Parade Gong Kebyar Anak-anak Memikat Pengunjung PKB XLVI

 Parade Gong Kebyar Anak-anak Memikat Pengunjung PKB XLVI

Dolanan “Pilah-pilih” dari Sekaa Gong Anak-anak Alit Sundari/Foto: ist

Utsawa (Parade) Gong Kebyar Anak-anak dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) masih menjadi magnet para pengunjung ajang seni Bali tahunan itu. Lihat saja, penampilan dua sekaa gong anak-anak yang sangat memukau di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu 26 Juni 2024.

Malam itu, tampil Sekaa Gong Anak-anak Alit Sundari, Banjar Buda Ireng, Desa Batuyang, Batubulan Kangin, Kecamatan Sukawati sebagai Duta Kabupaten Gianyar “mabarung” (pentas bersama) dengan Sanggar Seni Sri Kembang, SMP Negeri 3 Mengwi, Kabupaten Badung sebagai Pendamping.

Kedua sekaa gong ini menampilkan sajian seni yang sangat atraktif. Sama-sama menguasai teknik, gaya, hingga memainkan nada dengan ringan, sehingga terdengar sangat manis dan indah. Demikian pula para penari dengan kekuatan ekspresinya, mampu menyajikan seni tari yang enerjik, walau tari itu diciptakan beberapa tahun sebelumnya.

Sebagai salah satu kesenian yang digandrungi masyarakat, parade gong kebyar selalu bisa memikat hati semua kalangan masyarakat. Kepiawaian anak-anak dan tingkah lucu pada penampilan mereka, menyulut gelak tawa penonton. Para penonton terlihat terhibur dengan alunan merdu melodi gamelan Bali yang dimainkan.

Baca Juga:  Festival Nyurat Lontar dan Ngetik Aksara Bali. Ini Ikon Baru Bulan Bahasa Bali ke-5

Sanggar Alit Sundari, membawakan tiga garapan, yaitu Tabuh kreasi “Raga Cara”, “Tari Kelinci” dan Dolanan “Pilah-Pilih”. Penampilannya, diawali dengan membawakan garapan Tabuh Raga Cara yang mengisahkan perjalanan pencarian diri yang mendalam.

Sekaa Gong Anak-anak Alit Sundari, Banjar Buda Ireng, Desa Batuyang, Sukawati Duta Kabupaten Gianyar/Foto: ist

Tabuh itu, sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang I Made Subandi. Dalam setiap jalinan nada dan irama, tersirat refleksi mendalam tentang identitas, tujuan hidup, dan pencarian makna dari warisan bimbingan seorang guru.

Melalui karya ini, terpancar persembahan hati yang dipenuhi dengan rasa terima kasih dan penghargaan yang mendalam kepada sosok yang telah memberikan cahaya dan arahan dalam perjalanan menuju kedewasaan dan kematangan seni, yang merupakan karya seniman Putu Eman Sabudi Subandi.

Kemudian menyajikan Tari Kelinci yang merupakan garapan karya dari almarhum Nyoman Cerita, S.ST.,M.A yang diciptakan pada tahun 1987. Tarian ini menceritakan tentang kisah sekelompok kawanan kelinci yang sedang mencari makan dan bermain di sebuah taman.

Baca Juga:  Joged Bumbung Giri Swara Tampil Memikat di PKB XLVI

Tari ini dibawakan oleh 7 orang penari dengan gerakan yang lincah, energik serta mengandung unsur estetik untuk dipersembahkan pada malam hari ini. Pemilihan kostum yang sesuai dengan binatang berkaki empat itu.

Lalu, sebagai penampilan penutup, Sanggar Alit Sundari Batuyang menampilkan Tari Dolanan Pilah-Pilih. Garapan ini, menceritakan perkembangan teknologi digital bagai pisau bermata dua, disatu sisi bisa berdampak baik disatu sisi lagi bisa berdampak buruk.

Karena itu, manusia harus pintar memilah dan memilih (pilah pilih) tontonan yang baik untuk anak. Sebab teknologi digital semua serba mudah diakses oleh anak-anak jaman sekarang, Maka itu, jangan sampai lengah dalam memberikan permainan.

Jika kemudian anak-anak tanpa pengawasan orang tua, maka disinilah akan berdampak kepada karakter anak itu sendiri. Meraka, kemudian meniru apa yang ditonton dan lebih cenderung bergaya dewasa dan modern.

Baca Juga:  Dek Geh Alih Wahanakan Isi Lontar ke Dalam Bahasa Tubuh di Singaraja Literary Festival

Sebut saja yang sangat sederhana, yaitu cara berpakaian. Cara bicara yang tak memiliki sopan santum, berperilaku dan bahkan permainan yang kemudian tidak mencerminkan lagi kekanak-kanakan. Padahal anak sebagai generasi emas dalam membangun bangsa.

Sementara Sanggar Seni Sri Kembang, SMP Negeri 3 Mengwi menampilkan Tabuh Kreasi Bramara Sidi, Tari Manuk Rawa yang dibawakan 9 orang penari dan dolanan bertajuk “Tetamian”. [B/puspa]

Balih

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi seni budaya di Bali

Related post