Ekspresi Siswa SLB Warnai Pesta Kesenian Bali 2026
Ekspresi siswa SLB warnai Pesta Kesenian Bali 2026/Foto: darma
INI mungkin tampak seperti pergelaran tari Bali pada umumnya. Namun, suasana di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, pada Jumat 19 Juni 2026 sore itu berbeda. Penonton membludak memenuhi area pertunjukan. Maklum, seluruh penampil merupakan siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) dari berbagai daerah di Bali.
Setiap seledet, egol, hingga hentakan kaki para penari mengundang decak kagum penonton. Ekspresi dan semangat yang mereka tampilkan mampu menyihir ribuan pasang mata yang memadati arena pertunjukan. Tepuk tangan dan apresiasi terus mengalir sepanjang pementasan hingga Drama Tari Cupak Grantang menutup rangkaian acara.
Partisipasi Satuan Pendidikan Khusus (SLB) di bawah Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Provinsi Bali dalam Rekasadana (Pergelaran) Tari Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka di hadapan masyarakat luas. Keterlibatan ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya sukses tampil dalam ajang seni budaya terbesar di Bali tersebut.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SLB Provinsi Bali, I Wayan Mudayana, mengatakan bahwa keikutsertaan siswa SLB dalam PKB tidak hanya bertujuan melestarikan budaya Bali, tetapi juga menjadi sarana pengembangan diri bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Di samping untuk melestarikan budaya Bali bagi anak-anak berkebutuhan khusus, partisipasi Satuan Pendidikan Khusus (SLB) ini juga merupakan bentuk komitmen untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak kita dalam melatih kemandirian dan menunjukkan talenta mereka. Mereka sesungguhnya memiliki kemampuan dan potensi yang sama seperti anak-anak pada umumnya,” ujar Mudayana di sela-sela kegiatan.
Semangat para peserta terlihat begitu tinggi. Mereka merupakan perwakilan dari SLB yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Setiap sekolah menampilkan pertunjukan yang telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Bahkan, para peserta telah menjalani gladi bersih sejak pagi, jauh sebelum area pertunjukan siap digunakan.
Menurut Mudayana, tantangan utama dalam persiapan kegiatan ini adalah jarak antarsekolah yang cukup berjauhan sehingga koordinasi menjadi sangat penting.
“Karena SLB tersebar di seluruh Bali, kami lebih banyak melakukan koordinasi, baik antar kepala sekolah maupun guru pembina dan pelatih tari. Masing-masing sekolah menyiapkan materi pertunjukan yang kemudian diramu menjadi satu pementasan yang runtut dan menarik untuk disaksikan,” jelasnya.
Pementasan dibuka oleh SLB Negeri 1 Denpasar yang menampilkan Tabuh Penegak Palawakia, sebuah komposisi musik instrumental Bali yang berfungsi sebagai pembuka acara. Penampilan dilanjutkan dengan Tari Selat Segara, tari kreasi baru khas Bali yang berfungsi sebagai tari penyambutan bagi tamu kehormatan.
Selanjutnya, SLB Negeri 1 Karangasem menyajikan Tari Kreasi Nitya Bhakti yang menggambarkan kesucian hati dua gadis dalam menjalankan swadarma atau kewajiban. Melalui gerak yang harmonis, tarian ini menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai kebersamaan dan keharmonisan.
SLB Negeri 1 Tabanan menampilkan Tari Kreasi Iswari yang menggambarkan sosok perempuan sebagai pribadi yang lembut namun kuat. Kelembutan dan ketegasan digambarkan sebagai dua sisi yang saling melengkapi dalam satu kesatuan.
Dari Gianyar, SLB Negeri 1 Gianyar mementaskan Tari Wirayuda, karya maestro tari Bali I Wayan Dibia yang diciptakan pada tahun 1979. Tarian ini mengisahkan sekelompok prajurit yang bersiap menuju medan pertempuran dengan tombak sebagai properti utama.
SLB Negeri 1 Badung menghadirkan Tari Galang Bulan, sebuah tari kreasi baru yang menggambarkan keceriaan remaja yang sedang dimabuk asmara. Tarian ini menonjolkan suasana riang muda-mudi saat menikmati keindahan cahaya bulan di malam hari.
Berbeda dari penampilan lainnya, SLB Pradnyagama menyuguhkan seni vokal dengan membawakan lagu-lagu Bali sambil memainkan alat musik tradisional. Kepiawaian para siswa dalam bernyanyi sekaligus memainkan instrumen musik mendapat sambutan meriah dari penonton.
SLB Negeri 1 Bangli kemudian menampilkan Tari Kembang Janger, tari pergaulan muda-mudi Bali yang melambangkan keceriaan, kebersamaan, dan kegembiraan. Tarian yang dibawakan oleh siswa-siswi tunarungu ini sukses memukau penonton melalui gerak tari yang energik dan penuh ekspresi.
Penampilan berikutnya datang dari SLB Negeri 2 Denpasar yang membawakan Tari Sapuh Guna, sebuah tari kreasi baru dengan eksplorasi gerak yang lebih kontemporer.
SLB Negeri 1 Klungkung menampilkan Tari Kreasi Bebarisan Swatantra yang mengisahkan perjuangan seorang anak dengan hambatan pendengaran untuk hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Melalui dukungan keluarga dan pengalaman hidup, tokoh dalam tarian tersebut belajar berkomunikasi, beradaptasi, serta menemukan jati dirinya.
SLB Sushrusa turut berpartisipasi melalui Tari Kreasi Tradisi, sebuah karya yang memadukan unsur kreasi baru dengan pakem tari tradisional Bali.
Sebagai penutup, SLB Negeri 3 Denpasar membawakan Drama Tari Cupak Grantang. Kisah ini mengangkat cerita dua saudara dengan karakter yang bertolak belakang. I Cupak digambarkan sebagai sosok malas, rakus, dan licik, sementara I Grantang dikenal rajin, jujur, dan berhati baik. Ketika berhasil menyelamatkan putri raja yang diculik raksasa, Grantang justru dikhianati oleh saudaranya sendiri. Namun pada akhirnya kebenaran terungkap, Cupak mendapat hukuman, dan Grantang memperoleh penghargaan atas keberanian serta kejujurannya.
Mudayana menyampaikan, pementasan tahun ini melibatkan lebih dari 120 siswa dari 12 SLB di seluruh Bali. Ia berharap kesempatan serupa terus diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka dapat menunjukkan hasil belajar dan potensi yang dimiliki.
“Kami berharap anak-anak tersayang ini terus mendapatkan kesempatan yang sama. Astungkara, Pemerintah Provinsi Bali telah memberikan perhatian dan ruang bagi kami, termasuk kesempatan tampil di PKB. Ke depan, kami berharap kerja sama yang baik antara Dinas Kebudayaan dan sekolah-sekolah SLB dapat terus terjalin. Sebab pembelajaran sesungguhnya tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui kesempatan seperti ini, ketika anak-anak dapat menunjukkan hasil belajar dan bakat mereka kepada masyarakat,” tutupnya. [darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali