Dasa Muka, Kolaborasi Lintas Budaya yang Mengajak Penonton Berkaca pada Diri
Sanggar Kerta Art Ubud pertunjukan teater tari modern bertajuk “Dasa Muka: The Face of Humanity” di Festival Seni Bali Jani VIII, Kamis 16 Juli 2026/Foto: darma
MALAM itu, Gedung Ksirarnawa di Taman Budaya Bali tak hanya dipenuhi tepuk tangan penonton. Di antara riuhnya Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, puluhan tubuh bergerak serempak di atas panggung. Ada yang mengenakan kostum bernuansa Bali, ada pula wajah-wajah asing yang larut dalam setiap irama. Semua menyatu dalam satu bahasa yang tak membutuhkan penerjemah, bahasa seni.
Pemandangan itulah yang disuguhkan Sanggar Kerta Art Ubud melalui pertunjukan teater tari modern bertajuk “Dasa Muka: The Face of Humanity”, Kamis 16 Juli 2026. Lebih dari sekadar pertunjukan tari, karya ini menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya sekaligus ajakan untuk menengok kembali ke dalam diri sendiri.
Sejak lampu panggung menyala, penonton dibawa memasuki sebuah perjalanan batin. Koreografi bergerak cepat, berganti dari tarian kontemporer, balet, hingga atraksi wushu yang berpadu tanpa sekat. Permainan cahaya, efek glow in the dark, dan komposisi musik yang memadukan warna Bali dengan sentuhan elektronik membangun atmosfer yang nyaris magis.
Namun daya tarik pertunjukan ini bukan semata terletak pada kemegahan visualnya. Kolaborasi antara penari Indonesia dan berbagai negara menghadirkan sebuah pertunjukan lintas budaya (cross-cultural collaboration) yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang pencarian jati diri manusia.
Anak-anak hingga penari dewasa dari berbagai latar belakang budaya tampil luwes membawakan koreografi yang memadukan tari modern, kontemporer, balet, hingga atraksi wushu. Sulit membedakan mana penari lokal dan mana penari asing. Seluruhnya larut dalam harmoni gerak yang menunjukkan, bahwa seni mampu melampaui batas bahasa maupun kebangsaan.
Sejak awal pertunjukan, penonton diajak memasuki perjalanan batin manusia melalui koreografi yang enerjik dan dinamis. Tata cahaya, efek glow in the dark, visual artistik, serta komposisi musik yang memadukan nuansa Bali dengan sentuhan modern memperkuat atmosfer pertunjukan. Pergantian adegan berlangsung cepat, membawa penonton mengikuti perjalanan sukma manusia yang terus bergulat dengan berbagai sisi kehidupannya.
Meski terinspirasi dari tokoh Rahwana dalam kisah Ramayana, karya ini tidak menempatkan sang raksasa sebagai pusat cerita. Justru Dasa Muka atau sepuluh wajah dimaknai sebagai simbol beragam karakter, emosi, dan sisi kemanusiaan yang hidup dalam diri setiap orang.
Dalam sinopsisnya, sukma manusia digambarkan terus mengembara melewati cinta dan luka, ambisi dan ketakutan, harapan dan kehilangan. Seluruh perjalanan tersebut menjadi proses untuk mengenali, menerima, sekaligus melampaui ego hingga menemukan cahaya yang tersembunyi di dalam diri. Pertunjukan ini pada akhirnya mengajak penonton melakukan refleksi terhadap perjalanan batin masing-masing.
Pelatih sekaligus Ketua Harian Sanggar Kerta Art, Ni Komang Ayu Anantha Putri, mengatakan karya tersebut lahir dari kegelisahan melihat kehidupan masyarakat modern yang semakin sibuk mengejar berbagai hal di luar dirinya.
Menurutnya, “wajah” dalam Dasa Muka bukan dimaknai secara harfiah sebagai Rahwana, melainkan simbol berbagai emosi dan karakter manusia yang harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Tema yang kami angkat tentang Dasa Muka atau Rahwana. Inspirasinya dari banyak wajah, karena manusia sekarang harus cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan modernitas. Wajah-wajah itu menjadi simbol berbagai perasaan dan sisi yang dimiliki manusia,” ujarnya.
Komang Ayu menilai masyarakat saat ini lebih sering memperhatikan kehidupan orang lain dari pada mengenali dirinya sendiri. Orang-orang sibuk membicarakan orang lain, tetapi tidak tahu dirinya sendiri. Gagasan tersebut divisualisasikan melalui adegan puluhan penari yang membawa cermin. Menariknya, cermin itu tidak digunakan untuk berkaca pada diri sendiri, melainkan saling dipertukarkan antarpenari.
