Rekasadana Karya Maestro Wayan Berata Bangkitkan Kenangan dan Teguhkan Warisan Seni Bali
Tari Kupu-kupu Tarum
BAGI anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar (Sekaa Gong) Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin Puri Kauh, Kecamatan Denpasar Utara, sebagai Duta Kota Denpasar mungkin sekadar menjadi tontonan hiburan.
Namun, bagi para penonton yang lebih dewasa, pergelaran tersebut menghadirkan pengalaman berbeda. Mereka telah memenuhi kursi penonton jauh sebelum pertunjukan dimulai dan larut dalam keindahan setiap elemen musikal yang disajikan.
Suasana itu terasa di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa 30 Juni 2026. Karya-karya Maestro Wayan Berata kembali dihidupkan oleh generasi penerus serta para seniman yang pernah menimba ilmu langsung darinya.
Tiga karya legendaris dipentaskan, yakni Tabuh Lelambatan Nem Galang Kangin, Tari Kupu-kupu Tarum, dan Sendratari Narakusuma, yang sarat akan nilai estetika, pendidikan, serta pesan moral.
Rekonstruksi Tabuh Lelambatan Nem Galang Kangin, salah satu karya monumental I Wayan Berata yang benyak menginspirasi. Keindahan magis tabuh Bali begitu terasa melalui alunan musik yang menghadirkan suasana meditatif dan sakral.
Permainannya yang tenang dan penuh penghayatan seolah mengajak penonton menikmati suasana fajar yang perlahan merekah di ufuk timur. Jalinan melodi yang mengalun lembut menghadirkan ketenangan sekaligus mengobati kerinduan akan karya-karya klasik Bali.
“Tabuh Lelambatan Nem Galang Kangin adalah salah satu komposisi yang diciptakan Wayan Berata dengan mengembangkan Tabuh Galang Kangin yang telah ada sebelumnya sehingga menjadi karya baru pada masanya,” ujar Pembina Sanggar Gong Gita Bandana Praja, Prof. Dr. I Gede Yudarta, S.Skar., M.Si.
Prof. Yudarta menjelaskan, karya tersebut diciptakan pada 1968 untuk mengikuti Festival Gong Kebyar yang saat itu bernama Merdangga Utsawa. Berkat berbagai pembaruan pada struktur, teknik permainan, dan unsur musikalnya, tabuh tersebut berhasil memukau penonton maupun dewan juri hingga meraih Juara I tingkat Bali.
Menurutnya, inovasi yang dilakukan Wayan Berata kemudian menjadi rujukan penting bagi para seniman muda dalam mengembangkan komposisi tabuh lelambatan. Pola kekendangan, uncab-uncab (angsel), dinamika permainan, hingga perpaduan warna suara atau pangumbang-pangisep menjadi ciri khas yang banyak diadopsi dalam karya-karya berikutnya.
“Struktur, teknik, dan unsur-unsur musikal itulah yang kemudian menjadi acuan dalam pengembangan tabuh-tabuh lelambatan setelahnya,” tegasnya.
Berbeda dengan tabuh kebyar yang penuh dinamika dan tempo cepat, Tabuh Lelambatan Nem Galang Kangin menawarkan nuansa tenang, agung, dan kontemplatif. Permainan instrumen seperti jegog, calung, gangsa, dan dentuman gong berpadu menghasilkan harmoni yang megah sekaligus lembut. Jalinan melodinya bersahut-sahutan, mengalun perlahan hingga menyentuh perasaan penonton.
Pertunjukan kemudian Tari Kupu-kupu Tarum, karya Wayan Berata yang diciptakan pada era 1950-an. Tarian ini pernah dipentaskan di Cina pada 1956 sebagai bagian dari misi memperkenalkan seni budaya Bali ke dunia internasional. Meski karya ini kerap dipentaskan dalam ajang Pesta Kesenian Bali maupun berbagai lomba, pada kesempatan tersebut tarian disajikan dalam versi yang lebih lengkap.
Tarian yang dibawakan lima penari perempuan itu menggambarkan keanggunan kupu-kupu yang beterbangan dan mengisap madu di antara bunga-bunga. “Tari Kupu-kupu Tarum yang kami pentaskan malam ini disajikan secara lengkap, termasuk bagian pelayon. Biasanya yang dipentaskan hanya pepeson, pengecet, dan pekaad,” jelas Prof. Yudarta.
Sebagai penutup, Sanggar Gong Gita Bandana Praja membawakan Sendratari Narakusuma, karya Wayan Berata yang diciptakan pada 1977. Namun, karena bertepatan dengan penyelenggaraan Pemilu, pementasan perdananya baru dilakukan pada 1978 dalam Festival Gong Kebyar Bali. Saat itu, sendratari tersebut berhasil meraih Juara I tingkat Bali.
“Sendratari ini kami bangun kembali dan tampilkan malam ini. Proses rekonstruksinya dibantu para seniman yang dahulu terlibat langsung dalam garapan ini, seperti Made Kara dan Nyoman Suarsa (Yangpung),” ungkap Prof. Yudarta.
Pergelaran ini bukan sekadar menghadirkan nostalgia atas karya-karya seorang maestro, tetapi juga menjadi upaya penting merawat ingatan kolektif, mewariskan nilai-nilai seni, serta memastikan warisan musikal dan koreografi I Wayan Berata tetap hidup di tengah generasi penerus Bali. [B]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali