October 29, 2020
Ulasan

“Sisya Utama” Sendratari Garapan Sanggar Seni Paripurna Bona Tutup Bulan Bahasa Bali 2020

Ketika sang dalang menghaturkan pengaksama, tabuh kemudian dimainkan dengan lirih. Empat penari lalu bergerak lincah sambil menarikan kayonan. Kisahpun, dimulai. Penonton yang berpakaian adat Bali itu terdiam, lalu berusaha duduk dengan baik, kemudian serius menikmati sajian seni pertunjukan kolosal itu. Pagelaran seni itu memang menarik, yang mengkolaborasikan seni tradisi dengan berbagai peralatan canggih, seperti proyektor. Belum lagi pembabakannya begitu detail, sehingga tak hanya indah, tetapi juga sarat dengan pesan moral.



Itulah pagelaran Seni Drama dan Tari (Sendratari) berjudul ‘Sisya Utama’ yang disajikan oleh Sanggar Seni Paripurna Bona, Gianyar pada penutupan Bulan Bahasa Bali 2020 di Gedung Ksirarnawa, Provinsi Bali, Kamis 27 Pebruari 2020 pagi. Sajian seni yang didukung oleh puluhan seniman local antar generasi itu, menampilan sebuah garapan seni yang sangat apik. Penari wanita, tak hanya bergerak membentuk sebuah pohon, tetapi juga melakukan komposisi serta didukung busana dan properti yang menunjukan berbagai jenis tumbuhan.

Berbagai jenis binatang melakukan gerak tari yang indah, yang menunjukan suasana pasraman aman dan damai. Jika penari dewasa menarikan binatang sapi dan lembu dengan lincah, maka penari anak-anak menggerakan tapel sapi munggil yang lucu. Mereka berlari, lalu bergerak sambil bercanda dengan teman-temannya. Ada pula yang menarikan kijang, kupu-kupu, burung dan binatang hutan lainnya. Ketika sapi kuat dan kekar muncul, sang dalang mencoba menyindirnya dengan mengatakan, itu binatang terkuat di tanah Bali saat ini. Penonton-pun memberi sambutan meriah.

Wakil Gubernur Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan “Kun” Adnyana usai menutup Bulan Bahasa Bali 2020 itu tampak tersenyum. Demikian pula para undangan lainnya, serta masyarakat yang hadir. Hal itu menunjukan Art Direktor yang juga Ketua Sanggar I Made Sidia, benar-benar memikirtkan dengan detail sebuah pertunjukan seni, sehingga taki hanya menyajikan rasa indah, tetapi juga menyelipkan pesan. Di samping itu Dalang, I Wayan Bawa tampak sensitif dan kreatif dalam mengolah satwa.



Penata tari yang terdiri dari Ni Luh Sofi manik, Ni Wayan Megawati, Gus Efik, dan Ayuk Abe mamjpu menterjemahkan ide dari art director, termasuk kerjasama dengan Sang Dalang. Peran sang kordinator yakni I Wayan Sira tampak sukses, sehingga pementasan berjalan lancar. Semua itu, juga karena dukungan besar dari sesepuh sanggar, yakni I Made Sija.

Sendratari ‘Sisya utama’ berawal dari suasana asri, aman dan damai dirasakan para penghuni di Pasraman Ida Bhawan Domya. Ida Hyang Bhagawan memiliki sisya (murid) sebanyak tiga orang, yaitu Sang Arunika, Sang Utamanyu, dan Sang Weda. Sebagai murid, ketiganya tergolong rajin, disiplin dan tekun menimba ilmu dari Ida Bhawan Domya. Mereka juga tidak berani melawan perrintah. Semua itu membuat Hyang Bhagawan Domya senang dahn bangga.

Pada suatu hari, Ida Hyang Bhagawan memanggil ketiga muridnya untuk nelakukan kewajibannya. Sang Arunika mendapat tugas untuk menanam tanaman di sawah, Sang Weda mendapat tugas memasak atau mengolah berbagai jenis menu (bhoga upa bhoga) dan Ida Sang Utamanyu mendapat tugas mengembala binatang peliharaan, seperti lembu, banteng dan binatang peliharaan lainnya. Ketiga muridnya itu, sangat setia. Nah, atas kesetiaan ketiga muridnya itu, Ida Bhagawan Domya lalu menganugrahkan sebuah cerita yang mesti didenggar dengan baik. para murid Ida Hyang Bhagawan mendengarkan dengan seksama. (B/*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *