Di Balik Words in Iron: Tim Film dan Musisi Berkolaborasi Mendokumentasikan Karya Wayan Gde Yudane
Di Balik Words in Iron: Tim Film dan Musisi Berkolaborasi Mendokumentasikan Karya Wayan Gde Yudane
DENPASAR, BALI — Proses pembuatan film Words in Iron: Dokumentasi Karya New Music for Gamelan Maestro Wayan Gde Yudane mempertemukan pekerja film, penata audio, dan musisi dalam satu kerja dokumentasi. Produksi yang dikembangkan oleh rOrAs Ensemble Bali ini tidak hanya berfokus pada perekaman karya musik, tetapi juga berupaya menghadirkan pengalaman dan pemikiran Wayan Gde Yudane mengenai bunyi, keheningan, tubuh, ruang, dan waktu.
Film Words in Iron merupakan bagian dari program dokumentasi karya maestro yang mendapat dukungan dari Dana Indonesiaraya melalui kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau OPK Rawan Punah, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Selain film, program ini juga mencakup perekaman audio dan penyusunan partitur sebagai sumber pembelajaran musik kontemporer berbasis gamelan.
Dalam struktur produksi, Wayan Sumahardika bertugas sebagai produser, I Wayan Medy Mahasena sebagai sutradara, dan Wayan Agus Wiratama sebagai penulis naskah. Sementara itu, pengelolaan program dikoordinasikan oleh Ni Putu Aristadewi sebagai manajer program, dengan dukungan Rita Sariani sebagai manajer administrasi dan keuangan.
Sutradara film, Medy Mahasena, mengatakan bahwa salah satu tantangan dalam mengembangkan dokumentasi musik adalah menentukan bagaimana pengalaman musikal dapat disampaikan melalui bahasa gambar.
“Kalau kita merekam pertunjukan musik, biasanya kamera mengikuti pemain atau instrumen yang sedang berbunyi. Tapi ketika kami masuk ke pemikiran Yudane, ternyata ada banyak hal lain yang juga penting. Misalnya, gerakan pemain sebelum memukul instrumen, bagaimana mereka menunggu, atau apa yang terjadi ketika bunyi mulai menghilang. Kami mencoba mencari cara supaya hal-hal seperti itu juga bisa hadir dalam film,” kata Medy.
Menurutnya, gambar tidak hanya digunakan untuk memperlihatkan siapa yang sedang memainkan musik, tetapi juga untuk membantu penonton memahami hubungan antara tindakan para pemain dan bunyi yang dihasilkan.
Pendekatan tersebut berkaitan dengan pemikiran Yudane mengenai tubuh sebagai bagian dari komposisi. Dalam praktik musikal, pengalaman waktu tidak semata-mata ditentukan oleh tempo, metrum, atau durasi yang tertulis dalam partitur. Tubuh pemain juga mengalami waktu melalui napas, gerakan, tenaga, penantian, dan respons terhadap pemain lainnya.
“Ketika seorang pemain mengangkat tangannya untuk memukul instrumen, sebenarnya ada sesuatu yang sudah berlangsung, meskipun bunyinya belum terdengar. Ada persiapan, ada waktu yang dirasakan oleh tubuh. Kemudian bunyi muncul, beresonansi, dan perlahan menghilang. Bagi saya, semua itu bagian dari musik, bukan hanya saat instrumennya berbunyi,” ujar Yudane.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa dokumentasi musikal membutuhkan perhatian terhadap peristiwa yang tidak seluruhnya dapat ditangkap melalui rekaman suara. Gerak tubuh, koordinasi antarpemain, hubungan dengan ruang, dan berbagai tindakan yang menyertai permainan musik dapat memberikan informasi tambahan mengenai cara sebuah komposisi diwujudkan.
Dalam kebutuhan musikal, produksi Words in Iron melibatkan Sanggar Gamelan Wrdhi Cwaram sebagai kelompok penabuh. Keterlibatan para pemain menjadi bagian penting karena gagasan komposisi Yudane memperoleh perwujudannya melalui praktik musikal yang melibatkan keterampilan, pengalaman, dan koordinasi dalam ansambel.
Sementara itu, proses perekaman audio ditangani oleh I Putu Adi Septa Suweca Putra dan Janu Janardhana. Penataan audio memegang peran penting dalam dokumentasi musik gamelan, terutama untuk menghadirkan hubungan antarinstrumen, lapisan ritmis, dinamika, dan resonansi yang membentuk karakter sebuah komposisi.
Dalam pemikiran Yudane, resonansi dan peluruhan bunyi tidak semata-mata menjadi akibat dari permainan instrumen, tetapi juga dapat berperan dalam pembentukan struktur musikal. Sebuah bunyi yang telah berhenti dihasilkan masih dapat memengaruhi pengalaman pendengar melalui resonansi maupun ingatan terhadap kemunculannya.
Persoalan tersebut menjadi bagian dari gagasan yang dikembangkan Yudane dalam The Shape of Silence, sebuah karya yang mengangkat hubungan antara bunyi, keheningan, dan ingatan.
“Yang menarik buat saya bukan hanya kapan bunyi dimulai, tetapi juga apa yang terjadi setelah bunyi itu berhenti. Kadang-kadang bunyinya sudah hilang, tetapi kita masih merasakannya. Kita masih mengingatnya, dan ingatan itu memengaruhi bagaimana kita mendengar bunyi berikutnya,” jelas Yudane.
Selain persoalan bunyi, film ini juga berhadapan dengan pemikiran Yudane mengenai ruang sebagai bagian dari komposisi. Melalui Gyre, misalnya, Yudane mengeksplorasi bagaimana posisi pemain, pergerakan, arah datangnya bunyi, dan hubungan antara tubuh dengan ruang dapat memengaruhi pengalaman musikal.
Bagi tim produksi, pemikiran tersebut menghadirkan pertimbangan mengenai pemilihan sudut kamera, hubungan antargambar, serta bagaimana pengalaman musikal yang berlangsung dalam ruang dapat dihadirkan kembali melalui medium film.
Di sisi lain, penulis naskah Wayan Agus Wiratama menghadapi persoalan mengenai bagaimana pemikiran musikal Yudane dapat diterjemahkan menjadi narasi yang komunikatif bagi penonton dengan latar belakang pengetahuan berbeda.
“Pemikiran Yudane itu luas sekali. Ketika kita membicarakan satu karya, pembahasannya bisa masuk ke tradisi, ruang, tubuh, sampai bagaimana orang mengingat bunyi. Tantangannya adalah bagaimana semua itu bisa disampaikan melalui film tanpa membuat penonton merasa sedang mendengarkan kuliah teori musik,” kata Agus.
Menurut Agus, pengembangan narasi perlu memperhatikan hubungan antara pengalaman hidup, proses penciptaan, dan gagasan yang muncul dalam karya-karya Yudane.
“Kami ingin penonton mengenal bagaimana Yudane berpikir sebagai komponis. Jadi, bukan hanya menjelaskan istilah atau konsepnya, tetapi juga melihat bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam perjalanan penciptaannya. Dari situ penonton bisa mengikuti pemikirannya melalui karya,” lanjutnya.
Kebutuhan teknis produksi didukung oleh Langsai Titian Nusantara sebagai penyedia peralatan kamera, lensa, stabilizer, tripod, pencahayaan, mikrofon, perekam audio, sistem tata suara, dan proyektor. Satu Frekuensi juga terlibat sebagai penyedia paket dokumentasi.
Keterlibatan berbagai bidang keahlian tersebut menuntut koordinasi antara kebutuhan sinematografi, perekaman suara, dan praktik musikal. Pilihan pengambilan gambar perlu mempertimbangkan jalannya komposisi, sementara proses perekaman audio harus memperhatikan kualitas bunyi dan hubungan akustik antarinstrumen.
Produser film, Wayan Sumahardika, menjelaskan bahwa pekerjaan dokumentasi membutuhkan pertimbangan artistik sekaligus tanggung jawab terhadap pengetahuan yang sedang direkam.
“Kalau membuat film tentang musik, kita tidak bisa hanya memikirkan gambarnya bagus atau suaranya jernih. Itu penting, tetapi belum cukup. Kami juga harus memikirkan apakah film ini membantu orang memahami karya dan pemikiran Yudane. Karena itu, kerja sutradara, penulis, penata audio, dan para musisi harus saling terhubung,” ujar Sumahardika.
Menurutnya, film dokumenter memiliki kemungkinan untuk memperlihatkan dimensi penciptaan yang tidak tersedia secara langsung melalui rekaman audio maupun partitur. Namun, kemungkinan tersebut juga membutuhkan ketelitian dalam menentukan materi yang perlu disajikan dan konteks yang menyertainya.
“Film tentu tidak mungkin memuat seluruh pengetahuan Yudane. Tetapi kami berusaha memilih bagian-bagian yang bisa membuka pemahaman penonton tentang cara ia bekerja dan mengembangkan gagasan musikalnya. Jadi, orang tidak hanya menonton dokumentasi pertunjukan, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengenal pemikiran di balik karya itu,” tambahnya.
Produksi Words in Iron menjadi bagian dari upaya rOrAs Ensemble Bali untuk mengembangkan dokumentasi karya musik melalui pendekatan yang menghubungkan rekaman bunyi, praktik musikal, dan penyajian audiovisual.
Hasil dokumentasi tersebut diarahkan untuk menjadi sumber pembelajaran bagi musisi, komponis, mahasiswa, peneliti, dan komunitas seni. Melalui film, pengalaman artistik Wayan Gde Yudane diharapkan dapat menjangkau publik yang lebih luas sekaligus memperlihatkan bahwa pengetahuan musikal tidak hanya hadir dalam bunyi yang didengarkan, tetapi juga dalam proses dan hubungan yang memungkinkan bunyi tersebut tercipta.

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali