November 29, 2021
Tradisi

Masih Asri Tradisi Mabuug-buugan di Desa Adat Kedonganan.

Gara-gara pandemi Covid-19, sebanyak dua kali masyarakat tidak dapat menyaksikan Tradisi Mabuug-buugan di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Maklum, segala kegiatan yang melibatkan orang banyak dibatasi, sehingga tradisi inipun ditiadakan sebagai upaya mencegah penularan Covid-19. Walau demikian, tradisi yang didukung masyarakat Kedonganan ini masih lestari, dan tetap melekat dalam diri setiap pendukungnya. Jika pandemi segera berlalu, dan situasi mulai normal menjalani segala aktivitasnya, kegiatan Mabuug-buugan tetap akan dilakukan.

Mabuug buugan

Tradisi Mabuug-buugan di Desa Adat Kedonganan menjadi sebuah interaktivitas dengan memanfaatkan dan menggunakan “buug” tanah basah (lumpur) sebagai medianya. Sesuai kajian dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, tradisi ini sebagai bentuk ucapan syukur atas kesuburan yang telah dilimpahkan pada bumi pertiwi sebagai tempat manusia dan semua makhluk hidup berkembang biak. Aktivitas unik ini biasanya dilaksanakan pada saat Ngembak Geni, sehari setelah Sipeng (Nyepi) dan biasanya sudah dimulai prosesinya pukul 14.00 Wita. Tradisi ini diikuti oleh sekitar 1.000 – 1.500 orang dari krama 6 Banjar, yaitu: Banjar Pasek, Kertayasa, Pengenderan, Anyar Gede, Ketapang, dan Banjar Kubualit.

Mabuug-buugan juga dimaknai sebagai visualisasi dari belenggu kekuatan Bhuta (aura negatif) dan keterbebasan manusia dari kekuatan Bhuta itu sendiri. Manusia divisualisasikan dengan balutan tanah atau lumpur sebagai perwujudan dari Bhuta atau kekotoran yang melekat pada tubuh dan jiwa manusia, yang selama satu tahun pasti dialami oleh setiap manusia. Untuk dapat menghilangkan kekuatan Bhuta dalam buana alit (badan kasar manusia), maka dimohonkan kepada kekuatan Segara (laut) sarana Pemarisudha (pembersihan dan penyempurnaan) agar manusia kembali suci lahir dan bhatin. Menariknya, tradisi ini dilakukan oleh semua masyarakat Desa Adat Kedonganan baik pria, wanita, yang dewasa ataupun anak-anak.

Masyarakat sebagai pesertanya, tidak sembarangan melakukannya. Seluruh peserta harus mengikuti prosesinya. Pertama, seluruh peserta berkumpul di depan Pura Bale Agung atau di depan Catus Pata. Kemudian mendengarkan penjelasan tentang tradisi ini, seperti maknanya, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan (Do and Don’t) selama prosesi. Pada saat bersamaan, para peserta juga berlatih menyanyikan lagu khas tradisi yang ada ini. Lagu itu dengan lirik, seperti “mentul menceng – mentul menceng, glendang glendong – glendang glendong”. Para peserta akan menyanyikan lagu ini, sejak dilepas dari Catus Pata menuju Pantai Timur, pada saat berada di pantai saat melumuri tubuhnya dengan lumpur, sampai kemudian bergerak ke Pantai Barat. Lirik lagu ini seolah-olah menggambarkan alat kelamin laki-laki dan perempuan sebagai perwujudan Lingga Yoni, simbul kesuburan alam semesta

Mabuug buugan

Selanjutnya memasuki proses kedua menuju hutan mangrove. Jro Bendesa Adat Kedonganan akan melepas para peserta, selanjutnya bergerak ke arah Pantai Timur Kedonganan yang dipenuhi hutan mangrove. Sebelum masuk ke laut dan melumuri tubuhnya dengan buug (lumpur), terlebih dahulu diawali dengan berdoa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memohon keselamatan, perlindungan, dan anugerah kesejahteraan lahir bhatin. Jro Mangku Kahyangan Desa memercikkan Tirta Pengelukatan kepada seluruh peserta. Setelah itu peserta tradisi melumuri seluruh tubuhnya dengan buug (lumpur). Kemudian, berbaris dengan tertib untuk kemudian bergerak ke Pantai Barat melalui Jalan By Pass Ngurah Rai.

