Dari Perjalanan ke Danau Buyan, 14 Seniman Jongsarad Bali Pamerkan “Arka Umbara” di TAT Art Space
14 Seniman Jongsarad Bali pamerkan “Arka Umbara” di TAT Art Space/Foto: darma
MENYAKSIKAN pameran “Arka Umbara” di TAT Art Space, Denpasar, kita akan diajak untuk selalu menjaga hubungan baik dengan lingkungan. Sebab, setiap karya yang dipajang, menuturkan kembali pengalaman perjalanan para seniman yang harmonis, damai dan bahagia.
Maka tak heran pada saat pembukaan pameran “Arka Umbara” yang dilakukan oleh Ni Nyoman Sani, Sabtu 9 Mei 2026, dihadiri banyak pengunjung. Mereka seakan penasaran dengan karya-karya yang lahir dari sebuah perjalanan yang mampu menggugah emosi penikmatnya.
Sebanyak 14 seniman yang merupakan anggota Jongsarad Bali yang melakukan pameran itu. Masing-masing perupa menyajikan pengalaman mereka sering kali mengubah pengalaman hidup, tantangan, dan rintangan ke dalam karya seni yang kreatif dan indah.
Hasil dari perjalanan para seniman Jongsarad Bali yang dipamerkan itu sekaligus sebagai ajang untuk berbagi cerita dari seniman untuk para pengunjung. Terlebih karya yang dipajang sangat beragam, sehingga menawarkan berbagai cerita menarik, dan tentunya menginspirasi.
Para perupa yang berpameran itu, adalah Anik Argianti, Arsaiga, Aristya Purnama, Candra Astuti, Deta Artista, Giri Arnaga, I Wayan Adi Surya Pratama, Karin Puspitasari, Ni Kadek Novi Sumariyanti, Rini Widariyanti, Sakde Oka, Teratai Api, Tridanaputra, dan Ugi Gayatri.
“Melalui pameran Arka Umbara, kami ingin mengajak penikmat seni untuk menyelami kisah perjalanan itu, melihat bahwa transformasi bukan hanya tujuan, tetapi perjalanan itu sendiri,” kata Ketua Panitia Tridana Putera.
Usai serimonial pembukaan, para pengunjung mendapat kesempatan menjelajahi pameran secara mandiri. Mereka dapat menikmati sajian seni kreatif itu yang dipajang rapi. Para jelajah itu terkesan bebas, karena pengunjung dapat konsultasi dengan seniman.
Mereka juga dapat berfoto bersama para seniman di depan karyanya yang telah mengekspresikan kreativitas mereka sendiri. Tidak sedikit pengunjung, yang mengapresiasi karya itu. Apalagi, setelah mendapat literasi, cerita yang ada dalam karya itu.
Menjelajahi pameran

Setelah memasuki ruang pameran, karya Ni Wayan Argianti atau yang lebih akrab dipanggil Anik Argianti menyambu pengunjung. Karya yang berjudul “Merantau” dengan media akrilik diatas kanvas menggambarkan tradisi seseorang meninggalkan kampung halaman.
Mereka mencari pengalaman, pekerjaan atau kehidupan baru, disaat ia memilih untuk merantau di saat itu juga ia kehilangan kenyamanan yang didapat dari keluarga. Pada saat merantau, harus bisa hidup mandiri mencari rejeki di lingkungan yang baru.
Termasuk menempa diri agar menjadi pribadi yang tangguh, bahkan mungkin berada disebuah lingkungan yang membuatnya tidak nyaman, namun ia percaya itu merupakan perjalanan awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Arsaiga, seorang ilustrator dan seniman dari Denpasar memanfaatkan material daur ulang untuk dijadikan karya. Ia menggunakan warna vivid untuk membangun kesan visual yang menyala, kuat dan berani. Inspirasi karya tumbuh dari budaya Bali, mitologi, serta unsur flora dan fauna.
Mentas, tentang melewati suatu tempat. Sebuah perjalanan bersama teman-teman yang tumbuh dan bertransformasi bersama, menuju versi diri yang lebih baik. Dalam proses itu, mereka belajar untuk saling berbagi dan memahami nilai dari apa yang kita miliki.
Seperti ular yang menanggalkan kulit lama, belajar melepaskan hal-hal yang sudah usang agar bisa terus berkembang. Dengan keberanian baru, mulai melangkah lebih jauh, bergerak penuh energi seperti kuda yang berlari menuju perubahan yang lebih besar. Setiap akhir perjalanan bukanlah penutup, melainkan persiapan untuk perjalanan berikutnya.
Karya berjudul “Danu, Arka lan Raga” mengisahkan pengalaman di acara Danu Umbara di tepi Danau Buyan, bersama Jongsarad dan Luar Kotak Studio, menjadi ruang pertemuan yang hangat sekaligus bermakna.
Saat itu, seniman menghabiskan waktu bersama anak-anak di sekitar danau, berbagi berbagai pendekatan menggambar, mulai dari menggambar dengan arang, ecoprint, hingga digital painting. Ada kegembiraan yang sederhana namun terasa utuh dalam proses itu.
Dari tepi danau, momen-momen tersebut perlahan mengendap dan kemudian hadir kembali dalam bentuk karya ini. Di tengah suasana itu, perhatiannya sempat tertarik pada satu sudut lain, hamparan eceng gondok yang selama ini kuanggap sepele, bahkan terasa konyol dari namanya.
Perjalanan ini pada akhirnya bukan hanya tentang pertemuan dengan orang-orang baru atau tempat yang asing, tetapi juga tentang relasi yang lebih mendalam, antara Danau, Matahari, Aku dan Eceng Gondok.
Karya Jalan (Jaran Lantang), yakni ada jalan, ada jaran dan ada lantang. jaran dan lantang adalah bahasa bali dari kuda dan panjang. Menurut KBBI, jalan adalah tempat untuk lalu lintas orang atau kendaraan.
Kuda adalah hewan mamalia berkuku satu yang biasa dipelihara untuk ditunggangi, menarik beban, atau kerja lainnya. Kemudian Panjang adalah jarak dari ujung ke ujung yang terukur secara memanjang.
Karya Sakde Oka dengan judul “A Gathering of Birds”. Perjalanan dalam karya ini tidak dipahami sebagai perpindahan fisik semata, melainkan sebagai proses pertemuan antara diri dengan sistem makna yang baru.
Setiap pengalaman yang ditemui dalam perjalanan hadir sebagai sesuatu yang perlahan diserap, diolah, dan membentuk ulang cara individu memahami dunia.
Sekumpulan burung dalam karya ini menjadi simbol dari perjalanan tersebut, seperti pembawa fragmen pengalaman yang perlahan terkumpul dan terakumulasi membentuk suatu pusat. Karya ini memvisualisasikan tubuh dan kesadaran sebagai ruang akumulasi, tempat pengalaman dan informasi yang terkumpul dalam perjalanan disusun kembali menjadi pemahaman baru.
Tubuh pengunjung menjadi bagian dari proses ini. Melalui penggunaan kain transparan, tubuh yang berada di balik karya tetap terlihat, seolah-olah burung-burung tersebut tidak hanya berkumpul di dalam ruang, tetapi juga ikut menyusun pengalaman dan memori di dalam tubuh pengunjung.
Dalam momen ini, pengunjung tidak lagi berada di luar karya, melainkan menjadi ruang di mana “perkumpulan” itu terjadi.
Karya Aristya Purnama dengan judul “Saat Ini dan Hari Ini” merupakan gambaran kondisi baik dan buruk yg terjadi di seputaran lingkungan terkhususnya di Bali. Alam yang seharusnya diagungkan, dijaga, dan dipelihara menjadi terbalik bangunan yang tidak tertata semrawut dan hanya menguntungkan manusia sepihak saja yg dipelihara dengan sangat baik.
Perjalanan dalam tajuk danu umbara kemarin membuat saya menyadari lingkungan kita itu indah, sangat indah tapi tidak dengan kotanya yang tidak terjaga, dan semrawut
Karya Giri Arnaga dengan judul “Simfoni Laju Api” sebagai penghormatan bagi mereka yang berbeda namun berderap searah; sebuah pembuktian bahwa dari beragam anomali, lahir sebuah simfoni yang berdampak.
