Group Tari Bali “Lila Bhawa” Kembali Pentas di City University

 Group Tari Bali “Lila Bhawa” Kembali Pentas di City University

Wow, ini kabar yang sangat menyenangkan. Sanggar Tari Lila Bhawa yang terletak di Kota London, Inggris kini aktif kembali melakukan pementasan. Maklum, sekitar dua tahun tak melakukan aktivitas berkesenian sebagai dampak dari Pandemi Covid-19, sehingga ajang ini menjadi obat pelepas rindu. Kelompok seni yang fokus pada pementasan seni tari Bali dan Jawa itu menari lagi pada tanggal, 25 Mei 2022 di City University. “Kami, sudah melakukan persiapan sejak 2 April lalu. Kami sangat senang menyambut ajang ini,” kata Artistic Director Lila Bhawa, Ni Madé Pujawati melalui pesan WhatsApp, kemarin.

Sebelum pandemi acara ini diselenggarakan setiap tahun. Saat ini memang masih pandemi, tetapi semua peraturan pentas sudah dibebaskan. Orang-orang di Inggris dipercaya untuk mengambil tanggung jawab sendiri untuk menjaga kesehatan mereka masing-masing. Kebanyakan masyarakat disini sudah melakukan vaksin, booster. “Mulai 24 February 2022 lalu, pemerintah Inggris sudah mengumumkan bahwa semua peraturan untuk Covid-19 sudah dibebaskan. Tidak ada lagi penggunaan masker, tidak ada karantina, tidak ada tes. Jadi pentas sudah diperbolehkan, namun orang-orang masih tetap berhati-hati,” ucap Pujawati.

Sanggar Tari Lila Bhawa di London ini dibina oleh Ni Made Pujawati, Dewi Ariati dan Andrea Rutkowski akan pentas dengan Grup Gamelan Bali Lila Cita dibawah pimpinan Andy Channing di City University. Acara ini diselenggarakan oleh Music Department di City University dalam rangka untuk mempromosikan musik Indonesia di negara tersebut. “Tujuan pentas ini sebagai promosi gamelan Indonesia di City University serta menginspirasi murid-murid di sana agar tertarik belajar musik juga tarian Indonesia,” papar penari alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini.

Lila Bhawa

Penari dari Lila Bhawa sebanyak 4 orang, dan didukung penabuh kurang lebih 20 orang dari Grup Lila Cita dan Sekar Enggal. Saat itu akan menampilkan “Tabuh Telu Rare Menganti” ciptaan I Nengah Susila (2011), Tari Pendet oleh Andrea Rutkowski dan Siti Nurhasanah, Tabuh kreasi baru “Step by Step” ciptaan I Nengah Susila (2021), Tari Oleg Tamulilingan dibawakan  Amandine Mareschi dan Laura Scanlon. Selain gamelan dan tari Bali, acara ini akan menampilkan gamelan degung khas Sunda yang akan dipentaskan oleh Grup Gamelan Sekar Enggal dan diketuai oleh Simon Cook.

Baca Juga:  Matah Gede, Janda Jantan Ni Calonarang

Sementara untuk seni karawitan Sunda akan menampilkan Tabuh Gambir Sawit, Uking Sukri – Karang Ulun Naek Belenderan, dan Lutung Bingung Naek Bendrong. Kolaborasi seni musik antara degung dan violin disajikan oleh Brad Smith. Engkos – Rumingkang, Potret Manehna oleh Nano S, Sekar Manis oleh Saodah Harnadi Kusumah. “Masyarakat di sini memang senang menyaksikan tari Bali yang konon indah dan sangat khas. Maka itu, banyak warga Ingris yang ikut pelajaran tari Bali ini, bahkan sudah ada yang belajar langsung ke Bali,” imbuhnya.

Tari Pendet sebagai salah satu tarian tradisional Bali yang penciptaanya mendapat inspirasi dari tarian upacara “memendet”. Tarian ini diciptakan di tahun 1960-an oleh I Wayan Rindi sebagai tarian penyambutan tamu, sebagai ucapan selamat datang. Para penari bergerak dengan lemah gemulai, senyum ramah dan membawa bokor bunga yang kemudian di taburkan ke arah tamu di akhir tarian. Tari Oleg Tamulilingan, merupakan tarian duet yang menggambarkan dua kumbang beterbangan untuk mengisap sari bunga dan juga untuk memadu kasih. Tari ini diciptakan tahun 1952 oleh I Ketut Mario atas permintaan John Coast, budayawan dari Inggris. Tarian duet ini diciptakan untuk di promosikan di Eropa dan Amerika.

Lila Bhawa

Tabuh Telu Rare Menganti terdiri dari kata Rare yang artinya bayi dan Menganti artinya menunggu. Jadi, menunggu kelahiran seorang bayi. Pada saat, Susila menciptakan tabuh ini ada seorang anggota Lila Bhawa yang sedang hamil dan sedang menunggu kelahiran si jabang bayi. Sementara Tabuh Step by Step adalah tabuh kreasi yang diciptakan oleh I Nengah Susila selama pandemi. Step by Step yang artinya selangkah demi selangkah. I Nengah Susila menggarap tabuh ini di Bali, sedangkan Lila Cita yang belajar musik berada di London, Inggris. Pengiriman musik yang sepenggal-sepenggal atau sedikit demi sedikit diartikan oleh Lila Cita Step by Step yang kemudian dipakai judul tabuh kreasi tersebut.

