Garapan Baleganjur yang Mempesona di Ajang PKB 2024

 Garapan Baleganjur yang Mempesona di Ajang PKB 2024

Sekaa Balaganjur Cittha Gurnita Kanti Duta Kota Denpasar dalam ajang lomba PKB 2024/Foto: ist.

Sudah tak dipungkiri lagi, wimbakara (lomba) balagenjur remaja dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) menjadi sajian seni favorit. Para penggemar barungan gamelan ini kian menjadi. Terlebih anak-anak muda, begitu fanatic terhadap sajian seni gamelan yang selalu atraktif ini.

Lihat saja, pada perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI yang berlangsung pada Jumat 21 Juni 2024. Pecinta barungan gamelan yang dimainkan dengan teknik berjalan itu membludak, bahkan mengakibatkan macet di beberapa ruas jalan. Sejak sore pengunjung telah mengalir.

Panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Bali yang berkapasitas sekitar 7.000 orang itu penuh sesak dengan penonton. Bahkan, di depan pintu masuk Ardha Candra yang disiapkan layar lebar itu, juga dibanjir penonton. Bahkan, ada yang dari lantai 2 sisi Gedung Ksirarnawa.

Apalagi, pada kesempatan itu duta seni kabupaten dan kota di Bali itu tampil dalam satu jadwal secara bergilirian. Artinya, pada malam itu ada 7 duta seni yang tampil. Hal itu, membuat orang-orang utamanya pecinta seni balegenjur itu tak mau melewatkan kesempatan itu.

Baca Juga:  Tari Janger dan Legong Banjar Bengkel tetap Lestari

Pada awalnya, gamelan baleganjur memiliki fungsi sebagai pengiring upacara ngaben atau prosesi adat dan agama. Perkembangan kemudian, dimainkan untuk mengiringi pawai kesenian, ikut dalam iringan pawai olahraga, mengiringi lomba layang-layang. Kini balegenjur menjadi seni pertunjukan yang menarik ditontan.

Pada lomba kali ini, ada 7 duta seni yang tampil, yaitu , Duta Kabupaten Badung yang diwakili Sekaa Gong Dewa Ayu, Desa Adat Jimbaran, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan. Duta Kabupaten Jembrana dipercayakan kepada Sanggar Seni Arsa Wijaya, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya.

Sekaa Balaganjur Cittha Gurnita Kanti Duta Kota Denpasar dalam ajang lomba PKB 2024/Foto: ist.

Komunitas Seni Gelung Agung, Desa Tampaksiring sebagai Duta Kabupaten Gianyar, Sekaa Balaganjur Pande Urip Wesi (Pauwe), Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan merupakan Duta Kabupaten Klungkung.

Sanggar Seni Tirta Segara Manik, Banjar Gegelang, Desa Beraban, Kecamatan Kediri sebagai Duta Kabupaten Tabanan, Komunitas Seni Bala Goak Panji Sakti, Desa Panji, Kecamatan Sukasada sebagai Duta Kabupaten Buleleng dan Sekaa Balaganjur Cittha Gurnita Kanti, Desa Dauh Puri Kauh, Kecamatan Denpasar Barat sebagai Duta Kota Denpasar.

Baca Juga:  Tari Janger “Nusantara Mahardika” Berkonsep Bhineka Tunggal Ika Ajak Generasi Muda Jaga Persatuan

Masing-masing duta menampilkan tabuh-tabuh yang kreatif. Para penabuh tak hanya piawai memainkan alat musik gamelan, tetapi juga menari. Sebab, dalam garapan itu mengangkat tema, sehingga ada penokohan untuk menciptakan garapan yang dramatic.

Sebut saja, Duta Kota Denpasar yang diwakili oleh Sekaa Balaganjur Cittha Gurnita Kanti tampil optimis dengan garapan bertajuk “Wala Tanda”. Tampil dihadapan ribuan pasang mata yang hadir, Sekaa Balaganjur Cittha Gurnita Kanti mengangkat sosok Ida Pedanda Made Sidemen.

Kisah ini dirangkai dengan olah karawitan dan gerak yang apik. Maka tak heran silih berganti tepuk tangan hingga sorak-sorai penonton memberikan semangat kepada para penabuh hingga akhir penampilan. Sajian para generasi muda ini sangat kreatif dan memukau.

Kota Denpasar menampilkan garapan Tabuh Baleganjur yang menceritakan sosok Ida Pedanda Made Sidemen sebagai sastrawan besar di abad ke-20. Beliau mempunyai komitmen tinggi dalam usaha mengedukasi masyarakat, guna mendalami Seni, Budaya, Adat dan Agama di Bali.

Baca Juga:  I Made Gde Puasa, Pernari Topeng Mendalang di India

Hal ini utamanya atas komitmen beliau yang terkenal dengan Nandurin Karang Awak dengan penguasaan segala aktifitas masyarakat yang diistilahkan dengan Wala Tanda. “Cerita tersebut dikemas dengan judul Wala Tanda,” kata Kordinator, A.A Ngurah Tresna Adnyana.

Istilah Wala sebutan untuk Walaka atau masyarakat kebanyakan. Sedangkan Tanda merupakan pelafalan dari Tandawa, yaitu penggabungan dari dinamika, ritme dan melodi yang menghasilkan mantra atau lagu, dengan Mudra yang berupa gerak.

Tandawa menjadi acuan dalam membangun sebuah karya seni karawitan baleganjur, aktifitas yang dikuasai oleh Ida Padanda Made Sidemen yang dibatasi oleh Dharma Pandita yakni Guna Sastra, Guna Undagi dan Guna Tani menjadi batasan-batasan dalam berkarya agar tetap terbingkai dalam Satyam Siwam Sundaram.

“Wujud dari ragam pukulan, dinamika, ritme, melodi yang dipadukan dengan gerak yang ditata harmonis menghasilkan sebuah karya seni balaganjur dengan judul Wala Tanda yang dibawakan Sekaa Balaganjur Cittha Gurnita Kanti sebagai Duta Kota Denpasar,” ujarnya.

Baca Juga:  Drama Gong Gianyar Pentaskan “Tragedi Bingin Banyah” dari Novel Sukreni Gadis Bali

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang ikut menyaksikan sajian itu memberikan apresiasi atas berbagai persiapan yang dilaksanakan duta kesenian Kota Denpasar. Khususnya Sekaa Balaganjur Cittha Gurnita Kanti yang sukses memberikan penampilan terbaik dan luar biasa. [B/*]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post