Menghidupkan Kembali Joged Pingitan, Warisan Sakral yang Lama Terdiam di Singapadu

 Menghidupkan Kembali Joged Pingitan, Warisan Sakral yang Lama Terdiam di Singapadu

Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang garapan I Wayan Sutirtha yang dipentaskan di Catus Pata Tempekan Selat, Kamis 23 Juli 2026/Foto: dar

MALAM perlahan turun di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Jalan desa yang biasanya lengang berubah menjadi ruang perjumpaan warga. Di bawah cahaya obor, suara gamelan mengalun sakral, berpadu dengan aroma dupa dan lantunan tembang klasik yang menggema. Malam itu, bukan sekadar sebuah pertunjukan seni yang digelar, melainkan sebuah upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan budaya yang nyaris terlupakan.

Di catus pata atau perempatan Tempekan Selat, anak-anak tampak maplayanan (bermain) dengan riang. Dari arah timur, iring-iringan warga berjalan perlahan menuju pelinggih di depan Bale Tempekan Selat. Beberapa gadis berpakaian adat sederhana duduk bersila, bersimpuh dan ada terlentang di tengah jalan. Setelah pemangku memimpin persembahyangan, gelungan Joged Pingitan dikenakan kepada salah seorang penari. Sejak saat itu, suasana berubah. Gerak tari yang lahir perlahan menghadirkan nuansa spiritual yang menyelimuti seluruh ruang pertunjukan.

Suasana tersebut menjadi bagian dari Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang, yang dipentaskan di Catus Pata Tempekan Selat, Kamis 23 Juli 2026. Karya ini merupakan karya I Wayan Sutirtha sebagai syarat ujian Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Namun, lebih dari sebuah karya akademik, pertunjukan ini menjadi medium revitalisasi Joged Pingitan, kesenian sakral yang telah lama tidak dipentaskan di Singapadu.

Pentas seni ini sangat menarik, karena tidak ada batas antara penari dan penonton. Warga yang semula hanya menyaksikan perlahan menjadi bagian dari pertunjukan ketika para penari muncul dari tengah kerumunan. Itu karena karya tari menggunakan pendekatan koreografi lingkungan, sekitar 100 seniman terlibat, terdiri atas penari dan penabuh gamelan bebatelan yang memainkan suling, tambur, gandrangan, gong, serta kendang. Seluruh elemen tersebut membangun pengalaman artistik yang menyatu dengan ruang sosial masyarakat.

Melalui karya ini, Sutirtha memaknai Joged Pingitan sebagai simbol kekuatan jiwa dan manifestasi roh leluhur. Pertunjukan tidak hanya menawarkan pengalaman estetik, tetapi juga menjadi sarana memperkuat keyakinan spiritual, menjaga keselamatan bersama, mempertahankan identitas budaya, serta memastikan warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Karya ini lahir dari kegelisahan saya melihat kesenian Joged Pingitan yang sebenarnya sudah ada jauh sebelumnya. Namun, hingga kini masyarakat masih mencintai warisan leluhur tersebut. Karena itu, kesenian ini perlu dihidupkan kembali sekaligus menyiapkan regenerasi agar tetap lestari,” ujar Sutirtha.

Dalam disertasinya, Sutirta menjelaskan, Joged Pingitan di Selat, Singapadu memiliki nilai magis dan sakral. Keunikannya terletak pada penggunaan gelungan serta lampu sentir saat pementasan sebagai ikatan spiritual sekaligus simbol konservasi tari tradisi. Meski sempat dipandang skeptis oleh sebagian masyarakat, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kesenian ini tetap menyimpan makna filosofis, kesakralan, dan dimensi mistis sebagai sarana penolak bala.

Revitalisasi tersebut diwujudkan melalui penciptaan Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang dengan pendekatan koreografi lingkungan. Konsep penciptaannya bertumpu pada tiga unsur utama, yakni Sanghyang Memedi, Sanghyang Dedari, dan Hyang Bhatari.

Ketiganya dikaji menggunakan teori Imaji dan Imajinasi: Suatu Telaah Filsafat Postmodern karya H. Tedjoworo, sementara proses penciptaannya menggunakan teori Koreografi Lingkungan: Revitalisasi Gaya Pemanggungan dan Gaya Penciptaan Seniman Nusantara karya Hendro Martono. Analisis karya dilakukan melalui pendekatan hermeneutika Richard E. Palmer.

Dalam proses kreatifnya, Sutirtha mengembangkan metode Solah Bhuwana yang terdiri atas lima tahapan, yaitu Nyeraya, Ngelaca, Matetegar, Ngwahya, dan Nureksa. Kelima tahapan tersebut menjadi landasan dalam merancang karya yang berpijak pada riset sekaligus pengalaman artistik.

Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana menilai, pemilihan catus pata sebagai ruang pertunjukan memiliki makna yang mendalam. Baginya, perempatan bukan hanya simpang jalan, tetapi ruang sosial tempat masyarakat membangun keteraturan, berbagi nilai, dan merawat kebersamaan.

“Catus pata adalah ruang sosial untuk berbagi. Di sanalah manusia belajar membangun keteraturan, meski dalam praktiknya kerap diwarnai berbagai dinamika kehidupan. Melalui karya ini, seniman berhasil menghadirkan kembali esensi catus pata sebagai ruang interaksi, ruang berpikir, dan ruang untuk membangun ketertiban sosial,” ujarnya.

Melalui pertunjukan ini, Joged Pingitan tidak hanya kembali hadir sebagai tontonan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa warisan budaya akan tetap hidup apabila terus dirawat, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di tengah cahaya obor yang menerangi malam Singapadu, sebuah tradisi lama menemukan napas barunya. [dar]

Related post