Baca Juga:  Pergelaran Bulan Bahasa Bali
Sanggar Bajrajnyana Music Theater Sajikan “Sanggita Karma Yoga Sanyasa”

Group Kesenian Lila Bhawa di Masa Pandemi

Selama pandemi 2020-2022, Sanggar Tari Lila Bhawa tetap aktif berlatih tarian-tarian Indonesia. Jika sebelumnya dilakukan secara langsung, namun di masa pandemi itu pembelajaran dan latihan dilakukan melalui zoom dan video tutorial. Tarian yang dipelajari, seperti Tari Jawa Gaya Solo Rantaya Putri, Tari Bali Pendet, Tari Jaipongan Sunda Oray Welang, Tari Modern-Kontemporer dari Kalimantan Enggang Balian serta tambahan Tari Bali untuk pria yaitu Baris Presi. “Pada saat pandemi, kami juga melakukan pementasan, namun mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah,” kata Dewi Ariati ikut berkomentar.

Pentas-pentas selama pandemi itu, seperti dilaksanakan di Pasar Indonesia Kota Bristol. Saat itu menampilkan penari Rachinta Platts, Laura Scanlon, Catherine Henryanto dan Andrea Rutkowski dengan menampikan Tari Oray Welang dan Tari Enggang Balian serta ngibing Sinden Jaipongan. Pentas seni tari pada 8 August 2021 dibawah arahan Dewi Ariati itu untuk mempromosikan produk makanan, minuman, kerajinan dan kesenian Indonesia. Pada 24 Juli 2021, melaksanakan pentas di Brent Cross Shopping Centre, London. Saat itu menampilkan Tari Betawi Ondel-ondel dan Tari Kalimantan Enggang Balian di bawah bimbingan Dewi Ariati. Penarinya, Laura Scanlon, Catherine Henryanto, Dewi Ariati dan Siti Nurhasanah yang mempromosikan acara Bandstand Live di Shopping Centre Brent Cross.

Lila Bhawa

Pada 16 November 2021 menampilkan tari Jawa gaya Solo Gambyong Pangkur dan Eka Prawira di Cambridge Gamelan Society. Saat itu didukung penari Andrea Rutkowski dan Melissa De Weerdt untuk mempromosikan Music Department di Cambridge. Sementara pada 28 November 2021 tampil dalam ajang ISME UK EXPO (Indonesian Merchant & Trade EXPO) di Oxford membawakan Tari Bajidor Kahot, Hayu Batur dan ngibing jaipongan untuk mempromosikan Indonesian small-medium businesses. “Kami juga tampil pada acara SUKA (Singaporean UK Association) Hari Raya Celebration 2022 in London pada 7 May 2022. Saat itu menampilkan Tari Joget Gadis Melayu dan Joget Anak Tiung dalam rangka Hari Raya Lebaran 2022, dan pertama kalinya Sanggar Tari Lila Bhawa dan Grup Gamelan Bali Lila Cita pentas bersama lagi di City University pada 25 Mei,” beber Dewi Ariati.

Baca Juga:  I Kadek Dedy Sumantra Yasa Resurrection - Kebangkitan

Lila Cita berdiri pada Maret 1992 atas ide Andy Channing. Dari semenjak berdiri sampai sekarang, banyak anggotanya yang sudah belajar musik di Bali, apakah dengan biaya sendiri atau mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Indonesia. Dari awal, Lila Cita secara rutin melakukan pentas musik-musik tradisional dan juga kontemporer Bali. Grup ini sudah pentas di semua kota UK dan juga di luar UK, termasuk di Fondacion La Caixa di Barcelona, St James’ Palace, Royal Opera House, Munich Stadt Museum dan Glastonbury Festival. Lila Cita sudah pernah pentas di Pesta Kesenian Bali (PKB), Bali Arts Festival 2006. “Sementara ini belum ada pembicaraan untuk ikut di PKB tahun 2022 di Bali,” tambahnya.

Lila Bhawa

Sementara Lila Bhawa merupakan sanggar tari Indonesia yang ada di London UK. Tarian-tarian yang mereka pentaskan tidak hanya tarian Bali dan Jawa, tetapi juga tari-tarian dari Sunda, Betawi, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Group ini didirikan oleh Ni Made Pujawati bersama beberapa penari lain tahun 2002. Sedangkan Sekar Enggal, merupakan grup gamelan yang ada di City University khusus memetaskan musik Sunda di UK. Simon Cook yang membawa gamelan degung ke City University tahun 1990, dan mulai belajar gamelan di Belanda tahun 1979. Kemudian belajar musik dan tinggal di Indonesia selama 12 tahun. [B/*]

Artikel Terkait