Adegan tersebut menjadi simbol bahwa manusia kerap sibuk melihat kehidupan orang lain, namun lupa melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.
“Orang sekarang sibuk dengan pekerjaan, kehidupan, dan menilai orang lain, tetapi lupa bercermin pada dirinya sendiri. Karena itu ada bagian ketika para penari membawa cermin. Mereka saling berkaca pada cermin milik orang lain. Itu menjadi simbol bahwa kita sering melihat kehidupan orang lain, tetapi lupa mengenali diri sendiri,” paparnya.
Perjalanan cerita kemudian mengantarkan penonton menemukan apa yang disebut sebagai “cahaya diri”, yaitu keyakinan, bahwa setiap manusia memiliki kekuatan untuk melampaui kesalahan, rintangan, maupun sisi-sisi negatif dalam dirinya. Karena itu, pada akhir pertunjukan menggambarkan manusia telah menemukan cahaya diri.
“Pesannya, apa pun rintangannya, manusia harus ingat bahwa dirinya mampu. Kita terlalu sibuk menilai orang lain, padahal yang perlu lebih dulu diasah adalah diri sendiri,” ucapnya.
Untuk memperkuat penyampaian pesan tersebut, Kerta Art mengemas pertunjukan dalam format teater tari modern yang dipadukan dengan storytelling. Seorang dalang hadir sebagai narator menggunakan bahasa Inggris agar alur cerita mudah dipahami penonton dari berbagai negara. Sementara itu, identitas Bali tetap terasa melalui penggunaan sendon, gending, serta unsur musikal tradisional yang dikemas dalam pendekatan modern.
Tak hanya itu, pertunjukan juga memadukan musik elektronik karya sejumlah musisi internasional, termasuk kolaborator dari San Francisco, Amerika Serikat. Perpaduan tersebut merupakan bagian dari konsep Intercultural Performing Art yang menjadi identitas Sanggar Kerta Art.
“Kami ingin tetap kuat pada tradisi Bali, tetapi juga membuka ruang untuk belajar dari budaya lain. Jadi kolaborasi ini bukan menghilangkan tradisi, melainkan menghadirkan komunikasi dengan kebaruan,” jelasnya.
Lebih dari 30 penari dilibatkan dalam produksi ini. Mereka berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga penari dewasa, serta berkolaborasi dengan Sinar Ballet Bali, Garuda Wushu Indonesia, Berlian TPW, Atheny Dewi, dan para performer muda Kerta Art.
Perpaduan berbagai disiplin seni tersebut menghadirkan pengalaman teatrikal yang kaya. Gerak tari modern berpadu dengan kelembutan balet, dinamika atraksi wushu, serta permainan cahaya dan visual yang membuat setiap babak menghadirkan suasana berbeda.
Di balik kemasan artistiknya, seluruh elemen tersebut mengarahkan penonton pada satu pesan utama, yakni pentingnya kembali mengenali diri sendiri di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Penampilan Kerta Art juga mendapat apresiasi dari Tim Kurator Festival Seni Bali Jani, Ida Bagus Martinaya atau Gus Martin. Menurutnya, “Dasa Muka: The Face of Humanity” menjadi salah satu contoh karya seni modern kontemporer yang tetap berpijak kuat pada akar tradisi Bali.
“Sesungguhnya inilah kesenian-kesenian seperti ini yang cocok sekali di Festival Seni Bali Jani. Keterlibatan anak-anak menjadi bagian dari regenerasi penari. Dari sisi bentuk juga luar biasa karena mampu memadukan tari modern dengan akar tradisi Bali. Bentuknya modern, tetapi ruh Balinya tetap terasa,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan penari asing yang dinilai semakin memperkuat semangat Festival Seni Bali Jani sebagai ruang dialog budaya internasional. Simbol Dasamuka yang diangkat dalam pertunjukan bukan sekadar merujuk pada Rahwana, melainkan menggambarkan sifat-sifat dasar manusia yang patut terus direfleksikan. “Dasamuka itu sifat-sifat dasar manusia yang harus kita refleksikan pada diri sendiri. Semua sifat itu ada,” tuturnya.
Ia mengaku sempat menyimpan keraguan terhadap konsep garapan Kerta Art sejak proses kuratorial. Namun, setelah menyaksikan pertunjukan secara utuh, ia menilai karya tersebut berhasil memenuhi harapan dengan menghadirkan tari modern yang tetap memiliki akar tradisi Bali yang kuat.
“Pada awalnya saya sempat ragu. Tetapi setelah melihat pertunjukannya, terasa sekali Balinya. Dasarnya tetap tari modern, namun akar tradisinya tetap hidup. Kita melihat Bali dari sudut pandang yang modern,” pungkasnya. [darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali