Impulse: Ketika Abstraksi Menemukan Akar di Sukawati – Tiga perupa, tiga medium, satu denyut yang mempertemukan alam, ingatan, tradisi, dan kehidupan manusia.

 Impulse: Ketika Abstraksi Menemukan Akar di Sukawati – Tiga perupa, tiga medium, satu denyut yang mempertemukan alam, ingatan, tradisi, dan kehidupan manusia.

Pameran “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub dibuka Rabu 19 Agustus 2026/Foto: dar

MENJELANG  malam, suasana di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub, terasa berbeda. Di antara hamparan persawahan, karya-karya seni hadir berdampingan dengan percakapan para pengunjung. Cahaya yang mulai meredup, musik kontemporer Narreth, dan lalu-lalang pecinta seni menciptakan suasana yang tenang sekaligus hidup.

Di ruang itu, Rabu, 19 Agustus 2026, pameran “Impulse” dibuka oleh Marlowe Bandem. Tiga perupa asal Sukawati—I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan I Made Galung Wiratmaja—bertemu melalui karya-karya abstrak yang lahir dari perjalanan artistik masing-masing.

Mereka datang dengan medium yang berbeda. Mahendra Mangku bekerja dengan kertas, Arnata dengan benang, sementara Galung Wiratmaja memilih kanvas. Perbedaan medium tersebut tidak membuat karya mereka berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, ada semacam denyut yang mempertemukan ketiganya: pengalaman hidup, lingkungan, tradisi, dan cara melihat manusia dalam hubungannya dengan dunia di sekitarnya.

Alam yang Mengalir

Bagi Mahendra Mangku, alam bukan sesuatu yang harus dilukiskan secara harfiah. Ia lebih tertarik menangkap gerak, energi, dan suasana yang muncul dari alam.

Kertas menjadi ruang tempat air dan warna bertemu. Melalui teknik blobor, pigmen dibiarkan merambat mengikuti aliran air. Warna bergerak, bertemu, menyebar, lalu membentuk kemungkinan-kemungkinan baru.

Sekilas proses tersebut tampak spontan. Namun di balik spontanitas itu terdapat pengalaman panjang. Puluhan tahun berhadapan dengan kertas, air, dan warna membuat Mahendra mampu membaca kapan sebuah aliran warna harus dibiarkan dan kapan mesti dihentikan.

Di sanalah kekuatan karyanya terasa. Ada kebebasan, tetapi juga kepekaan. Ada kebetulan, tetapi sekaligus pengalaman yang bekerja di belakangnya.

“Alam hadir bukan sebagai objek yang harus digambarkan, melainkan sebagai pengalaman yang diterjemahkan melalui warna dan gerak,” ujar Mahendra Mangku.

Karyanya kemudian menjadi semacam perenungan tentang hubungan manusia dan alam. Ia tidak menunjuk pada satu lanskap tertentu, tetapi menghadirkan persoalan yang lebih luas: bagaimana manusia memperlakukan alam dan bagaimana keharmonisan dengannya dapat dipertahankan.

Benang yang Menyimpan Ingatan

Jika Mahendra menemukan alam melalui air dan warna, Wayan Arnata menemukannya melalui benang.

Benang bagi Arnata bukan sekadar material. Ia membawa ingatan masa kecil, terutama tentang sang kakek yang merupakan seorang sangging. Dari pengalaman tersebut, Arnata mengenal teknik ngodi, mengolah serat atau benang yang berkaitan dengan berbagai sarana ritual.

Ingatan itu tidak berhenti sebagai nostalgia. Ia tumbuh menjadi bagian dari perjalanan artistiknya.

Helai demi helai benang disusun menjadi garis, bidang, dan struktur yang kemudian membentuk bahasa abstrak. Dalam proses tersebut, tradisi tidak tampil sebagai bentuk yang mudah dikenali. Ia hadir lebih halus, melalui material dan cara kerja yang membawa jejak pengetahuan masa lalu.

Dalam “Impulse”, Arnata menghadirkan dua karya baru, “Resonansi” dan “Lintasan Lelaku”. Keduanya menjadi respons terhadap ruang sekaligus perjalanan personal sang seniman.

“Saya tidak sekadar mengulang tradisi, tetapi menerjemahkannya melalui bahasa abstrak yang personal. Tradisi menjadi akar, sementara abstraksi menjadi ruang untuk terus mencari bentuk baru,” papar Arnata.

Benang akhirnya menjadi metafora tentang keterhubungan. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, manusia dengan tradisi, sekaligus pengalaman personal dengan ingatan kolektif.

Figur yang Tidak Pernah Selesai

Galung Wiratmaja mengambil jalan yang berbeda. Kanvas menjadi ruang untuk menghadirkan figur, siluet, dan fragmen kehidupan manusia.

Namun figur-figur itu tidak selalu hadir secara utuh. Sebagian justru dibiarkan samar atau tidak selesai. Ketidakselesaian tersebut memberi kesempatan kepada pengunjung untuk melanjutkan cerita melalui pengalaman dan tafsir masing-masing.

Galung banyak berangkat dari kehidupan sosial di sekitarnya. Manusia menjadi titik berangkat, tetapi bukan objek yang harus digambarkan secara realistis.

“Saya tetap membiarkan bentuk tetap terbuka, sehingga pengunjung memiliki kebebasan untuk menemukan maknanya sendiri,” sebut Galung.

Dengan cara itu, kanvas menjadi ruang dialog. Apa yang dilihat seseorang belum tentu sama dengan apa yang ditemukan orang lain.

Tiga Jalan, Satu Denyut

Ketiga seniman ini memiliki satu kesamaan penting: mereka tumbuh di Sukawati, salah satu kawasan yang memiliki tradisi seni rupa dan kriya yang kuat di Bali.

Tetapi kesamaan latar belakang tidak membuat mereka menghasilkan karya yang seragam. Justru sebaliknya. Pengalaman yang sama menjadi titik awal bagi perjalanan yang berbeda.

Penulis pameran, Vincent Chandra, membaca “Impulse” sebagai pertemuan antara dorongan dan denyut. Dorongan bersifat personal dan spontan, sementara denyut memiliki sifat kolektif dan dapat bertahan melampaui generasi.

Rangsangan dapat datang dari mana saja—medium, lingkungan, pengalaman, memori, hingga warisan budaya. Dari sana muncul dorongan untuk berkarya. Dalam proses yang panjang, dorongan itu kemudian mengendap menjadi bahasa visual masing-masing seniman.

“Pada titik ini, abstraksi menjadi lebih dari sekadar gaya. Ia menjadi bahasa untuk mempertemukan pengalaman personal dengan akar budaya,” kata Vincent.

Pernyataan tersebut terasa penting dalam membaca karya ketiga perupa. Abstraksi mereka tidak lahir dari ruang kosong. Ada pengalaman Bali di dalamnya, meskipun tidak selalu hadir dalam bentuk simbol atau figur tradisional.

Pada Mahendra, ia muncul sebagai kesadaran terhadap alam. Pada Arnata, sebagai ingatan terhadap material dan praktik ritual. Sementara pada Galung, ia hadir melalui manusia dan kehidupan sosial.

Tradisi yang Tidak Membeku

Dalam konteks seni rupa Bali, abstraksi memiliki perjalanan yang panjang. Pengaruh pendidikan seni modern bertemu dengan tradisi, mitologi, dan identitas lokal. Dari pertemuan tersebut muncul bahasa visual yang tidak sepenuhnya Barat, tetapi juga tidak sekadar mengulang bentuk tradisional.

Di sinilah “Impulse” menemukan relevansinya.

Tradisi tidak harus selalu hadir melalui ornamen, simbol, atau bentuk yang mudah dikenali. Ia dapat hidup dalam pilihan material, cara mengolah garis, menyusun warna, merespons ruang, dan memandang lingkungan.

Vincent melihat kesadaran tersebut memiliki hubungan dengan nilai Tri Hita Karana, tentang keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai tersebut tidak ditampilkan secara verbal, melainkan mengalir dalam cara para seniman membangun karya.

“Ketiganya menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia dapat hidup dalam cara seorang seniman memilih material, mengolah garis, menyusun komposisi, maupun merespons lingkungan,” paparnya.

Ruang Seni di Tengah Sawah

“Impulse” juga tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Kalpataru Art Space dan Sanur Art Hub sebagai ruang pertemuan seni.

Founder sekaligus Art Director Sanur Art Hub, I Wayan “Apel” Hendrawan, melihat ruang tersebut bukan sekadar galeri. Sanur Art Hub dirancang sebagai tempat bertemunya seniman, komunitas, generasi muda, dan masyarakat.

“Sanur Art Hub kami hadirkan sebagai ruang terbuka bagi seni, kreativitas, dan pertemuan—tempat seniman, komunitas, generasi muda, dan masyarakat dapat bertemu dan berkembang bersama,” kata Apel.

Kehadiran ruang seni di tengah suasana persawahan menjadi bagian menarik lainnya. Sanur selama ini dikenal sebagai kawasan pariwisata yang terus berkembang. Namun, di balik pertumbuhan tersebut masih terdapat ruang hijau dan lanskap yang menawarkan suasana berbeda.

Kalpataru Art Space mencoba mempertemukan dua dunia itu: perkembangan kota dan ketenangan alam, kehidupan kreatif dan keseharian masyarakat.

Pada akhirnya, “Impulse” bukan hanya pertemuan tiga perupa dalam sebuah pameran. Ia adalah pertemuan tiga cara memandang dunia.

Mahendra Mangku membaca alam melalui aliran air dan warna. Arnata merajut ingatan dan tradisi melalui benang. Galung mengajak pengunjung membaca manusia melalui figur yang sengaja dibiarkan terbuka.

Tiga jalan yang berbeda, tetapi memiliki satu denyut yang sama: keinginan untuk terus bergerak.

Sebab seni, seperti alam dan kehidupan, tidak pernah benar-benar selesai. Ia tumbuh dari akar masa lalu, bergerak mengikuti zaman, dan selalu menemukan kemungkinan baru.

Pameran “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub, berlangsung hingga 15 September 2026. [dar]

Related post