Karya Candra Astuti, ilustrator yang tumbuh besar dengan kuas dan pensil menyajikan karya berjudul “Motion of Memories”. Karya ini menjadi kenangan perjalanan yang terukir di memori yang membentuk diri di hari ini.
Lukisan ini imajinasi tercipta dari pengalaman personal yang menggambarkan lokasi dan objek melambangkan pelajaran pengalaman itu sendiri membentuk diri, hingga menjadi diri yang sekarang. Segala yang sudah dialami mungkin tidak dapat di ulang kembali, tapi dapat melukis dan mengenang kembali dalam bentuk yang lebih indah.
Karya Deta Artista dengan judul “Episentrum Hangat” merupakan sebuah diorama memori personal yang membekukan momen kehangatan sosial di tepian Danau Buyan ke dalam media kayu bundar, di mana serat alaminya hadir sebagai saksi bisu atas ketulusan jejak masa lalu.
Melalui medium cat akrilik, narasi visual ini mentransformasikan sosok anak-anak lokal yang ramah menjadi empat karakter babi kecil imajinatif: sang fotografer yang membingkai waktu, sang pelukis menangkap jiwa alam, serta sepasang babi yang bermain riang di hamparan rumput.
Di pusat komposisi, secangkir kopi hadir sebagai episentrum rasa; uapnya yang membubung membawa ruh keramahan anak-anak sekitar yang mampu membasuh dinginnya udara pegunungan.
Latte art di atasnya dimaknai sebagai puncak estetika dari sebuah perjumpaan—layaknya tuangan susu yang presisi di atas kepekatan kopi, ia adalah harmoni yang terbentuk dari pertemuan dua dunia berbeda yang melebur menjadi satu visual yang indah, hangat, dan membekas di hati.
Karya Karin Puspitasari berjudul “This is Celebration!” menceritakan pengalaman menonton idola masa kecil secara langsung terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Perupa bertemu dengan jiwa-jiwa dari berbagai generasi, saling berbagi cerita, meski latar belakang beragam. Semua hadir di hari itu dengan satu denyut hati yang sama: merayakan keindahan musik yang menyatukan mereka.
Karya Rini Widariyanti berjudul “MELESAT”. Karya ini terinspirasi dari karakteristik kuda hitam sebagai karakter yang tidak diunggulkan dan dianggap lemah khususnya dalam dunia pacuan kuda, tetapi menjadi pemenang.
Lukisan menampilkan tarikan garis yang ekspresif dengan ketebalan dan variasi arah, menciptakan komposisi dengan kesan dinamis dan dalam. Kombinasi warna hitam dan merah memiliki makna kekuatan ,keberanian serta tekad yang membara untuk menjadi pemenang sejati. Seperti kuda hitam yang melesat tak terduga meraih kemenangan yang cemerlang.
Karya Teratai Api, pencerita visual menyajikan karya berjudul “Aliran Hidup” bercerita tentang bagaimana dua manusia yang memutuskan untuk mengalir dalam perjalanan hidup baru mereka. Perjalanan di mana warna-warna yang beraneka ragam mengalir dalam ikatan mereka.
Karya Ni Kadek Novi Sumariani berjudul “Kita Mekar Bersama”, pengalaman seperti kuda yang melangkah tanpa ragu, perjalanan ini dimulai dari satu arah yang sunyi. Hingga suatu hari, dua langkah bertemu, tumbuh bersama, dan mekar seperti lotus dalam satu janji.
Karya I Wayan Ady Surya Pratama berjudul ”Dari Bara ke Langit” merepresentasikan energi yang lahir dari kedalaman, dari tekanan, panas, dan retakan yang membentuknya. Sosok kuda hadir bukan sebagai bentuk literal, melainkan sebagai simbol kekuatan yang bergerak—mendorong diri keluar dari kehancuran menuju ruang yang lebih tinggi.
Karya Tridana Putera berjudul “Wana Prabha” mengisahkan diri sebagai pengembara yang mencari cahaya di dalam hutan, namun tetap sadar bahwa cahaya itu sudah ada di depan. Sama seperti sebagai manusia ingin mencari sinar jati diri, namun tak sadar sinar itu ada didiri sendiri.
Karya Ugi Gayali (UGY) berjudul “Fragmen Sulur” representasi visual dari memori perjalanan ketubuhan yang dinamis, di mana tubuh secara konsisten bernegosiasi dan beradaptasi dengan setiap ruang yang disinggahinya.
Melalui interpretasi gurat garis yang destruktif, karya ini menyimbolkan interaksi intens antara objek material dan pengalaman ragawi, yang menghasilkan distorsi bentuk sebagai cerminan residu emosional.
Jejak-jejak garis tersebut menjadi rekaman sensorik atas pertemuan tubuh dengan lingkungannya, menegaskan bahwa identitas manusia selalu bertumbuh dan berubah melalui setiap benturan dalam ritme perjalanan.
Talkshow dan apresiasi seni
Pembukaan “Arka Umbara” dikemas sangat akrab dengan talkshow dan apresiasi seni. Talk Show Tentang Karya dan Dampak Negatif konsumerisme berlebihan Bagi Lingkungan. Mula-mula membahas karya yang dipamerakan dan soal konsumerisme berlebihan.
Saat membahas karya seni diisi oleh 6 seniman yang menjadi perwakilan. Sedangkan talk show konsumerisme berlebihan diisi oleh tokoh yang membahas dampak konsumerisme berlebihan bagi lingkungan, dimana hasil dari konsumerisme berlebihan adalah sampah yang melimpah.
Salah satu seniman, Prangga Wardana menjelaskan tentang tema dari pameran “Arka Umbara” yang berangkat dari pameran sebelumnya, Kules: Kriya Patra. Pameran ini menekankan transformasi gagasan akademik menjadi karya visual yang lebih segar.
Namun, Jongsarad kini memasuki babak baru, Umbara adalah langkah keluar menuju perjalanan yang lebih luas, tempat para seniman menatap kembali jejak yang telah dilalui sekaligus membuka ruang bagi pengalaman baru.
Pameran ini terinspirasi dari tahun Kuda Api, Umbara memaknai energi, pergerakan, dan transformasi sebagai dorongan utama dalam perjalanan kreatif. Kuda Api melambangkan dinamika batin yang terus bergerak, melampaui batas lama, dan mencari arah yang lebih baik.
“Semangat inilah yang menghidupkan Pameran Arka Umbara, menghadirkan karya-karya yang bersumber dari perjalanan seniman Jongsarad baik secara kolektif maupun soliter, dengan semua ketidakpastian dan kejutan yang justru menjadi hadiah dari proses panjang tersebut,” ucapnya.
Melalui lukisan, patung, instalasi, dan berbagai eksplorasi visual lainnya, Umbara menjadi ruang kembali. Sebuah tempat untuk menuturkan ulang apa yang pernah ditempuh, memahami bagaimana perjalanan membentuk dan mengubah, serta merayakan energi yang menggerakkan langkah berikutnya.
Kelanjutan dari pameran Arka Umbara dengan acara Film Screening oleh Luar Kotak Studio yang mengajak audiens untuk membahas isu sosial dan budaya Bali. Para peserta mempelajari teknik pembuatan motif alami menggunakan daun dan bunga, yang kemudian dicetak pada media kertas atau kain.
Komunitas Lintas Bidang Seni
Jongsarad adalah kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Datang dari latar belakang artistik yang beragam, Jongsarad tumbuh sebagai ruang bersama untuk bereksperimen, berdialog, dan merangkai karya yang melintas medium maupun disiplin.
Nama “Jongsarad” terinspirasi dari salah satu nama lintang dalam tradisi Bali. Secara makna, Jongsarad dibayangkan sebagai sebuah kapal yang bermuatan lebih. Bukan sekadar beban, melainkan limpahan kreativitas, gagasan, dan rasa.
Kapal ini berlayar dari satu persinggahan ke persinggahan lain, membagikan keindahan di setiap ruang yang disinggahi, sambil terus melintasi lautan proses untuk menemukan bentuk keindahan baru di ujung samudra.
Melalui pameran, proyek kolaboratif, hingga eksplorasi visual dan naratif, Jongsarad memposisikan diri sebagai wahana perjalanan bersama. Tempat di mana perbedaan medium dan latar belakang dipertemukan, diolah, lalu dihadirkan kembali sebagai pengalaman artistik yang hangat, penuh pencarian, dan terus bergerak. [darma]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali