November 30, 2021
Tradisi

Pura Natar Jemeng, Cagar Budaya Menjadi dan Atraksi Wisata Di Desa Pinge

Situs atau benda-benda kuno bersejarah tak hanya ada di Kabupaten Gianyar, tetapi ada pula di daerah lain di Pulau Dewata. Sebut saja salah satunya di Kabupaten Tabanan, tepatnya di Banjar Pinge, Desa Baru, Kecamatan Marga. Salah satu pura yang ada di desa wisata itu, yakni Pura Natar Jemeng ditetapkan sebagai Cagar Budaya karena memiliki benda bersejarah yang masih dirawat sampai saat ini. Pura yang terletak diujung desa itu bahkan menjadi salah satu atraksi wisata seiring dengan perkembangan Pinge sebagai desa wisata.

Pura Natar Jemeng

Sejumlah pura yang ada di Banjar Pinge memang menjadi atraksi wisata menarik bagi wisatawan asing maupun domestik. Wisatawan yang menikmati suasana alam pedusunan diperkenankan untuk mengunjungi pura, namun dengan sebuah syarat, yakni wajib menggunakan kain dan selendang yang sudah disediakan oleh pengelola atau membawa sendiri. “Pura Natar Jemeng, itu merupakan sebuah tempat suci yang kini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Di area pura tersebut, ditemukan banyak peninggalan kuno, seperti lingga yoni, arca, dan lain sebagainya. Peninggalan kuno itu hingga saat ini masih terawat dengan baik oleh warga setempat,” kata Jero Mangku Made Warka, Minggu 16 Mei 2021.

Pura Natar Kemeng sudah menjadi warisan sejarah sejak dulu. Belum ada yang bisa menceritakan asal usulnya. Dulu, sebelum dibuatkan pelinggih seperti sekarang ini, semua peninggalan kuno ini berserakan di bawah. Kemudian itu dibuatkan bale pelindung (pelinggih) mulai pada tahun 1985, atas dana Bantuan Presiden (Banpres). Masyarakat Desa Asat Pinge melestarikan peninggalan yang ada itu. Benda-benda peninggalan itu berjumlah 82 buah yang terdiri dari; patung durga 4 buah, ganesha 2 buah, lingga 11 buah, yoni 2 buah, menhir 5 buah, dan prakmen candi 38 buah. “Semua peninggalan itu, kalau dipadukan dengan budaya yang ada di Desa Adat Pinge tampak jauh, seakan tidak nyambung karena peradaban itu diperkirakan sudah ada sejak lama, jauh sebelum adanya Desa Pinge yang sudah ditata seperti sekarang ini,” paparnya.

Pura Natar Jemeng

Jero Mangku Made Warka lalu menjelaskan, berdasarkan cerita turun-temurun, konon di areal Desa Adat Pinge merupakan lahan kosong. Berbeda dengan, di areal dekat pura terdapat banyak pondok (rumah penduduk sederhana) yang terdiri dari Banjar Pengilen, sebuah banjar yang jaraknya paling dekat dengan areal situs itu. Dua banjar lain, yang agak berjauhan dari areal situs, adalah Banjar Tungging dan Banjar Meranggi. Di areal Banjar Pengilen itu yang ada hanya pondokan dan padukuhan yang saat itu masih dibawah kekuasaan Raja Agung Jero Gede Marga.

Dari kerajaannya, Sang Raja mencium bau harum yang datangnya dari areal pedukuhan Banjar Pengilen itu. Maka diutuslah Gusti Ngurah Geluntung mencari sumber bau harum tersebut. Gusti Ngurah Geluntung, lalu menemukan bau harum itu yang ternyata berasal dari cepaka penge atau cepaka melang, yang tidak berwarna kuning dan tidak putih. Letak pohon cepaka itu berada di Gunung Lingga, disebelah utara Pura Natar Jemeng sekarang.

Sementara, Bukit Snar merupakan tempat Pura Snar yang ada di sebelum utara Pura Natar jemeng itu hanya ada satu pelinggih dan tidak ada peninggalan. Areal pura, tempat yang ada situs sekarang ini merupakan penataran. Pura tersebut dipercaya sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi. Utusan dari Puri Gede Marga, kemudian menggabungkan ketiga banjar itu yakni Banjar Pengilen, Tungging dan Banjar Meranggi itu menjadi Pinge. Mungkin, karena ditemukan Cepaka Pinge itu, sebuah bunga cepaka besar, sehingga desa itu disebut dengan Desa Pinge.

Pura Natar Jemeng

Utusan Pura Gede Marga, Gusti Ngurah Geluntung yang menemukan peningglan yang ada di Pura Natar Jemeng. Hanya saja tidak memiliki penyengker (tembok pembatas) dan benda-benda kuno itu berserakan. Di kawasan itu, sapi hidup berkeliaran. Sementara benda-benda kuno itu berserakan, seperti reruntuhan. Maka pada 1950-an benda-benda kuno itu dikumpulkan dan dibuatkan tugu batu, namun tanpa ataf. Benda-benda itu dikumpulkan, lalu dipasang dan penempatannya sesuai dengan budaya masyarakat Desa Pinge. “Pada tahun 1985 baru ada bantuan untuk membuat bale pelindung yang diajukan ke arkelogi. Selanjutnya, mengajukan juru pemelihara untuk menjaga dan merawat benda-benda kuno itu. Kebetula sayan yang menjadi poemangku di pira ini, maka saya diangkat sebagai juru rawat itu,” akunya polos.

Made Warka yang merupakan mangku di Pura Jemeng diangkat sebagai Juru Pelihara dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Bali. Selain menjadi mangku, pria ini juga diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas memlihara situs yang ada di Pura Natar jemeng. Ia menjadi mangku turun temurun. Sebelumnya, benda-benda purbakala ini dipelihara oleh Desa Adat Pinge. Sebagai orang yang bertugas memelihara cagar budaya, ia kemudian selalu menjaga dan membersihakan agar benda-benda kuno itu tetap lestari. Lalu, membuat taman yang dilengkapi berbagai tanaman bunga. Menata jalan setapak, menuju areal situs termasuk menjaga keaman situs, mencatat jumlah pengunjung yang kesemuanya ada 7 item. Pura ini berbasis budaya local, sehingga dalam merawatnya tidak akan mungkin cagar budaya diusak-asik, sehingga ada diberikan permakluman.

Pura Natar Jemeng

Jero mangku Warka merawat Pura itu setiap hari, layaknya sebagai kantornya sendiri. Setiap Sabtu dan Minggu merupakan hari libur, tetapi tetap menghaturkan sesajen. Kalau pada hari biasa, ia ke pura mengawali dengan menghaturkan persembahan, lalu bersih-bersih di sekitar pura. Untuk dana pemeliharaan, bukan dari kantongnya sendiri, melainkan dari pemerintah. Sebagai pemangku sekaligus petugas disana, ia mendapatkan gaji setiap bulan. Kalau ada bale pelindung yang rusak atau lainnya, maka dilaporkan baru dibantu. Piodalan di Pura Natar Jemeng dilaksanakan setiap Buda (Rabu) Cemeng Merakih atau setiap 210 hari. Masyarakat yang melakukan persembahyangan, tak hanya berasal dari Desa Pinge, tetapi juga datang dari desa lain, bahkan selalu dihadiri Anak Agung dari Jero Gede Marga.

Semenjak Pinge menjadi desa wisata, Pura Natar Jemeng menjadi salah satu daya tarik wisata desa yang menjadi paket kunjungan. Wisatawan yang memiliki jadwal panjang dan menginap diisi dengan kunjungan ke pura untuk mengenal situs. Walau tidak ada secara terulis, setiap wisatawan yang akan berkunjung ke pura selalu mengawali dengan mapekeling, lalu mewajibkan para wisatawan menggunakan kain, paling tidak selendang. Setiap kunjungan, harus didampingi Jero Mangku. Kalau ada wisatawan yangt cuntaka, baik yang sedang menstruasi atau mempunyai kematian, tidak dibolehkan masuk areal Pura. Mereka disiapkan tempat khusus, yakni diluar pura.

Etika selama berada di kawasan pura juga harus dijaga, seperti tidak boleh bicara keras, menyentuh benda-benda pura, dan naik ke atas bangunan pelindung. Wisatawan diperbolehkan memotret sambil mendengarkan penjelasan dari Jerro Mangku. Wisatawan yang tinggal dan menginap di rumah penduduki, biasanya memiliki agenda berupa kegiatan merersik di areal situs yang menjadi daya tarik. Dengan begitu, mereka dapat kegiatan dan juga dapat menikmati budaya serta penjelasan tentang pura serta segala isinya. Kegiatan mereresik di kawasan Cagar Budaya ini menjadi satu paket menginap.

Wisatawan yang ingin menyaksikan keunikan Cagar Budaya itu harus melalui badan pengelola. Jika tidak mendapatkan ijin dari pengelola, wisatawan tidak diperbolehkan melakukan kunjungan ke tempat suci itu. Dalam sehari selalu saja ada wisatawan yang berkunjung ke situs tersebut. Kalau menginap lebih dari dua hari, mereka sudah mendapat jadwal untuk berkunjung ke situs itu.

Benda-benda kuno yang ada di Pura Natar Jemeng ini memiliki kekuatan yang masih dipercaya ole masyarakat setempat. Banyak warga yang mempercayai pura tersebut sebagai tempat untuk nunas taksu geginan. Jadi disana ada trio daksa taksu, yaitu taksu gegninan pemajulan petani, tukang, dan pregina nunsa taksu. Termasuk pula banyak pedagang yang banyak nunas taksu disana. “Sesuwunan yang disungsung di Pura Natar Jemeng berbasis leluhur yang melinggih Ida Bhatara Lingsir. Kalau akan nunas tetamban (obat) juga ada pos-nya juga. Masing-masing pelinggih dipercaya memiliki taksu yang sendiri-sendiri. Ada pula yang nunas (memohon) kerahayuan saat warga sedang menggelar upacara, ada yang nunas ‘ndang” (tak hujan) dan lainnya.

Saat ini, ketika Bali mewabah Covid-19, juga ada masyarakat yang memohon pakeling di pura untuk nunas kerahayuan. Pada saat warga mapekeling di Pura Khayangan Tiga, juga melakukan pakeling di Pura Natar Jemeng ini. “Saya berharap pura dan situs itu dilindungi, jangan ditinggal oleh masyarakat sebagai pendukungnya. Jangan mengganti ukiraan yang tergolong lawas, karena semua itu mempunyai nilai sejarah yang mesti kita amankan dan lestarikan,” ungkapnya.

Selaku penjaga Pura, Jero Mangku Warka mengaku, dirinya selalu datang ke pura setiap hari mulai 07.30 Wita – pukul 16.00 wita. Setelah itu, ia wajib melakukan share lokasi, sebagai absen kalau ia memang bekerja. Lalu, masalah gaji, Jero Mangku mengaku gaji yang didapatnya cukup untuk kesejahteran bersama keluarganya. Walau demikian, dirinya juga nyambi sebagai petani yang mengolah tanah persawahan. [B/*]

Related Posts