January 22, 2021
Pernik

“Seni Mau Dibawa ke Mana?” Peluncuran Buku Seni Dari Sepuluh Penggiat Seni

Sepuluh seniman muda asli Bali ini patut diacungi jempol. Mereka tak hanya piawai dalam membuat karya seni yang mempuni, tetapi juga mampu melahirkan karya dalam bentuk tulisan, berupa buku. Jika mereka biasa mengungkapkan kreativitas seni dalam bentuk pertunjukan diatas panggung ataupun memajang karya dalam sebuah pameran, namun kini mereka menyajikan karya seni itu dalam bentuk tulisan, sehingga dapat dibaca kapan dan dimana saja. Para seniman muda ini juga mencatat sejarah, kalau seniman Bali itu tak hanya lihai dalam pratrek, tetapi piawai juga menyampaiakn dalam bentuk tulisan.

Buku “Seni Mau Dibawa ke Mana?” dengan tebal 200 halaman diluncurkan di Warung Men Brayut, Panjer, Denpasar, Jumat 4 Desember 2020. Sepuluh seniman sebagai penulis buku itu, yaitu I Made Rianta, I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, Kadek Anggara Rismandika, I Kadek Dwi Santika, Praptika Kamalia Jaya, I Putu Gede Indra Parusha, I Putu Ardiyasa, I Kadek Bhaswara Dwitiya, A.A. Putra Dwipayana, dan I Dewa Ketut Wicaksandita. Kesepuluh seniman muda itu dari lintas genre atau latar belakang seni berbeda, yang rata-rata lulusan Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Penggiat seni yang juga Kelian Penggak men Mersi, Kadek Wahyudita selaku pembedah buku tersebut memaparkan, dalam membangun wahana berkesenian, hadirnya buku -buku seni akan menjadi catatan penting sebuah perjalanan kebudayaan di masa mendatang. Hal itu telah dijawab oleh sepuluh seniman muda Bali itu dengan mencoba menembus ruang karya seni lewat karya sebuah buku ini. Kehadiran buku ini, penulis ingin menjadikan buku ini bisa memantik pemikiran kreatif. Selain diperuntukan untuk penulis, buku ini diharapkan menjadi konsumsi publik membangun wahana berkesenian di era Pandemi Covid-19 saat ini.

Dalam acara bedah buku yang menghadirkan moderator Leonk Surya itu, Kadek Wahyudita menyampaikan hadirnya buku seni yang ditulis oleh seniman muda Bali ini patut diapresiasi. Hal ini sekaligus menjawab, minimnya penulisan seni di Bali. Kehadiran buku seni dari sepuluh seniman muda itu, Kadek Wahyudita sangat yakin wahana menulis dimasa mendatang akan tumbuh positif. Dengan kehadiran 10 seniman ini telah mencoba membuka ruang dalam menulis di tengah gagalnya membangun narasi. “Kita selalu mentok menarasikan karya, meski itu dari karya seniman yang handal dan kaya ide atau gagasan, namun ketika dalam menuliskan karyanya banyak yang gagal dalam menuangkan idenya dalam bentuk tulisan yang baik dan enak dibaca,” ucapnya.

Dalam pemulisan seni ada beberapa hal yang diperhatikan, yakni penulis mesti memperhatikan seni dalam konteks kesadaran, pengembaraan penulis hingga pengembangan dan membangun keindahan. Artinya, gejala-gejala sekarang ini mampu ditulis dengan apik, untuk menjadi catatan dimasa mendatang. “Dimana posisi buku ini? Apakah menjadi majalah atau bahan kajian. Bagi saya buku yang digarap teman-teman seniman muda ini adalah buku ilmiah populer,” ungkapnya.

Pria yang aktif dalam berkesenian itu, menambahkan selanjutnya seni dalam konteks pemikiran, yaitu sebuah proses penciptaan, ada waktu yang panjang, berupa kajian bukan imajin atau fantasi. Ada kolaborasi lintas batas. Nah, tantangan seni dalam berkarya saat ini, tidak saja pencarian kepribadian, tetapi pemenuhan kekayaan penulisan itu sendiri.

I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra yang akrab disapa Gus Bang salah seorang penulis itu mengatakan, dalam penciptaan seni memang persoalan praktek lebih menonjol dibandingkan menulis. Kendalanya, sangat sulit merumuskan karya mejadi bahasa tulis, agar menarik untuk dibaca. Hal itu sering terjadi, bahkan dialami berulang kali. “Era sekarang kolaborasi sangat penting. Kolaborasi antara pegiat seni, semisal seniman tari, tata panggung, seniman kerawitan, ahli dibidang fotografi dan sebagainya untuk menghasilkan karya-karya seni yang bagus,” ucap seniman lulusan Pasca Sarjana ISI Yogyakarta ini.

Kadek Bhaswara Dwitiya berharap, pembaca bisa mendapat banyak cara pandang dalam melihat seni sebagai suatu yang berkelindan. Karena seni bukan lagi objek yang sempit dalam makna indah, namun luas dalam jangkauan keseharian yang rutin dilakukan manusia sebagai pelaku. Para penulis yang notabene merupakan praktisi seni dan peneliti seni, sudah barang tentu memiliki empiris yang perlu untuk diketahui, melalui buku ini khalayak dapat melihatnya secara lebih jauh. “Nantinya, buku ini akan kami sumbangkan ke sejumlah lembaga, seperti ke kampus ISI Denpasar, Yogyakarta, IKJ dan beberapa instansi lainya,” ucapnya bersemangat. [B/*]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *