Pameran Garbha Wedana di Simple Mind Art Space Kuta: Menelusuri Kisah Sebelum Kelahiran
Dyurupa pamerkan Garbha Wedana di di Simple Mind Art Space, Old Table Kuta/Foto: dar
GARBHA WEDANA: A Story Before It Begins menjadi pameran perdana Dyurupa, sebuah komunitas seniman rupa yang berbasis di Bali. Pameran ini melibatkan 20 perupa muda Bali dan berlangsung di Simple Mind Art Space, Old Table (eks Simple Mind Artspace), lantai dua, Kuta, Badung, Bali. Pameran dibuka oleh muralis Dwymabim pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dan berlangsung hingga 10 November 2026.
Pameran ini bukan sekadar ajang menampilkan karya seni, tetapi juga menjadi ruang bagi para seniman untuk berbagi gagasan dan merayakan kreativitas. Sore itu, para seniman dan pengunjung berkumpul di Old Table sebelum naik ke ruang pameran di lantai dua.
Sambil menikmati kopi, teh, dan kudapan, mereka berbincang santai tentang seni dan pengalaman berkarya. Suasana akrab tersebut menjadi bagian dari pertemuan para perupa muda yang ingin saling mengenal dan berbagi pandangan melalui seni.
Di ruang pameran, pengunjung dapat melihat 20 karya dari 20 seniman dengan beragam bentuk, ukuran, dan medium. Ada karya yang dipajang di dinding, digantung pada tiang, hingga karya instalasi yang menarik perhatian. Meski memiliki pendekatan berbeda, seluruh karya tersebut terhubung melalui tema besar Garbha Wedana, yaitu tentang sesuatu yang terjadi sebelum kelahiran.
Perupa sekaligus penulis pengantar pameran, I Wayan Suma Bagia, mengatakan bahwa hal menarik dari pameran ini adalah cara setiap seniman memaknai ruang sebelum kelahiran. Berbagai pengalaman, emosi, simbol, dan pemikiran dituangkan ke dalam karya dengan cara yang berbeda.
“Mari kita kembali ke titik nol dan meresapi Garbha Wedana,” ajaknya.
Menurut Suma Bagia, para seniman mencoba membayangkan apa yang terjadi sebelum sebuah gagasan menjadi nyata. Karya-karya yang ditampilkan bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan ajakan bagi pengunjung untuk memikirkan proses yang mendahului lahirnya sesuatu.
“Karya-karya di ruang ini bukanlah muara akhir dari sebuah narasi, melainkan undangan terbuka bagi penikmatnya untuk merenung bahwa jangan-jangan bagian paling penting dari sebuah cerita justru terjadi tepat sebelum cerita itu dimulai?” ungkapnya.
Sebagian peserta merupakan anggota Dyurupa, sedangkan lainnya adalah seniman yang diundang secara khusus. Mereka menghadirkan karya dengan tema, sudut pandang, dan media yang beragam.
Beragam Cerita tentang Asal Mula
Setiap seniman memiliki cara sendiri untuk memaknai tema kelahiran dan penciptaan. Ajung atau Nilam Biru, misalnya, mengangkat cerita rakyat Timun Mas melalui sosok ibu Timun Mas.
Aristya Purnama menghadirkan Episode 0, yang membahas bencana dan anugerah serta kaitannya dengan nafsu. Sementara itu, Tridanapvtera memandang cinta sebagai asal mula penciptaan.
Ciggy mempertanyakan apakah kelahiran manusia merupakan sebuah berkah atau justru kesialan bagi individu yang mengalaminya. Ugi Gayali melihat proses menuju kelahiran sebagai zona antara, sedangkan Giri Arnaga mengangkat kisah awal penciptaan manusia.
Beberapa seniman memilih menggunakan simbol alam dan kehidupan. Cartdz dan Yubin menghadirkan burung sebagai pembawa benih sekaligus simbol awal kehidupan. Con mengangkat simbol tangan yang tampak hidup di antara sosok-sosok tubuh yang gelap dan samar.
I Wayan Ady Surya Pratama menggunakan unsur akar, air, daun, kristal, dan lumut untuk menggambarkan bentuk-bentuk yang menyerupai organisme, tetapi belum menjadi sosok yang utuh.
Prangga Wardana mengangkat Catur Muka, yang berkaitan dengan Dewa Brahma sebagai dewa penciptaan sekaligus ikon Kota Denpasar. Putu Winata menghadirkan Jatiluwih melalui pendekatan artistik yang baru.
Sementara itu, Sri mengangkat Catur Sanak sebagai pembimbing spiritual dalam proses menuju kelahiran. Windu Septayana membahas ketidaksempurnaan dalam proses kelahiran sebagai bagian dari perjalanan seseorang untuk menemukan jati dirinya.
Suma Bagia juga melihat adanya karya-karya yang berangkat dari pengalaman pribadi para seniman.
Anik Argianti, Karin Puspitasari, dan Kendisan mengangkat proses yang mereka alami sebelum menciptakan sebuah karya. Ichalecir dan Novi Sumariani bercerita tentang fase kehidupan yang membawa mereka pada pengalaman seperti terlahir kembali.
Teratai Api menghadirkan kisah yang lebih personal melalui pengalaman kelahirannya sendiri, yang berkaitan dengan trauma dan kepedihan yang dialami ibunya selama masa kehamilan.
Beragam karya tersebut menunjukkan bahwa tema kelahiran tidak hanya berkaitan dengan proses biologis. Kelahiran juga dapat dimaknai sebagai awal perubahan, perjalanan batin, serta munculnya gagasan dan pengalaman baru.
Berangkat dari Tradisi Kelahiran

Ketua panitia pameran, Prangga Wardana, mengatakan bahwa Garbha Wedana menjadi langkah awal Dyurupa untuk membangun ruang kreatif yang terbuka dan terus berkembang. Melalui pameran ini, para seniman dapat bertemu, bertukar gagasan, dan mengembangkan cara berkarya masing-masing.
“Melalui tema A Story Before It Begins, Garbha Wedana mengangkat gagasan tentang fase sebelum kelahiran, bukan hanya sebagai proses biologis, tetapi sebagai ruang tempat sesuatu tumbuh, dipersiapkan, dirawat, dan perlahan menemukan bentuknya,” ujarnya.
Gagasan pameran ini berangkat dari tradisi Hindu Bali, khususnya Magedong-gedongan, sebuah ritual yang berkaitan dengan kehidupan bayi di dalam kandungan. Dalam tradisi tersebut, masa kehamilan tidak hanya dipandang sebagai proses biologis, tetapi juga sebagai fase penting untuk menjaga dan mempersiapkan kehidupan sebelum bayi lahir ke dunia.
Pameran ini juga mengambil inspirasi dari tradisi Mitoni atau Tingkeban dalam budaya Jawa, yaitu upacara yang berkaitan dengan masa kehamilan. Kedua tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat memaknai masa sebelum kelahiran melalui doa, persiapan, harapan, dan berbagai bentuk perhatian terhadap kehidupan yang akan hadir.
Dalam konteks seni, gagasan tersebut kemudian dihubungkan dengan proses penciptaan karya. Sebelum menjadi sebuah karya, sebuah gagasan juga membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berkembang. Gagasan dapat muncul dari pengalaman, ingatan, kegelisahan, atau percobaan yang belum memiliki bentuk jelas.
Proses itu kemudian berlanjut melalui berbagai tahap, mulai dari mencari ide, mencoba, mengalami keraguan, hingga menemukan bentuk yang sesuai.
“Pameran ini tidak hanya berbicara mengenai apa yang telah lahir, tetapi juga mengenai apa yang terjadi sebelum kelahiran itu sendiri,” kata Prangga.
Karya sebagai Ruang Tumbuhnya Gagasan
Sebanyak 20 seniman menghadirkan karya lukisan dan instalasi dengan beragam material serta pendekatan visual. Setiap karya memiliki cerita dan pemaknaan tersendiri tentang proses sebelum kelahiran.
Ada seniman yang membahas asal mula kehidupan, ada yang mengangkat pengalaman pribadi, dan ada pula yang mengeksplorasi bentuk-bentuk alam sebagai simbol penciptaan.
Karya-karya tersebut tidak hanya memperlihatkan hasil akhir, tetapi juga mengajak pengunjung membayangkan proses yang terjadi sebelumnya. Sebagaimana kehidupan tumbuh di dalam kandungan, sebuah gagasan juga membutuhkan ruang untuk berkembang sebelum akhirnya menemukan bentuk.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak melihat seni bukan hanya dari apa yang tampak, tetapi juga dari cerita, pengalaman, dan pemikiran yang melatarbelakanginya.
Episode Nol bagi Dyurupa
Ketua Umum Dyurupa, Aristya Purnama, mengatakan bahwa jika perjalanan kreatif Dyurupa diibaratkan sebagai sebuah cerita berseri, Garbha Wedana bukanlah episode pertama, melainkan episode nol.
Episode nol merupakan bagian sebelum cerita dimulai, ketika gagasan masih berkembang dan berbagai kemungkinan masih terbuka. Gagasan inilah yang menjadi dasar pameran A Story Before It Begins.
Bagi Dyurupa, pameran ini bukan tentang sesuatu yang telah selesai, melainkan tentang proses, gagasan, dan kemungkinan yang masih terus tumbuh. Pameran tersebut sekaligus menjadi langkah awal komunitas ini dalam membangun perjalanan kreatif bersama.
Aristya menjelaskan bahwa Dyurupa merupakan komunitas seniman rupa di Bali yang dibangun atas semangat untuk berkembang bersama dalam lingkungan yang terbuka dan saling mendukung.
Komunitas ini terinspirasi oleh prinsip agroforestri, yaitu sistem yang menggabungkan berbagai unsur untuk membentuk lingkungan yang saling mendukung dan berkelanjutan. Prinsip tersebut diterapkan dalam kegiatan berkarya, berdiskusi, dan menyusun program seni.
Setiap anggota Dyurupa memiliki latar belakang, gaya, dan pendekatan artistik yang berbeda. Namun, perbedaan itu justru menjadi kekuatan untuk saling belajar dan membuka peluang berkarya yang lebih luas.
Bagi Dyurupa, hutan menjadi simbol keberagaman, keterhubungan, dan keseimbangan. Seperti berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh bersama dalam satu ekosistem, para seniman juga diharapkan dapat berkembang tanpa harus kehilangan karakter masing-masing.
“Melalui pameran, kolaborasi, dan berbagai inisiatif kreatif, Dyurupa berupaya menghadirkan ruang seni yang dinamis, relevan, dan mampu membangun hubungan yang lebih luas antara seniman, karya, ruang, dan publik,” ujar Aristya.
Melalui Garbha Wedana: A Story Before It Begins, Dyurupa memperkenalkan diri sekaligus menawarkan cara pandang tentang proses penciptaan. Sebuah karya tidak hadir begitu saja, tetapi melalui perjalanan yang melibatkan gagasan, pengalaman, dan berbagai kemungkinan.
Seperti kehidupan yang tumbuh sebelum dilahirkan, sebuah karya seni juga membutuhkan waktu dan ruang untuk berkembang. Di situlah Garbha Wedana menemukan maknanya: mengajak kita melihat bahwa sebelum sesuatu hadir dan dikenal, selalu ada proses panjang yang berlangsung di baliknya. [dar]

Balihbalihan merupakan website yang membahas seputar informasi pariwisata dan seni budaya di Bali