January 23, 2022
Tradisi

Upacara Saraswati di Tengah Pandemi, Mangasah Kecerdasan Menemukan “Pengimpas-impas” Virus Corona

Umat Hindu di Bali merayakan Hari Saraswati pada Sabtu, 30 Januari 2021. Upacara ini jatuh pata setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Umanis Watugunung itu untuk memuja Dewi Saraswati sebagai pencipta ilmu pengetahuan. Para pelajar, mahasiswa, para sulinggih dan masyarakat Hindu melakukan upacara dan persembahyangan pada hari tersebut. Semua pustaka terutama lontar, Weda, sastra agama dan buku-buku sumber pengetahuan diupacarai dan disuguhkan sesajen.

Prof. Dr. I Ketut Sumadi, M.Par mengatakan, buku-buku sumber pengetahuan itu diupacarai pada satwika kala yaitu ketika matahari terbit hingga jam 11.00 Wita. Karena pada saat itu suasana sangat tenang dan cerah. Sementara pada pada rajasika kala (siang, waktu bergejolak) dan tamasika kala (malam, waktu redup) dipercaya kurang baik. Dewi Saraswati disimbolkan sebagai dewi yang amat cantik dan menawan.

Hal itu menyiratkan bahwa ilmu pengetahuan itu indah karena bisa mengantarkan manusia menuju kesejahteraan lahir bathin. Dewi Saraswati dengan empat tangan yang masing-masing membawa Genitri (tasbih), Kropak (lontar), Wina (alat music Rebab) dan kumbhaja (sekuntum bunga teratai), serta memiliki wahana bunga teratai dan didampingi merak dan angsa.

Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning.

Saraswati yang dilambangkan sebagai turunnya ilmu pengetahuan, menggunakan banten untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menurunkan ilmu pengetahuan. Persembahan ini juga sebagai ucapan syukur karena Ida Sang Hayng Widhi telah menurunkan ilmu pengetahuan, yang disimbolkan dengan suara cekcek sebagai lambang kebenaran.

Dalam banten itu juga ada loloh dan nasi pradnya. Loloh terbuat dari don blimbing meintuk (dengan cara ditumbuk) lalu diisi asem garam sebagai simbol asam garam kehidupan. Dengan menyatukan semua rasa itu, maka akan mampu menciptaka pikiran yang tis (damai).

Dalam Lontar Sudarigama, tidak diperkenankan membaca buku pada hari raya Saraswati. Sebab, pada hari itu umat Hindu melaksanakan Brata Saraswati yaitu brata nista, madya dan utama. Brata Nista artinya membaca buku dan menulis. Madya artinya membaca dan menulis setelah rajasika kala. Sementara utama, yaitu brata yang dilakukan dengan sambang samadhi (yoga) dan sama sekali tidak membaca dan menulis.

Prof. Sumadi mengatakan, upacara Saraswati sangat unik karena pula pada hari-hari berikutnya. Ada hari-hari suci yang merupakan rangkaian upacara tersebut, seperti Banyu Pinaruh yang jatuh pada hari Redite (Minggu) Paing (31 Januari 2021), Soma (Senin) Ribek jatuh pada soma pon (Senin 1 Pebruari 2021) dan Pagerwesi jatuh pada buda kliwon sinta (Rabu, 3 Pebruari 2021). Semua hari raya tersebut memiliki hubungan yang sangat erat, bahkan tidak dapat dipisahkan .

Pada saat Saraswati umat Hindu memuja Dewi Saraswati yang telah menurunkan ilmu pengetahuan, keesokan harinya melaksanakan Banyu Pinaruh. Hari suci Banyu Pinaruh memiliki makna fholosofi, bahwa ilmu pengetahuan itu dialirkan bagaikan banyu (air) kemudian menyejukan manusia, sehingga manusia harus mendalami, pinauruh ilmu itu. Pada hari ini, umat melakukan pembersihan diri dengan mandi dan keramas di tempat suci, seperti di danau, laut, campuhan (pertemuan sumber air yang berbeda) dan pancoran (mata air yang mengalir).

Banyu pinaruh terdiri dari dua kata banyu berarti air dan pinaruh berarti keweruhan, yang berarti ilmu yang turun kemarin (pada Hari Saraswati) dialirkan ke semua pihak dan dijabarkan ke semua orang. Jika dikembangkan akan semain berkhasiat. Namun, kalau hanya sendiri akan tidak bermanfaat. Semua itu diimplementasikan dengan membersihkan diri dari segala kotoran, sehingga ilmu itu masuk lebih mantap. Mata air itu diibaratkan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang mengalir.

Setelah Bayu Pinaruh, merupakan Soma Ribek yang artinya ketika manusia sudah dialiri ilmu pengetahuan dan telah memiliki keahlian, maka akan sangat bernilai apabila ilmunya itu dibagi dan diaplikasikan ke hal positif yang membawa perubahan bagi masyarakat. Soma Ribek sebagai simbol kesejahteran. Pemujaan kepada Tuhan agar selalu memberikan kesejahteraan. Maka, saat itu menghaturkan segala jenis tipat (ketupat), seperti tipat bagia, sari, sai, taluh, genep, dan lain-lainnya. Kemudian Sabuh Mas, upacara menghormati semua kemamakmura sarwa mule dengan memuja Tuhan yang telah memberi kemakmuran dan kesahjahteraan.

Upacara terakhir yakni Pagerwesi untuk memagar diri agar tetap langgeng. Pada saat itu memuja Ida Sang Hyang Pramesti Guru dengan ilmu untuk menuju kesejahteraan. Upacara ini memiliki makna, setelah memiliki ilmu pengetahuan agar tidak menjadi takabur dan sombong. Namun, akan lebioh baik setelah manusia itu menerapkan ilmunya agar mereka bisa lahir dan bisa menjadi guru (panutan) yang berkualitas dalam menyampaikan pengetahuanya pada masyarakat seluas-luasnya.

Perayaan Hari Raya Saraswati ini akan sangat baik dilakukan jika sesuai dengan anjuran sastra. Jika rangkaian Saraswati ini tidak dilakukan dengan baik dan benar, bahkan melanggar banyak kaidah agama, tidak akan ada sanksi secara hukum dalam dunia nyata. Hanya saja, hasil karya (pahala) yang manusia dapat juga akan sama dengan apa yang kita perbuat.

Upacara Saraswati

Prof. Dr. I Ketut Sumadi, M.Par

Menurut Prof. Sumadi perayaan Hari Saraswati dengan di tengah pandemi Covid-19 dan fenomena alam yang menimbulkan bencana, selain memuja Sang Hyang Aji Saraswati sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi penguasa ilmu pengetahuan. Pada Hari Saraswati saat ini, juga menjadi hari penyadaran umat manusia untuk terus mengasah kecerdasan spiritual dan intelektual agar cepat menemukan “pangimpas-impas” (obat panangkal) virus corona, serta mengatasi dampak negatif dari berbagai musibah dan bencana alam.

Seperti diajarkan oleh Mpu Kanwa dalam Kakawin Arjuna Wiwaha, setelah persembahyangan Hari Suci Saraswati sampai tengah hari sampai hari Banyupinaruh/Banyupangweruh, diisi dengan acara “amuter tutur pinahayu”, (mengkaji, mendalami, dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari untuk menyikapi berbagai masalah kehidupan saat ini. [B/*]

Related Posts