Sementara proses ketiga, seluruh peserta yang sudah sampai di Pantai Barat Kedonganan, selanjutnya menceburkan diri ke laut dan membersihkan semua buug (kekotoran) yang melekat di tubuhnya. Begitu semuanya bersih, mereka duduk dengan tertib di pasir, untuk selanjutnya Jro Mangku kembali memercikkan dan nunas Tirta Amerta Sanjiwani yang ditunas di segara. Begitu semua peserta selesai nunas tirta, maka selesailah prosesi tradisi Mabuug-buugan ini. Selanjutnya peserta bisa menikmati hiburan atau pulang ke rumah masing-masing.

Jero Bendesa Adat Kedonganan, Dr. I Wayan Mertha SE, M.Si, mengatakan, tradisi Mabuug-buugan ini tidak diketahui secara pasti kapan mulainya. Berdasarkan cerita para tetua dan pengelingsir desa adat, saat beliau kecil dulu sudah napetang (sudah ada) tradisi ini. Sempat tradisi ini redup seputar tahun 1965-an (mungkin karena Gestok), sampai dengan tahun 1990-an. Namun, generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna, Pemuda Eka Santhi Kedonganan dan Sekaa Demen, mereka menggali dan membangkitkan kembali tradisi ini.

Selanjutnya Prajuru Desa Adat Kedonganan menampilkan secara rutin tradisi ini sampai sekarang. “Kami pernah berencana menampilkan tradisi ini secara besar-besaran dengan melibatkan krama desa (peserta dari luar desa) termasuk wisatawan, karena tradisi ini akan dijadikan sebagai salah satu icon wisata budaya di Kedonganan, berkolaborasi dan saling melengkapi dengan wisata ecomangrove yang saat ini sedang dikembangkan di Pantai Timur Kedonganan. Sayangnya karena Pandemi Covid-19, akhirnya dibatalkan dan ditunda pelaksanaannya,” papar Jero Bendesa Adat Mertha, Minggu 26 September 2021.

Penggalian atas pemaknaan filosofi dari tradisi ini terus dilakukan, sehingga masyarakat pelaku ataupun yang menyaksikan akan mengetahui dan mengerti makna tradisi ini. Satu hal yang sangat menarik, yakni masyarakat Kedonganan ingin agar tradisi ini terus dapat dilestarikan, bahkan dikembangkan menjadi Atraksi Wisata Budaya Khas Desa Adat Kedonganan. Hal ini juga dapat melengkapi daya tarik wisata kuliner (seafood cafe) di pantai barat yang sudah duluan berkembang di Desa Kedonganan. “Kami berharap, agar pemerintah dapat mencantumkan tradisi unik ini dalam Calender of Event Pariwisata Bali, sehingga wisatawan dapat melihat dan menikmatinya sesuai jadwal yang pasti,” harapnya.

Dr. Kadek Indra Wijaya, salah seorang prajuru desa sekaligus dosen dan seniman Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, yang biasa menjadi Ketua Tradisi Mabuug-buugan ini mengaku, saat melakukan prosesi permainan tradisional khas kedonganan itu, ia merasakan hatinya sangat bahagia, karena semua lapisan masyarakat Kedonganan ikut meramaikan permainan. Semua itu diawali dengan segala persiapan rentetan upacara adat yang bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi, Tahun baru bagi Umat Hindu. “Tradisi Mabuug-buugan ini sebagai penutup kegiatan Hari Raya Nyepi tersebut. Karena sebelum melakukan persiapan perayaan Hari Raya Nyepi seperti Melasti, Upacara Agama Tawur Kesange, Pawai Ogoh-ogoh, melaksanakan Brata Penyepian, dan ditutup dengan melaksanakan tradisi Mabuug-buugan,” kenangnya.

Tradisi Mabuug-buugan memang unik, dan masih asri karena dilestarikan oleh masyarakat Desa Adat Kedonganan. Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung telah meraih Sertifikat Kekayaan Budaya Tak Benda dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham RI). Dengan mendapatkan pengakuan ini, maka tradisi Mabuug buugan itu sudah menjadi hak paten sebagai milik Desa Adat Kedonganan. “Kami besyukur dan sangat berterima kasih kepada pemerintah, khususnya Bapak Gubernur Bali yang memperjuangan Tradisi Mabuug-buugan sebagai Kekayaan Intelektual dan Kekayaaan Budaya berbasis Komunal. Sertifikat ini sebagai tanda bukti kepemilikan Masyarakat Desa Adat Kedonganan,” lanjut Jero Bendesa Adat, Mertha. [B/*]

Related Posts