Ekspresi Seni di Denpasar Festival Ke-14, Ebano Bali Sajikan Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung

 Ekspresi Seni di Denpasar Festival Ke-14, Ebano Bali Sajikan Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung

Ebano Bali, sebuah sekaa seni yang masih belia di Kota Denpasar menjadi pembicaraan dalam perhelatan Denpasar Festival (Denfest) ke-14 yang berlangsung di Pelataran Pasar Badung, Jumat (17/12). Itu karena, sekaa yang beralamat di Jalan Narakusuma 54 Banjar Sebudi, Desa Tanjung Bungkak, Denpasar itu tampil penuh ekspresif dalam ajang tahunan yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar itu. Tiga garapan seni, yakni “Rentet” sebuah komposisi musik Selonding serta Damar Kurung dan Rejang Amustikarana dua koreografi tari dipersembahkan secara apik, terkesan baru, namun masih kental dengan nuansa klasiknya.

Tiga sajian seni yang didukung anak-anak muda dari Banjar Bengkel Denpasar ini mengolah ide-ide kreatif dengan menggunakan gamelan Selonding dengan memainkan nada-nada bernuansa kekinian. Hal itu diwujudkan dalam Tabuh Rentet, sebuah karya musik yang terdengar manis dan berisi. Komposisi musik ini disusun berdasarkan sudut pandang sang penata yang mungkin sebelumnya mencermati gending-gending klasik, seperti di Desa Tenganan, Karangasem. Komposisi ini dimainkan menggunakan saih sadi dengan teknik permainan ngucek. Rudy Artana selaku komposer menyebut Rentet itu memiliki makna rentetan, yaitu suatu yang berurutan dan memiliki keterkaitan. Kata rentet digunakan berpijak pada formulasi gending yang disusun berdasarkan urutan nada rendah menuju nada tinggi.

Ebano Bali

Penampilan yang kedua, menyajikan Tari Rejang Amustikarana. Dua penari gadis dengan busana bernuansa putih itu menyajikan gerak-gerak tari yang polos, namun memiliki makna yang sangat mendalam. Tayungan, gerak tangan dan komposisi penari yang tampak sederhana menawarkan simbol-simbol dalam menjaga keagungan alam. Amustikarana merupakan sebuah sikap ketika melakukan Puja Tri Sandya. Bagaimana proses masyarakat Hindu Bali dalam melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa harus fokus dan seimbang. Dua penari itu juga sebagai lambang dari sikap amustikarana.

Baca Juga:  “Rejang Danu Kerthi” dan “Baris Bala Samar” Dua Karya Tari Komunitas Manubada Merespon dan Mengeksplorasi Alam

Tentu saja, sebab semua itu menggunakan rasa bukan pikiran, seperti sikap amustikarana. Tangan kanan dan kiri ditaruh di ulu hati dan ibu jari menuju keatas. Sejalan dengan teknik permainan gamelan selonding, tangan kiri dan kanan harus seimbang, memiliki porsi yang sama dalam memainkan instrumen. Busananya tampak polos, namun terkesan indah dan klasik. Penari menggunakan baju putih dan kain putih, di bagian badan dibalut kain cagcag Nusa Penida dikombinasi songket benang khas Klungkung. Gelungan terinspirasi dari Gelungan Tari Baris kombinasi dengan Gelungan Rejang khas Karangasem. Tari ini ditata Mang Mus dan Hadi Mulyawan sebagai penata iringan.

Ebano Bali

Diakhir pertunjukannya, Ebano Bali menampilkan Tari Damar Kurung yang dibawakan seorang penari wanita dengan karakter yang sangat kuat. Tari ini, menggambarkan sebuah kebebasan yang sangat penting dalam perkembangan peradaban. Namun, dalam bersosial harus memiliki batasan tertentu. Penata tari, yakni Mang Mus dan Rudy Artana sebagai penata iringan memvisualkan Damar Kurung kedalam bentuk karya tari tunggal. Dari perspektif musik, karya ini dibuat berdasarkan eksplorasi penata terhadap harmoni. Kemungkinan-kemungkinan baru yang terdapat pada sebuah eksprimen menghasilkan suara-suara baru dari gamelan kuno itu. Memang sangat indah, komposisi musik baru yang menggunakan media ungkap gamelan selonding ini, memberi inspirasi bahwa gamelan selonding dapat lebih berkembang kedepannya. Apalagi, digarap lebih spesifik menggunakan ide, tema dan kepentingan musik itu sendiri, pasti menjadi sajian seni yang beda.

