15 Karya Budaya Meriahkan Festival Ogoh-ogoh GWK 2026
Festival Ogoh-ogoh GWK 2026/Foto: bud
LANGKAHNYA indah, walau sedang berjalan cepat. Seluruh tubuhnya di balut busana adat yang sederhana, namun terkesan kuat. Senyum ceria tak pernah pupus di wajahnya. Itu karena irama gamelan bleganjur yang selalu menyemangati. Indah dan menarik.
Berat beban di bahunya terasa lebih ringan, sorak dan tepuk tangan penonton yang tak pernah henti. Patung raksasa yang diusungnya, dibuat semakin hidup. Ekspresi para pengarak patung berwajah bhutakala itu berkumpul disitu. Mereka mampu menghidupkan patung tiga dimensi itu.
Itulah suasana Festival Ogoh-ogoh ke-6 yang digelar Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Minggu 22 Maret 2026. Pukul 16.00 WITA pengunjung disuguhi parade Ogoh-ogoh di area Festival Park, lalu dilanjutkan dengan perlombaan Ogoh-ogoh di kawasan Mandalaloka.
“Pelaksanaan Festival Ogoh-ogoh tahun ini mencerminkan terjalinnya kolaborasi yang baik antara peserta, komunitas, dan tim penyelenggara,” kata Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch Rossie Andriani sebelum acara festival itu dimulai.
Festival Ogoh-ogoh tahun ini melibatkan 15 banjar dari Kecamatan Kuta Selatan yang terpilih melalui proses kurasi dari total 33 pendaftar. Seluruh ogoh-ogoh tampil menawan karena menyajikan ide dan tema yang sangat beragam, unik dan kaya filosofi.
Semua ogoh-ogoh tampil menarik. Di balik megahnya ogoh-ogoh yang ditampilkan, semuanya menyimpan kisah kerja keras para generasi muda yang mendedikasikan waktu dan energi mereka selama berminggu-minggu. Ini menjadi edikasi, sekaligus pengalaman bagi semua yang hadir.
Banyak di antara anggota Seka Teruna Teruni, organisasi pemuda adat di tingkat banjar/desa di Bali yang menggerakkan kegiatan social dan budaya, yang rela bekerja hingga larut malam, bahkan hingga dini hari, demi menyelesaikan detail karya mereka.
Proses ini menjadi lebih dari sekadar persiapan festival, tapi menjadi ruang kebersamaan, tempat belajar yang mempererat ikatan antar generasi.
“Kami ingin memberikan yang terbaik, bukan hanya untuk lomba, tapi untuk menunjukkan identitas kami sebagai masyarakat Bali” ujar salah satu perwakilan Seka Teruna Teruni.
Dewan juri yang terdiri dari Anak Agung Gede Agung Rama Putra asal Badung, I Kadek Sumariyasa, S.Sn asal Denpasar, I Wayan Juliarta asal Gianyar, dan Andre Prawiradisastra sebagai perwakilan Management GWK melakukan penilaian dan menetapkan pemenang.
Juara I diraih oleh Sekaa Teruna Yowana Pratyaksa dari Banjar Bualu yang menampilkan ogoh-ogoh berjudul “Roga Sanggara Bumi”. Juara II diraih oleh Sekaa Teruna Setya Budhi dari Banjar Ubung dengan judul “Pragola Mayuda Pralaya”.
Juara III diraih oleh Sekaa Teruna Widya Dharma dari Banjar Tengah dengan judul ogoh-ogoh “Asuri Bava”. Sementara itu, Juara Favorit Pilihan Pengunjung juga diraih oleh Sekaa Teruna Yowana Pratyaksa dari Banjar Bualu.
Dukung pelestarian budaya Bali
Festival ini dihadirkan sebagai upaya GWK dalam menciptakan pengalaman berkunjung yang berkesan, sekaligus memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati kekayaan budaya Bali secara utuh dalam satu kawasan dengan alur kunjungan yang nyaman dan tertata.
“Ajang budaya ini memasuki tahun ke-6, sekaligus menegaskan komitmen GWK dalam mendukung pelestarian budaya Bali,” ucap Rossie Andriani.
Ogoh-ogoh merupakan karya seni yang hadir sekali dalam setahun, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Sebagai simbol kuat budaya Bali, ogoh-ogoh merepresentasikan ekspresi seni, nilai spiritual, serta kebersamaan masyarakat.
Sebagai landmark budaya Bali, GWK Cultural Park terus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas dan identitas budayanya melalui penyelenggaraan Festival Ogoh-ogoh. Ini sekaligus menegaskan komitmen GWK dalam mendukung pelestarian budaya Bali.
Festival ini dihadirkan sebagai upaya GWK dalam menciptakan pengalaman berkunjung yang berkesan, sekaligus memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati kekayaan budaya Bali secara utuh dalam satu kawasan dengan alur kunjungan yang nyaman dan tertata.
“Melalui festival ini, GWK berupaya menghadirkan ruang yang terbuka bagi karya-karya yang lahir dari masyarakat Bali, sekaligus menjadi etalase budaya yang dapat dinikmati oleh pengunjung lokal maupun mancanegara,” ucapnya.
Selain lomba Ogoh-Ogoh sebagai puncak acara, festival ini juga turut menggandeng Usaha Mikro Kecil dan Manengah (UMKM) dan brand local yang menjajakan berbagai produk menarik.
Hal tersebut sebagai bentuk upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat lewat program My Melali GWK Market yang dilaksanakan tanggal 21-23 Maret 2026. Malam itu juga menampilkan Pemoeda Soeka Karaoke yang memberikan hiburan interaktif bagi pengunjung. [B]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali