nilai kehidupan desa yang bersumber dari budaya pertanian.
“Pertanian bukan hanya aktivitas mengolah sawah, tetapi juga melahirkan kearifan lokal, kesenian, dan permainan tradisional yang menjadi daya tarik sekaligus warisan budaya,” ungkap yang seniman dan wartawan itu.
Festival ini menjadi wadah peringatan, perayaan, serta ungkapan kegembiraan yang dikemas sesuai kehidupan anak-anak masa kini. Festival ini digagas untuk mengajak anak-anak beraktivitas layaknya sedang berwisata di desanya sendiri.
“Melalui kegiatan tersebut, kami ingin mengajak anak-anak untuk mengenal dan memahami peran leluhur dalam menggarap sawah demi mempertahankan hidup. Termasuk pula memperkenalkan seni, tradisi, dan permainan yang lahir dari budaya pertanian sebagai bagian penting dari identitas desa,” ungkapnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Festival ke Uma menjadi upaya untuk melestarikan kesenian dan permainan tradisional yang kini semakin terpinggirkan. Festival ini dihadirkan di kawasan persawahan Tabanan agar anak-anak kembali dekat dengan alam dan sawah, menumbuhkan kecintaan terhadap leluhur, serta memberi ruang bagi mereka untuk bermain bebas sebagaimana anak-anak desa tempo dulu.
Digelar di desa lain
Festival ke Uma dimulai digelar di Subak Uma Ole, Banjar Dinas Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan pada 24–25 Juni 2017 diawali dengan lomba dan eksebisi tradisional seperti melayangan, medayung, megandu, mebuitbuitan, megala-gala, nyuun sigih, matulupan, dan paid upih yang terinspirasi dari budaya pertanian masyarakat.
Festival juga menghadirkan berbagai pentas seni, mulai dari Dongeng Tantri, Monolog “Zetan Teater Selem Putih” oleh Putu Satria Kusuma, teater Komunitas Mahima, drama Kambing Takutin Macan oleh Komunitas Jalan Air, Tari Cupak oleh mahasiswa ISI Denpasar, serta musikalisasi puisi bertema pertanian.
Tak hanya hiburan, festival ini juga diisi dengan workshop edukatif seperti membuat layangan dan kolek-kolek dari jerami, mengenal tanaman herbal, yoga, hingga menulis puisi, sekaligus mengajak anak-anak dan masyarakat membiasakan hidup bersih dengan mengurangi penggunaan plastik.
Festival ke Uma II berlangsung di masa pandemi Covid-19, tepatnya pada 3–4 Juli 2021 di Subak Sidangrapuh, Desa Adat Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.
Dibuka dengan Tari Gopala Massal yang melibatkan seluruh peserta. Saat itu masih dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), seluruh kegiatan dipantau langsung oleh Satgas Desa dan Kecamatan Marga, sehingga acara berlangsung dari pagi hingga sore dengan penerapan aturan ketat.
Rangkaian program festival tetap berlangsung meriah meskipun tanpa liputan media. Kegiatan meliputi workshop kolase menulis dan bercerita, workshop menulis caption Instagram, pentas musik, serta Magpag Toya atau jalan santai menuju pusat air subak Sidangrapuh.
Selain itu, diadakan pula lomba-lomba tradisional seperti paid upih, timbangan, megala-gala, memula gondo, hingga memacan-macanan, ditambah workshop memasak yang menghadirkan nuansa kebersamaan khas desa.
Festival ke Uma III digelar pada 9–10 Juli 2022 di areal persawahan Subak Kekeran, Banjar Kekeran, Desa Penatahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan – Bali. Sanggar Buratwangi dan Wintang Rare bekerja sama dengan Kubu Bali Woman Crisis Center (WCC) serta melibatkan UMKM desa setempat.
Festival dibuka dengan yoga menyongsong matahari pagi bersama I Gusti Ngurah Panji Tisna, dan menghadirkan beragam lomba seru untuk anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Rangkaian kegiatan festival diisi dengan dengan berbagai workshop edukatif, mulai dari sosialisasi hukum perlindungan perempuan dan anak, pembuatan eco dupa, hingga pelatihan teater dan Megandu.
Panggung seni dimeriahkan oleh Gender Wayang, Drama Men Tiwas Men Sugih oleh Komunitas Mahima, musikalisasi puisi Komunitas Jalan Air, dan pementasan teater Pan Jempiyit oleh Teater Kalangan. Sebagai penutup, digelar jalan santai lintas pedusunan, dongeng bersama Wanda, dan bernyanyi bersama lagu “Kemesraan”.
Festival Ke Uma IV digelar pada 16–17 September 2023 di Subak Pamo, Tempek Nangka, Banjar Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan – Bali. Rangkaian acara menghadirkan permainan tradisional, pentas seni, workshop kreatif, serta berbagai lomba seru.
Semua kegiatan dirancang untuk mendekatkan anak-anak pada alam pedesaan dan persawahan, ditutup dengan jalan pagi “Lintas Pedusunan” hingga Objek Wisata Kayu Putih. [B/darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali