Dari Tabanan Membaca Danau Toba: Ketika Generasi Muda Bali Menafsir Alam dan Budaya

 Dari Tabanan Membaca Danau Toba: Ketika Generasi Muda Bali Menafsir Alam dan Budaya

I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa/Foto: ist

DANAU Toba tidak hanya dapat dibaca sebagai bentang alam yang luas dengan perbukitan dan air yang membentang di tengah Sumatera Utara. Bagi dua pelajar asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu Vidya Pertiwi, Toba menjadi ruang untuk mengenali hubungan antara manusia, alam, dan kebudayaan melalui bahasa seni rupa.

Keduanya diundang kurator Ni Ketut Ayu Sri Wardani br. Girsang untuk berpartisipasi dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam” di Huta Art Space, Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Pameran yang mempertemukan sejumlah perupa muda tersebut dibuka pada 2 Oktober 2026, pukul 16.00–19.00 WIB. Kehadiran Bagus dan Ayu menjadi menarik karena keduanya datang dari rentang usia yang berbeda.

Bagus merupakan siswa sekolah menengah atas, sedangkan Ayu masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, keduanya bertemu dalam satu kegelisahan artistic, yakni bagaimana alam dan kebudayaan dapat dibaca melalui mata generasi muda.

Toba dalam Pandangan Seorang Remaja Bali

Bagus Sastra, siswa kelas X SMA Negeri 1 Tabanan, menghadirkan karya “Harmoni Alam Toba”, 2026, menggunakan cat akrilik di atas kanvas berukuran 50 × 100 sentimeter.

Dalam lukisan tersebut, figur manusia Batak dipertemukan dengan bentang Danau Toba. Sosok manusia, perbukitan, air, dan langit dirangkai menjadi satu kesatuan visual.

Bagi Bagus, pertemuan berbagai unsur tersebut bukan semata-mata persoalan estetika, tetapi juga cara untuk berbicara mengenai hubungan manusia dengan lingkungan serta kebudayaan yang tumbuh di dalamnya.

Toba, dalam pembacaan Bagus, tidak berhenti sebagai lanskap. Ia merupakan ruang kehidupan, tempat manusia membangun relasi dengan alam sekaligus menjaga identitas kebudayaannya.

Menariknya, cara pandang tersebut datang dari seorang remaja yang tumbuh jauh dari Toba, di lingkungan budaya Bali. Jarak geografis justru menjadi ruang untuk menemukan persamaan nilai.

Penghormatan terhadap alam, manusia, tradisi, dan identitas budaya merupakan nilai-nilai yang dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Bali maupun Toba, meskipun masing-masing memiliki ekspresi kebudayaan yang berbeda.

Melalui karya “Harmoni Alam Toba”, Bagus mencoba mempertemukan dua pengalaman kebudayaan tersebut dalam bahasa visual.

Ketertarikannya pada seni rupa sendiri bukan sesuatu yang baru. Bagus telah menekuni dunia seni sejak usia anak-anak. Salah satu pencapaiannya adalah meraih Grand Prix Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa 2021–2022 di Jepang melalui karya yang mengangkat pengalaman dan kebudayaan Bali.

Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan artistiknya ketika kini ia berhadapan dengan tema dan ruang budaya yang berbeda.

Toba melalui Mata dan Imajinasi Anak

Jika Bagus mencoba membangun dialog antara manusia, identitas, dan lanskap melalui pendekatan seorang remaja, Ayu Vidya menghadirkan Toba dari dunia imajinasi seorang anak.

Ni Kadek Ayu Vidya Pertiwi/Foto: ist

Ni Kadek Ayu Vidya Pertiwi, siswa kelas V SD Negeri 1 Biaung, Penebel, Tabanan, membawa dua karya dalam satu seri, yakni “Harmoni Alam Toba #1” dan “Harmoni Alam Toba #2”. Kedua karya tersebut dibuat pada 2026 menggunakan cat gouache di atas kanvas berukuran 50 × 100 sentimeter.

Warna menjadi bahasa utama Ayu. Sapuan cat yang ekspresif menghadirkan Danau Toba, perbukitan, langit, dan vegetasi dalam suasana yang hidup. Alam tidak ditempatkan sebagai latar yang pasif, tetapi sebagai bagian dari ruang kehidupan manusia.