Lebih menarik lagi, Tari Damar Kurung yang digarap Koreografer Mang Mus dan Komposer Rudy Artana itu dipadu dengan peresmian Patung Ratu Mas Melanting karya dari Putu Marmar Herayukti dan Patung Sang Kala Tri Semaya karya I Nyoman Gede Sentana Putra (Kedux) oleh Walikota I Gusti Ngurah Jaya Negara dan Wakil Walikota I Kadek Agus Arya Wibawa. Artinya, Tari Damar Kurung persembahan pamungkas Sekaa Ebano Bali itu dielaborasi dengan acara peresmian patung sebagai mascot di Pasar Badung itu. “Kami sangat senang dan bangga mendapat kesempatan turut mendukung program Pemkot Denpasar ini,” ucap Pendiri Ebano Bali sekaligus penanggung jawab, I Ketut Kertyasa atau akrab disapa Tut Ker.

Baca Juga:  Nyujur Sunia Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga | Muda Kreatif, Tua Arif…

Tut Ker, pria yang merupakan alumnus STSI (kini ISI) Denpasar ini mengatakan, semula Damar Kurung sebagai tarian tunggal yang menggambarkan kebebasan sangat penting untuk perkembangan peradaban. Pada saat gladi, sehari sebelumnya ternyata disaksikan oleh Walikota Jaya Negara yang kemudian mempunyai ide untuk mengkolaborasikan tari itu sebagai bagian dari upacara peresmian Patung Ratu Mas Melanting yang ada di Pasar Badung. “Kami tidak menyangka, Walikota memantau ketika Ebano Bali gladi. Saat itu, beliau memanggil Marmar dan Marmar kemudian menghubungi Anak Agung Gede Agung Rahma Putra untuk mengelaborasi garapan sesuai dengan kebutuhan peresmian,” terangnya.

Atas ide Walikota Jaya Negara, Tari Damar Kurung menjadi lebih manis dan sesuai dengan tema yang diangkat saat itu. Marmar yang menterjemahkan ide tersebut, lalu Gung De Rahma yang mengeksekusi melalui penataan kostum. Hiasan kepala yang semula hanya berbentuk karawista, kemudian dikresaikan menjadi berbentuk hiasan janur yang sangat menarik yang sesuai dengan hiasan kepala pada patung Ratu Mas Melanting. “Kami sangat senang dengan ide Walikota, sehingga garapan menjadi lebih baik. Kami sekaa yang masih baru dapat berkolaborasi dengan Marmar, pembuat patung ogoh-ogoh terkenal dan Gung Gede Rahma Putra merupakan seorang koreografer & pendiri Yayasan Pancer Langit,” ucapnya penuh syukur.

Tut Ker mengaku senang dengan penampilan seni ini. Ebano Bali yang berawal dari menjual fashion aksesoris kepada para wiatawan itu, kini ikut melestarikan kesenian dan memfasilitasi para seniman muda untuk berkreatifitas. Aktivitas berkesenian, memang bukan kali pertama baginya. Sebab, sebelum itu pria lincah yang berprofesi sebagai pengusaha ini juga aktif dalam berkesenian. Ia sempat mendidikan dramatari arja, dan seni lainnya. “Di masa pandemi ini, menjadi moment untuk melestarikan kesenian melalui pembinaan dan pelatihan terhadap generasi muda. Kalau penasaran, bisa saksikan melalui You Tube Kreativi Denpasar & MaxStream,” sebut pengusaha muda ini bersemangat. [B/*]