Huni: Merangkai Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang melalui Seni Intermedium

 Huni: Merangkai Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang melalui Seni Intermedium

Karya Tari Parapamor/Foto: ist

EKSPLORASI gerak sembilan penari membuka pertunjukan dengan komposisi yang artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih, para penari menggerakkan selendang sebagai bagian dari kostum sekaligus medium simbolis. Selendang dilambaikan mengikuti ekspresi dan dinamika tubuh, menghadirkan visualisasi tentang kehadiran dan ketiadaan, kenyataan dan kesemuan. Gagasan tersebut diterjemahkan melalui perubahan formasi, pola lantai, level, arah hadap, tempo, dan dinamika gerak yang membentuk komposisi harmonis.

Adegan tersebut merupakan bagian dari karya Huni, yang disajikan dalam pergelaran seni intermedium bertajuk “Huni-Jnana-Hana” di Museum Rudana, Bali, Senin, 19 Oktober 2026. Karya yang melibatkan dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ini merupakan bagian dari hasil Program Penciptaan Dosen Seni dan Desain (P2DSD) II Tahun 2026 yang memperoleh hibah dari Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP2MP) ISI Bali.

Diseminasi tersebut diselenggarakan dalam rangkaian acara Setanggi Puspa Budaya untuk memperingati Hari Museum Indonesia 2026. Acara ini juga dirangkaikan dengan peresmian pameran seni rupa karya Wayan Kun Adnyana bertajuk “Guwung Suwung”. Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Ketua Asosiasi Museum I Putu Supadma Rudana, serta undangan dari kalangan kebudayaan, permuseuman, akademisi, dan pelaku seni.

Ketua Peneliti Huni, Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si. menjelaskan, karya ini berangkat dari pemahaman tentang ruang sebagai entitas relasional yang membentuk interaksi manusia dengan lingkungan, sesama, budaya, dan berbagai unsur kehidupan di sekitarnya. “Huni memandang ruang bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya kehidupan, tetapi sebagai ruang relasional tempat manusia berinteraksi dengan lingkungan, sesama manusia, budaya, dan berbagai elemen kehidupan di sekitarnya. Tubuh, suara, musik, visual, dan ruang diposisikan sebagai elemen yang saling berinteraksi dan membangun pengalaman artistik secara simultan,” ujar Ardini.

Karya Tari Bianglala/Foto: ist

Gagasan tersebut diwujudkan melalui integrasi berbagai medium artistik yang tidak sekadar hadir berdampingan, tetapi saling merespons dalam membangun struktur dan pengalaman pertunjukan. Tubuh penari, komposisi musik, elemen visual, vokal, dan peragaan busana menjadi bagian dari konstruksi artistik yang mengartikulasikan hubungan manusia dengan ruang yang dihuni.

Eksplorasi Gerak dan Transformasi Artistik

Pada aspek koreografi, tiga penata tari, yakni I Wayan Adi Gunarta, S.Sn., M.Sn., Ni Wayan Suartini, S.Sn., M.Sn., dan Kadek Diah Pramanasari, S.Sn., M.Sn., mengolah beragam idiom gerak, mulai dari tradisi tari Bali dan Jawa hingga tari modern. Perpaduan tersebut menghasilkan pendekatan koreografis yang dinamis dengan menempatkan gerak, ekspresi, kostum, dan suasana sebagai unsur pembentuk karakter pertunjukan.

Secara keseluruhan, Huni dikembangkan melalui empat repertoar tari, yaitu Parapamor, Bianglala, Warunarupa, dan Mina Bedhoyo. Keempatnya menghadirkan karakter dan pendekatan artistik yang berbeda, tetapi tetap terhubung melalui gagasan besar tentang ekologi manusia dalam relasi ruang. Penggunaan musik Big Band dengan karakter musikal Barat turut memberikan warna dinamis pada struktur pertunjukan, berdampingan dengan eksplorasi musik fusion dan idiom musikal tradisional.

Secara dramaturgis, pertunjukan diawali dengan Parapamor, yang dibawakan oleh sembilan penari putri. Karya ini dibangun melalui tiga fase suasana, yakni Hana, Tanhana, dan Fatamorgana. Fase Hana merepresentasikan keberadaan, keteraturan, dan kehadiran tubuh. Sebaliknya, Tanhana menghadirkan kesan kekosongan, ketidakpastian, dan kehilangan bentuk. Sementara itu, Fatamorgana mempertemukan kedua kondisi tersebut sehingga batas antara keberadaan dan ketiadaan menjadi samar.

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui pengolahan formasi, pola lantai, level, arah gerak, tempo, dan dinamika tubuh. Selendang yang menjadi bagian dari kostum berfungsi sebagai elemen visual sekaligus simbolis, memperluas ekspresi gerak dan mempertegas perubahan suasana. Koreografi tidak hanya menyajikan keindahan komposisi, tetapi juga membangun ruang interpretasi tentang ketidakpastian batas antara kenyataan dan kesemuan.

Keunikan Parapamor terletak pada dialog antara bahasa gerak kontemporer dan iringan musik yang kontras, tetapi tetap membangun kesatuan artistik. Musik Big Band tidak sekadar menjadi pengiring, melainkan turut membentuk struktur dramatik melalui perubahan tempo, dinamika, aksentuasi, tekstur, dan atmosfer. Hubungan koreografi dan musik berlangsung secara dialogis: keduanya saling merespons dan memperkuat ekspresi pertunjukan.

Repertoar berikutnya, Bianglala, mengeksplorasi transformasi komposisi melalui lima penari putri. Mengenakan busana bernuansa ungu, para penari memainkan kipas berekor panjang yang menghasilkan visual menyerupai pelangi. Gerak kipas yang melambai berpadu dengan dinamika tubuh dan perubahan formasi, menciptakan citra visual yang merepresentasikan perubahan dan kesinambungan.

Konstruksi koreografinya dibangun melalui eksplorasi gerak, ruang, level, pola lantai, dan dinamika tubuh. Relasi ant penari ditata melalui perubahan komposisi kelompok yang menjadi bagian penting dari perkembangan dramaturgi. Transformasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai variasi visual, tetapi juga sebagai medium untuk mengartikulasikan peralihan, perubahan, dan keberlanjutan.

. Fashion Show Gelatik/Foto: ist

Iringan musik fusion yang didominasi gamelan memperkuat suasana, memberikan aksentuasi pada gerak, serta menandai perubahan struktur dan transisi koreografi. Perpaduan idiom musikal tradisional dengan bahasa gerak kontemporer menjadikan Bianglala sebagai eksplorasi artistik yang dinamis sekaligus transformatif.

Dialog Vokal, Musik, dan Peragaan Busana

Pergelaran kemudian berlanjut melalui penampilan dua vokalis, Timothy dan Kamila, yang membawakan lagu “Kita Anak Bangsa”. Lirik lagu tersebut berkaitan dengan tema pertunjukan, menghadirkan dimensi musikal sekaligus memperluas pesan yang disampaikan melalui medium vokal.

Penampilan keduanya dipadukan dengan fashion show bertajuk Gelatik, yang melibatkan lima model putri dengan penataan gerak oleh Ni Luh Ayu Pradnyani Utami, M.Sn. Peragaan busana ini menghadirkan dimensi visual yang terintegrasi dengan ruang, musik, dan dinamika pertunjukan.

Perpaduan vokal, musik, gerak, dan peragaan busana membentuk sajian interdisipliner yang menempatkan setiap medium sebagai bagian dari satu kesatuan artistik. Musik Big Band berkarakter pop Nusantara berfungsi sebagai landasan musikal sekaligus penggerak ritme, suasana, dan dinamika pertunjukan.

Dalam konteks ini, fashion show tidak sekadar menjadi presentasi busana, tetapi juga bagian integral dari struktur pertunjukan. Busana, tubuh model, suara, dan musik membangun relasi visual-auditorial yang memperkaya pengalaman penonton. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana medium yang berbeda dapat saling melengkapi dalam menghasilkan sajian yang modern, dinamis, komunikatif, dan kontekstual.

Dari Ekologi Samudra menuju Tradisi Istana

Eksplorasi hubungan manusia dan lingkungan berlanjut melalui karya Warunarupa, yang dibawakan oleh delapan penari putri. Para penari menghadirkan gerak yang terinspirasi dari biota laut, seperti hiu, lumba-lumba, paus, pari manta, ikan terbang, dan kerang mutiara. Ragam gerak tersebut menjadi representasi artistik kehidupan bawah laut sekaligus simbol keharmonisan ekosistem samudra.

Inspirasi dari biota laut diterjemahkan melalui pengolahan kualitas gerak, dinamika tubuh, dan komposisi kelompok. Melalui pendekatan tersebut, kehidupan bawah laut tidak hanya dihadirkan sebagai objek visual, tetapi juga sebagai sumber gagasan untuk mengeksplorasi hubungan antara tubuh, lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan.

Karya Tari Warunapara/Foto: ist

Bersamaan dengan itu, delapan penari putri membawakan Mina Bedhoyo dengan gaya gerak tari Jawa dan balutan busana tari klasik Jawa. Karya ini menghadirkan karakter gerak yang berbeda dari Warunarupa, tetapi tetap terhubung melalui dialog musikal dan konseptual. Iringannya menyerupai gamelan Bali, dengan permainan kotekan gangsa, pukulan reong, tawa-tawa, dan ceng-ceng. Perpaduan unsur gerak dan musikal tersebut membangun pertemuan artistik antara tradisi Bali dan Jawa.

Rangkaian Warunarupa–Mina Bedhoyo menghadirkan pendekatan tari postradisi yang mengeksplorasi transformasi artistik dari pesona samudra menuju kharisma istana. Perubahan tersebut divisualisasikan melalui pengolahan gerak, pola lantai, dinamika kelompok, dan karakter tubuh penari. Iringan fusion yang didominasi gamelan bernuansa Jawa menjadi landasan musikal dalam membangun peralihan suasana dan karakter.

Pertautan kedua karya tersebut menghadirkan perjalanan artistik dari lanskap kehidupan laut menuju suasana yang merepresentasikan tradisi istana. Perbedaan karakter gerak, busana, dan musikalitas tidak menghilangkan kesinambungan gagasan, tetapi justru memperkaya interpretasi tentang transformasi, keberagaman, dan relasi antarelemen budaya.

Seni Intermedium dan Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

Melalui pertemuan tari, musik, vokal, visual, dan peragaan busana, pergelaran Huni menawarkan perspektif tentang manusia sebagai bagian dari ekosistem yang terus berinteraksi dengan ruang dan lingkungannya. Ruang tidak hanya dipahami sebagai tempat berlangsungnya aktivitas, tetapi juga sebagai entitas yang turut membentuk pengalaman, identitas, dan relasi manusia dengan kehidupan di sekitarnya.

Karya Tari Mina Bedhoyo/Foto: ist

Ardini menjelaskan, pergelaran ini dikembangkan melalui sejumlah karya dengan karakter dan pendekatan artistik yang berbeda, tetapi tetap berada dalam satu kesatuan tema besar, yakni ekologi manusia dalam relasi ruang. Setiap karya menjadi bagian dari perjalanan dramaturgis yang menggambarkan keberadaan, perubahan, interaksi, transformasi, dan pemaknaan manusia terhadap ruang yang dihuni.

Pergelaran bertajuk “Cipta Pergelaran Seni Intermedium Huni: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang” menggunakan pendekatan intermedium dengan mengintegrasikan beragam medium artistik untuk membangun pengalaman pertunjukan yang utuh. Dalam pendekatan ini, tari, musik, vokal, visual, dan peragaan busana tidak diposisikan sebagai unsur yang berdiri sendiri, tetapi sebagai medium yang saling berinteraksi dalam membentuk makna.

“Setiap medium tidak ditempatkan sebagai elemen pendukung semata, tetapi memiliki fungsi artistik dan konseptual dalam merepresentasikan hubungan manusia, tubuh, lingkungan, dan ruang,” imbuh Ardini.

Melalui pendekatan tersebut, Huni tidak hanya menghadirkan keragaman bentuk pertunjukan, tetapi juga mengajukan pemahaman tentang ruang sebagai bagian aktif dari pengalaman manusia. Hubungan antara tubuh, lingkungan, dan berbagai medium artistik menjadi landasan untuk membaca keberadaan manusia sebagai bagian dari ekosistem yang terus berubah. Pergelaran ini menempatkan seni intermedium sebagai ruang dialog untuk mengeksplorasi relasi manusia, budaya, dan lingkungan melalui pengalaman artistik yang saling terhubung. [dar]

Related post