Dari sudut pandang seorang anak, hubungan tersebut hadir secara lebih spontan. Tidak banyak batas antara alam, manusia, dan kebudayaan. Semuanya dapat menjadi satu kesatuan yang penuh warna.

Karya Ayu memperlihatkan bagaimana anak dapat membaca kebudayaan bukan semata-mata melalui pengetahuan yang bersifat teoritis, melainkan melalui pengalaman visual, imajinasi, dan kepekaan terhadap lingkungan.

Ia telah mengenal aktivitas menggambar dan melukis sejak sekitar usia tiga tahun. Berbagai medium pernah dieksplorasinya, mulai dari cat air, pensil warna, krayon, hingga karya digital. Dalam perkembangannya, Ayu kemudian tertarik pada penggunaan cat gouache di atas kertas dan kanvas.

Pengalaman panjang tersebut membentuk keberanian visual yang terlihat dalam seri karya tentang Toba.

Seni sebagai Jembatan Antarpulau

Pertemuan Bagus dan Ayu dengan Toba memperlihatkan satu hal penting: kebudayaan tidak selalu harus dipahami dari tempat asalnya.

Sebuah lanskap dapat mengundang orang dari luar untuk melihat, menafsirkan, dan kemudian membangun dialog dengan pengalaman budayanya sendiri. Dalam konteks inilah seni rupa menjadi jembatan. Ia memungkinkan perjumpaan antara Bali dan Toba tanpa harus menghilangkan kekhasan masing-masing.

Bagus, dengan perspektif seorang pelajar SMA, mencoba membangun hubungan antara figur manusia, identitas budaya, dan lanskap. Sementara Ayu, melalui perspektif anak-anak, menawarkan warna, spontanitas, dan imajinasi.

Keduanya memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi bertemu pada gagasan mengenai hubungan manusia dengan alam.

Tema “Danau Toba: Manusia & Alam” pun memperoleh makna yang lebih luas ketika dibaca melalui karya dua pelajar dari Bali. Danau Toba tidak semata-mata hadir sebagai objek pemandangan. Ia menjadi ruang hidup, tempat manusia, alam, tradisi, dan ingatan budaya saling berkelindan.

Di titik itu, seni rupa tidak hanya berbicara tentang bagaimana sebuah tempat terlihat, tetapi juga bagaimana tempat tersebut dirasakan dan dimaknai.

Dari Tabanan ke Toba

Perjalanan Bagus Sastra dan Ayu Vidya dari Tabanan menuju ruang pamer di Siborongborong menjadi sebuah pengalaman pembelajaran lintas budaya.

Keduanya datang dari Bali dengan pengalaman budaya masing-masing, kemudian berhadapan dengan Toba sebagai ruang artistik. Melalui proses penciptaan karya, mereka mencoba mengenali alam dan kebudayaan Toba, lalu menghadirkan hasil pembacaan tersebut dalam bahasa visual.

Perjumpaan semacam ini penting bagi generasi muda. Kebudayaan tidak hanya diwariskan melalui ingatan, ritual, maupun pengetahuan yang telah ada, tetapi juga terus dibaca dan ditafsirkan oleh generasi berikutnya.

Di tangan anak-anak dan remaja, seni menjadi ruang untuk bertanya: bagaimana manusia memperlakukan alam? Bagaimana kebudayaan tumbuh dari lingkungan? Dan bagaimana identitas dapat tetap hidup ketika seseorang berjumpa dengan kebudayaan yang berbeda?

Dari Tabanan, dua pelajar muda itu menjawabnya dengan warna dan kanvas. Danau Toba kemudian tidak hanya menjadi tempat yang mereka lukiskan. Ia menjadi ruang perjumpaan—antara Bali dan Toba, antara pengalaman dan imajinasi, serta antara generasi muda dan kekayaan kebudayaan Indonesia.

Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam” dikuratori oleh Ni Ketut Ayu Sri Wardani br. Girsang dan berlangsung di Huta Art Space, Kompleks Piltik Coffee, Jl. Sadar/Sipahutar No. 31, Lobusiregar 1, Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Pameran dibuka pada 2 Oktober 2026, pukul 16.00–19.00 WIB. [asa]

Related post